[Fakta atau Hoaks] Benarkah Vatikan Mendukung Referendum Papua?

Senin, 9 September 2019 13:55 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Vatikan Mendukung Referendum Papua?

Isu tentang Vatikan mendukung referendum Papua beredar di media sosial dalam beberapa hari terakhir. Informasi itu muncul usai kerusuhan meletus di sejumlah wilayah di Papua menyusul unjuk rasa yang menolak tindakan rasis terhadap orang Papua.

Informasi yang beredar itu merupakan salah satu artikel dari blog Potret Anak Melanesia yang berjudul "Negara Vatikan Mendukung Referendum di Papua".

Artikel itu dilengkapi dengan foto Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, Antonius Agus Sriyono, yang tengah berbicara dengan seorang uskup. Di belakang uskup itu, ada sebuah bendera Bintang Kejora berukuran kecil.

Gambar tangkapan layar artikel di blog Potret Anak Melanesia tentang Vatikan mendukung referendum Papua.

Dalam artikel yang disebut bersumber dari Kribo.com itu juga tertulis bahwa pelanggaran HAM bagi orang asli Papua terus-menerus berlanjut tanpa adanya upaya penghentian kekerasan tersebut. "Diharapkan Vatikan mendorong adanya penyelesaian secara tuntas dan melakukan referendum."

Di akhir artikel, penulis yang tidak mencantumkan namanya ini juga menyebut, "Apapun langkah pemerintah Indonesia, tidak mungkin mematikan, memusnahkan, menghapuskan perjuangan harga diri bangsa West Papua. Sekarang waktunya Indonesia harus mengakui bahwa saatnya Papua harus lepas dari NKRI."

PEMERIKSAAN FAKTA

Tim CekFakta Tempo menelusuri situs Kribo.com yang disebut sebagai sumber artikel itu. Namun, situs tersebut tidak aktif. Artikel itu juga merupakan artikel lawas yang diunggah pada 7 Maret 2016.

Berdasarkan penelusuran terhadap foto dalam artikel itu dengan Google Reverse Image Search, ditemukan foto yang sama yang pernah diunggah sebelumnya, yakni pada 25 Februari 2016, oleh situs Detik.com.

Gambar tangkapan layar berita di situs Detik.com terkait pertemuan Duta Besar Indonesia di Vatikan dengan Menteri Luar Negeri Vatikan.

Dalam foto di laman Detik.com, juga tidak terdapat bendera Bintang Kejora di belakang uskup seperti yang terlihat dalam foto yang diunggah di blog Potret Anak Melanesia. Artinya, foto di blog itu merupakan hasil suntingan.

Berita dalam situs Detik.com yang memuat foto itu juga tidak berisi tentang dukungan Vantikan terhadap referendum Papua. Berita itu berjudul "Terima Dubes RI, Menlu Vatikan: Gerakan LGBT Dosa".

Dalam berita itu disebutkan bahwa Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, Antonius Agus Sriyono, sedang diterima oleh Menteri Luar Negeri Vatikan, Mgr. Paul Richard Gallagher, di kantor Sekretariat Negara Vatikan. Saat itu, keduanya membahas isu lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT).

Gallagher mengatakan bahwa Vatikan memandang LGBT dari dua sisi, yakni sebagai orientasi seksual dan sebagai gerakan. "Dari aspek orientasi seksual, kita perlu menghargai hak-hak pribadi mereka sebagai manusia dan hal ini perlu diupayakan proses 'penyembuhan'," kata Gallagher seperti dikutip dari rilis yang diterima Detik.com pada Kamis, 25 Februari 2016.

"Dari aspek gerakan, hal tersebut bertentangan dengan ajaran gereja, di mana Gereja Katolik mengkategorikannya sebagai dosa," ujar Gallagher.

Berita yang sama pun pernah dimuat oleh situs Republika.co.id dengan judul "Bertemu Dubes RI, Ini Pendapat Vatikan tentang LGBT" pada 26 Februari 2016.

Berita itu menyebutkan bahwa Duta Besar Indonesia untuk Tahta Suci Vatikan, Antonius Agus Sriyono, bertemu dengan Menteri Luar Negeri Vatikan Mgr. Paul Richard Gallagher pada Rabu, 24 Februari 2016.

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit itu, mereka membahas berbagai isu, mulai dari Interfaith Dialogue, Asian Youth Day 2017, Kemerdekaan Palestina, Papua, hingga LGBT.

KESIMPULAN

Pemeriksaan fakta di atas menunjukkan bahwa informasi dari blog Potret Anak Melanesia tentang Vatikan mendukung referendum Papua adalah keliru. Situs yang disebut sebagai sumber artikel itu tidak aktif. Selain itu, foto yang diunggah di blog itu merupakan hasil suntingan. Berita asli yang memuat foto itu pun tidak berisi tentang dukungan Vantikan terhadap referendum Papua.

ANGELINA ANJAR SAWITRI