Keliru, Video Australia Tembaki Nelayan NTT pada 2022

Senin, 31 Oktober 2022 17:11 WIB

Keliru, Video Australia Tembaki Nelayan NTT pada 2022

Sebuah akun di media sosial Facebook mengunggah video berjudul Sasar Warga Sipil, Australia Tembaki Nelayan NTT Tanpa Ampun. Video berdurasi 7:06 tersebut memuat gambar armada kapal perang, Perdana Menteri Australia dan Presiden Joko Widodo.

Hingga artikel ini diturunkan, video sudah sukai 3,2 akun dan 289 ribu kali tayang. Narator video yang diunggah 24 Oktober 2022 itu menyampaikan, Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdi Tanoni minta Pemerintah Indonesia membatalkan seluruh perjanjian antara Indonesia dan Australia di Laut Timor. 

Tangkapan layar unggahan video yang beredar di Facebook tentang nelayan NTT yang ditembaki oleh Angkatan Laut Australia

Benarkah isi video tersebut?

PEMERIKSAAN FAKTA

Hasil verifikasi Tempo menunjukkan kolase video tersebut bukan tentang peristiwa Australia menembaki nelayan Nusa Tenggara Timur (NTT). Potongan video yang menampakkan perahu-perahu terbakar itu terjadi di luar wilayah Indonesia.

Menelusuri potongan video tersebut, Tempo menggunakan InVID untuk memfragmentasi video menjadi gambar. Dari gambar-gambar kemudian dicek dengan reverse image tool milik Google, Yandex, dan Bing. Berikut adalah fakta-faktanya:

Video 1

Fragmen 1

Fragmen pada detik ke-13, menampakkan sebuah kapal tempur menembakkan senjata. Potongan video ini identik dengan video yang diunggah di situs military.com pada 3 Maret 2016 berjudul, A mash-up video of different U.S. Naval Ships firing the Close-In Weapon System (CIWS).  

Pada bagian video tersebut adalah saat kapal Angkatan Laut Amerika Serikat berlatih di Laut Cina Selatan pada 28 Januari 2016. 

Video 2

Fragmen 2

Beberapa kali potongan video perahu diledakkan ini muncul. Tempo memperoleh petunjuk, video serupa pernah diunggah di akun YouTube dengan judul Russian sailors shot the somali pirates pada 25 Desember Oktober 2010. 

Akun tersebut memberikan keterangan, video tersebut saat Angkatan Laut Rusia menembakkan senjata ke kapal-kapal perompak dari Somalia.   

Video 3

Fragmen 3

Pada menit ke-5:40 yang memperlihatkan tiga perahu terbakar, identik dengan foto yang diunggah di situs qz.com pada 15 Juni 2015 berjudul A small Pacific island caught foreign fishing boats trespassing—so it burned them at sea. 

Peristiwa itu terjadi saat polisi di Palau, sebuah negara kecil di Mikronesia, menangkap dan membakar empat kapal penangkap ikan ilegal dari Vietnam. Sejak 2014, otoritas Palau melarang penangkapan ikan komersial demi menjaga konservasi laut.

Video 4

Fragmen 4

Potongan video pada menit ke-1:30 ini, adalah saat pertemuan bilateral antara Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Australia, Bangkok, 4 November 2019. 

Video ini dimuat di kanal YouTube Sekretariat Presiden pada 4 November 2019.

Narasi video

Hasil penelusuran Tim Cek Fakta Tempo, narasi yang dibacakan oleh narator video di atas adalah artikel yang dimuat oleh situs mediaindonesia.com pada 8 November 2021 berjudul Australia Bakar Kapal Nelayan, YPTB Minta RI Batalkan Perjanjian Laut Timor. 

Artikel itu menulis tentang permintaan Ketua Yayasan Peduli Timor Barat (YPTB) Ferdi Tanoni kepada Pemerintah Indonesia untuk membatalkan seluruh perjanjian antara Indonesia dan Australia di Laut Timor. Desakan dari yayasan yang konsen menyuarakan hak-hak rakyat Nusa Tenggara Timur (NTT) di Laut Timor itu lantaran Australia semakin represif terhadap nelayan Indonesia.

Saat itu, Australia Border Force (ABF) membakar tiga kapal nelayan Indonesia yang menangkap ikan di perairan Laut Timor dengan tuduhan menangkap ikan secara ilegal. 

KESIMPULAN

Dari hasil pemeriksaan fakta video, video Australia Tembaki Nelayan NTT pada 2022 adalah keliru.

Video yang menampakkan perahu-perahu terbakar itu adalah saat Angkatan Laut Rusia menembakkan senjata ke kapal-kapal perompak dari Somalia pada 2010. Serta dan saat polisi di Palau, sebuah negara kecil di Mikronesia, menangkap dan membakar empat kapal penangkap ikan ilegal dari Vietnam pada 2015.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id