[Fakta atau Hoaks] Benarkah Indonesia mengalami deindustrialisasi seperti dinyatakan Calon Presiden Prabowo Subianto?

Sabtu, 13 April 2019 20:49 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Indonesia mengalami deindustrialisasi seperti dinyatakan Calon Presiden Prabowo Subianto?

Calon Presiden Prabowo Subianto menyatakan  ekonomi Indonesia berada dalam deindustrialisasi, tidak memproduksi apa-apa, hanya menerima bahan produksi dari negara lain. Pernyataan ini disampaikan pada debat presiden kelima, 13 April 2019.

Klarifikasi:
Deindustrialisasi adalah proses kebalikan dari industrialisasi yaitu penurunan kontribusi sektor manufaktur alias industri pengolahan nonmigas terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Pada 22 November 2018, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro mengatakan saat ini Indonesia tengah mengalami deindustrialisasi prematur.

Ini terjadi lantaran porsi manufaktur di dalam Produk Domestik Bruto (PDB) kian mengempis sebelum benar-benar mencapai puncaknya.

Bambang mengatakan Indonesia pernah disebut sebagai negara industri karena porsi manufaktur dalam PDB mencapai 30 persen. Namun, kontribusi industri tersebut kini kian menyusut.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) kuartal III 2018 bahkan menunjukkan porsi industri manufaktur tercatat sebesar 19,66 persen terhadap PDB. Pertumbuhan industri manufaktur hanya 4,33 persen, atau lebih rendah dibanding pertumbuhan ekonomi 5,17 persen.

"Indonesia belum berhasil reindustrialisasi, tapi yang terjadi adalah deindustrialisasi prematur. Dulu sempat kontribusi industri mencapai 30 persen terhadap PDB, tapi kini tercatat 20 persen saja meski memang porsinya masih paling besar," kata Bambang, Kamis (22/11/2019).

Kesimpulan: Sebagian benar.

Berdasarkan semua sumber yang secara publik bisa diakses, sebagian pernyataan itu benar.

 

  •