Belum Ada Bukti, Virus Cacar Monyet Menular Lewat Udara

Kamis, 8 September 2022 16:42 WIB

Belum Ada Bukti, Virus Cacar Monyet Menular Lewat Udara

Klaim bahwa virus monkeypox atau cacar monyet menular melalui udara beredar di media sosial. Klaim tersebut beredar seiring dengan meningkatnya wabah cacar monyet secara global.

Di Facebook, klaim di atas dibagikan akun ini pada 29 Juni 2022. Berikut narasinya: “Monkeypox (cacar monyet) mutasi virus menular lewat udara. Pakai masker.”

Tangkapan layar unggahan yang beredar di Facebook soal monkeypox

Benarkah virus cacar monyet menular lewat udara?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media dan situs kredibel. Hasilnya, penularan cacar monyet dapat terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung virus atau kontak langsung dengan cairan tubuh yang mengandung virus.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), Amerika Serikat menyatakan belum ada laporan mengenai penularan virus Monkeypox atau cacar monyet melalui udara. Cacar monyet adalah virus yang sama sekali berbeda dari virus penyebab COVID-19 atau campak.

Cacar monyet menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada tubuh seseorang yang terkena cacar monyet, atau melalui kontak langsung dengan bahan yang telah menyentuh cairan atau luka tubuh, seperti pakaian atau linen. Virus cacar monyet juga dapat menyebar melalui sekresi pernapasan ketika orang melakukan kontak tatap muka yang dekat.

Menurut CDC, studi sebelumnya tentang wabah cacar monyet menunjukkan bahwa penyebaran virus cacar monyet melalui sekresi pernapasan tampaknya jarang terjadi. Sebagian besar kasus cacar monyet melaporkan kontak dekat dengan orang yang menular.

Meskipun kita tidak tahu dengan pasti apa peran kontak fisik langsung versus peran sekresi pernapasan, dalam kasus di mana orang yang menderita cacar monyet telah bepergian dengan pesawat terbang, tidak ada kasus cacar monyet yang diketahui terjadi pada orang yang duduk di sekitar mereka, bahkan dalam penerbangan internasional yang panjang.

Meski begitu, orang yang menderita cacar monyet disarankan untuk terus memakai masker ketika berinteraksi dengan orang lain, dimanapun tempatnya. Petugas kesehatan dan orang-orang yang mungkin memiliki kontak dekat dengan penderita cacar monyet juga disarankan untuk memakai masker.

Berdasarkan arsip berita Tempo, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan penularan cacar monyet dapat terjadi melalui kontak langsung dengan lesi yang mengandung virus atau kontak langsung dengan cairan tubuh yang mengandung virus. Karena itu, penting untuk menghindari kontak langsung dan dekat dengan orang yang terinfeksi.

Cacar monyet disebabkan oleh virus cacar monyet (monkeypox), anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae. Ini adalah jenis virus zoonosis atau virus yang ditularkan ke manusia dari hewan. Hewan inangnya adalah berbagai hewan pengerat dan primata non-manusia.

Imbauan resmi WHO bagi mereka yang tertular cacar monyet.

Virus cacar monyet adalah bagian dari keluarga virus yang sama dengan virus variola, virus penyebab cacar. Gejala cacar monyet mirip dengan gejala cacar, tetapi lebih ringan, dan cacar monyet jarang berakibat fatal. Monkeypox juga tidak berhubungan dengan penyakit cacar air.

Cacar monyet merupakan infeksi zoonosis virus langka yang termasuk dalam keluarga virus yang sama dengan virus variola, virus yang menyebabkan cacar. Demam, sakit kepala, otot/sakit punggung, pembengkakan kelenjar getah bening, kedinginan, kelelahan dan masalah pernapasan tertentu adalah gejala umum dari penyakit virus.

Penderita cacar monyet akan mengalami ruam kulit, yang kemudian berubah menjadi lesi. Seperti cacar pada umumnya, lesi ini ada yang berisi cairan atau nanah.

Masih dari arsip berita Tempo, menurut dr. Dito Anurogo, dosen di Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Makassar, pasien cacar monyet di rumah harus dapat melakukan perawatan diri secara mandiri.

Tindakan cuci tangan dengan air atau hand-sanitizer berbasis alkohol perlu sering dilakukan. Tindak lanjut klinis dapat dilakukan melalui telepon, pertemuan virtual, atau fasilitas telemedicine. Penderita cacar monyet perlu tinggal di ruangan dengan ventilasi sirkulasi udara yang baik, dengan jendela yang dapat dibuka.

“Pakaian, handuk, seprai penderita cacar monyet perlu dicuci terpisah dari yang lain. Pakaian dan seprai dapat dipakai lagi setelah dicuci dengan sabun dan air panas (lebih dari 60  derajat Celcius) atau direndam di klorin bila tidak tersedia air panas,” kata Dito.

Segala perabotan dan peralatan rumah tangga, seperti furnitur, kasur, jamban, lantai, atau lokasi apapun di rumah yang bersentuhan langsung dengan pasien perlu segera dibersihkan dengan air dan sabun dan diberi desinfektan secara teratur.

Buat dokter atau tenaga kesehatan, Dito menyarankan, agar keputusan untuk mengisolasi dan memantau pasien di rumah harus dibuat berdasarkan kasus per kasus dan didasarkan pada keparahan klinis, adanya komplikasi, kebutuhan perawatan, faktor risiko penyakit parah, dan akses ke rujukan untuk rawat inap bila kondisinya memburuk.

Seiring dengan meningkatnya wabah cacar monyet, pada 23 Juli 2022, WHO menyatakan wabah cacar monyet global sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional (PHEIC).

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa virus cacar monyet menular melalui udara adalah belum ada bukti

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyatakan belum ada laporan mengenai penularan virus Monkeypox atau cacar monyet melalui udara. Meski begitu, orang yang menderita cacar monyet disarankan untuk terus memakai masker ketika berinteraksi dengan orang lain, dimanapun tempatnya.

Virus cacar monyet dapat menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh atau luka pada tubuh seseorang yang terkena cacar monyet, atau melalui kontak langsung dengan bahan yang telah menyentuh cairan atau luka tubuh, seperti pakaian atau linen.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id