Lupa Kata Sandi? Klik di Sini

atau Masuk melalui

Belum Memiliki Akun Daftar di Sini


atau Daftar melalui

Sudah Memiliki Akun Masuk di Sini

Konfirmasi Email

Kami telah mengirimkan link aktivasi melalui email ke rudihamdani@gmail.com.

Klik link aktivasi dan dapatkan akses membaca 2 artikel gratis non Laput di koran dan Majalah Tempo

Jika Anda tidak menerima email,
Kirimkan Lagi Sekarang

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesilat Pagar Nusa Purbalingga Meninggal karena Atraksinya Gagal?

Rabu, 11 September 2019 20:02 WIB

[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pesilat Pagar Nusa Purbalingga Meninggal karena Atraksinya Gagal?

Informasi yang menyebut bahwa seorang pesilat Pagar Nusa Purbalingga meninggal usai melakukan atraksi viral di media sosial Facebook. Informasi itu diunggah oleh akun Angelia Dian Putri pada Rabu, 4 September 2019. Menurut unggahan itu, pesilat tersebut tewas usai melakukan atraksi pemecahan batu bata di atas kepala menggunakan palu.

Unggahan itu dilengkapi dengan video berdurasi 13 detik yang memperlihatkan momen berlangsungnya atraksi pemecahan batu bata di atas kepala seorang remaja perempuan. Di akhir video, remaja perempuan itu terlihat dipapah oleh beberapa pria.

Gambar tangkapan layar unggahan sebuah akun Facebook tentang meninggalnya pesilat Pagar Nusa setelah atraksi.

Selain video, unggahan itu juga dilengkapi dengan gambar berisi ucapan duka dari Pimpinan Cabang Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Kabupaten Purbalingga atas meninggalnya seseorang yang bernama Syafrila Nugrahani pada 2 April 2019. 

Akun itu pun menuliskan narasi yang mengaitkan peristiwa dalam video dengan ucapan duka tersebut. “Akhirnya meninggal saudara, membuktikan bahwa kepala fungsinya buat mikir, bukan untuk dipalu, nyalahi kodrat (Pagarnusa Indonesia Kabupaten Purbalingga)."

Hingga kini, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 62 ribu kali.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, Pagar Nusa Indonesia memang pernah mengunggah gambar berisi ucapan duka atas meninggalnya seorang remaja perempuan bernama Syafrila Nugrahani pada 12 Juli 2019 di akun Instagramnya, @pagarnusaindonesia.

Namun, ucapan duka itu ditujukan untuk mengenang seratus hari wafatnya Syafrila yang merupakan salah satu srikandi Pagar Nusa yang meninggal pada 2 April 2019.

Tempo juga menemukan video atraksi pemecahan batu bata di atas kepala itu diunggah pertama kali di YouTube salah satunya oleh akun Asepp Kencleng. Video itu diunggah pada 25 Agustus 2019 dengan judul “Tragis Kepala Bocor Atraksi Pagar Nusa”.

Tempo tidak menemukan adanya akun lain yang membagikan video tersebut sebelum 25 Agustus 2019.Artinya, ada ketidaksesuaian antara waktu meninggalnya Syafrila dengan waktu diunggahnya video itu pertama kali di YouTube. Syafrila meninggal sebelum video itu beredar.

Untuk memperkuat dugaan ini, Tempo menelusuri laman Pagar Nusa Indonesia di Facebook. Di laman tersebut, terdapat klarifikasi dari Pagar Nusa Purbalingga pada 27 Agustus 2019 yang menyebutkan bahwa Syafrila Nugrahani bukanlah srikandi Pagar Nusa yang ada dalam video atraksi pemecahan batu bata di atas kepala.

Pagar Nusa Purbalingga pun menyatakan, “Almarhumah meninggal karena kecelakaan sepeda motor pada 2 April 2019."

Gambar tangkapan layar unggahan Pagar Nusa Indonesia yang mengklarifikasi isu meninggalnya pesilat Pagar Nusa Purbalingga setelah atraksi.

Tempo juga menelusuri pemberitaan media arus utama tentang viralnya video ini. Dikutip dari Tribunnews.com, Ketua Pagar Nusa Kabupaten Purbalingga, Muhammad Abdul Kholiq Mukhlis, memastikan atraksi tersebut tidak dilakukan oleh perguruan silat Pagar Nusa di wilayah Kabupaten Purbalingga.

"Dari informasi yang kami terima, atraksi itu dilakukan di luar daerah untuk menyemarakkan peringatan HUT RI pada Agustus 2019 lalu," kata Abdul Kholiq kepada Tribunnews.com pada Jumat, 6 September 2019.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa unggahan akun Angelia Dian Putri di Facebook yang menyebutkan bahwa seorang pesilat Pagar Nusa Purbalingga meninggal usai melakukan atraksi adalah sesat. Akun itu menggabungkan dua peristiwa yang berbeda dengan narasi yang keliru.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id