Keliru, Malaysia Tak Lagi Jadi Negara Persemakmuran Inggris

Jumat, 16 September 2022 20:18 WIB

Keliru, Malaysia Tak Lagi Jadi Negara Persemakmuran Inggris

Salah satu akun di Facebook mengunggah video dengan narasi bahwa Malaysia tak lagi menjadi negara persemakmuran Inggris. Video berdurasi berdurasi 6.46 menit itu diberi judul Hebohkan Dunia!! Gara-Gara Ini Inggris Tarik Kemerdekaan Malaysia, Inggris Sebut Malaysia Tak Lagi Jadi Negara Persemakmurannya.

Video tersebut menampilkan beberapa sosok Raja Malaysia dan Ratu Inggris dalam berbagai kesempatan. Narator video tersebut mengatakan bahwa belum sepenuhnya merdeka, Malaysia harus mau tanah negaranya disewa Inggris selama 999 Tahun.

Tangkapan layar video yang beredar di Facebook dengan narasi Inggris tak lagi sebut Malaysia sebagai negara persemakmuran

Hingga berita ini diturunkan, video ini mendapat 3,7 ribu like sejak diunggah pada 23 Februari 2022.

Benarkah Inggris tak lagi sebut Malaysia menjadi negara persemakmuran?

PEMERIKSAAN FAKTA

Hasil verifikasi Tempo menunjukkan, hingga artikel ini diturunkan, Malaysia masih menjadi negara persemakmuran Inggris. Tidak ada pernyataan dari Inggris bahwa Malaysia bukan lagi bagian dari persemakmuran mereka.

Dalam situs The Commonwealth, negara Malaysia menjadi salah satu negara persemakmuran Inggris bersama 55 negara lainnya. Dikutip dari CNN Indonesia Riwayat tersebut dimulai saat Inggris menjajah Malaysia yang saat itu bernama Malaka pada 1824. Malaysia memproklamirkan kemerdekaan pada 20 Februari 1956, kemudian bergabung dengan Persemakmuran Inggris pada 1957.

Sementara dalam video yang dibagikan di medsos tersebut, tidak terkait dengan keluarnya Malaysia sebagai negara persemakmuran Inggris.  

Untuk menelusuri fakta video tersebut, Tim Cek Fakta Tempo memfragmentasi video dan melakukan pemeriksaan dengan bantuan Yandex Image Search, mesin pencarian Google dan Youtube. Berikut hasil verifikasi Tempo:

Video 1

Potongan video 1

Fakta: Video pada detik ke 0.01 dan menit ke 2.53 ini pernah diunggah oleh akun YouTube Associated Press pada 27 Oktober 2021 berjudul Queen Elizabeth II won't attend COP26 in person

Ratu Elizabeth II telah membatalkan kehadirannya yang direncanakan pada konferensi iklim PBB di Glasgow setelah menerima saran dokter untuk beristirahat.

Video 2

Potongan video 2

Fakta: Pada detik 0.12, video yang sama pernah diunggah oleh akun Youtube The Star pada 18 Mei 2020 dengan judul ‘Full speech: King’s Royal Address at one day Parliament sitting’. 

Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Syah berpidato saat membuka Sidang Ketiga Parlemen ke-14 pada Senin, 18 Mei 2020. Ia mengungkapkan keprihatinannya atas gejolak politik dan polarisasi rasial yang masih ada di Indonesia.  

Video 3

Potongan video 3

Fakta: Video ini berada pada menit 1.03. Akun Youtube Astro AWANI pernah mengunggah video ini pada 31 Agustus 2019 dengan judul Telatah comel Sultan Abdullah, Tuanku Azizah ceriakan sambutan Hari Kebangsaan 2019. Ini adalah gambar parade pasukan berkuda di acara Hari Kebangsaan Malaysia tiga tahun lalu. Video yang identik juga pernah dimuat oleh kanal MalaysiaGazette TV

Video 4

Potongan video 4

Fakta: Video pada menit ke-1.34 ini identik dengan video yang pernah diunggah oleh akun YouTube Astro AWANI pernah mengunggah video ini pada 31 Agustus 2019 dengan judul ‘Telatah comel Sultan Abdullah, Tuanku Azizah ceriakan sambutan Hari Kebangsaan 2019’.

Yang di-Pertuan Agong, Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah dan Raja Permaisuri Agong, Tuanku Hajah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah menghadiri Hari Kebangsaan 2019 di Putrajaya, Malaysia. 

KESIMPULAN

Dari hasil pemeriksaan fakta, video bernarasi Inggris sebut Malaysia tak lagi jadi negara persemakmuran adalah keliru.

Malaysia masih menjadi negara persemakmuran Inggris. Tidak ada pernyataan dari Inggris bahwa Malaysia bukan lagi bagian dari persemakmuran mereka.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id