[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pelaku Terorisme di Selandia Baru adalah Jihadis ISIS Turki?

Kamis, 21 Maret 2019 12:17 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pelaku Terorisme di Selandia Baru adalah Jihadis ISIS Turki?

Sebuah foto yang dinarasikan bahwa Brenton Tarrant, terroris yang membunuh sekitar 50 muslim di Christchurch, Selandia Baru, adalah anggota Islamic State Turki, beredar di WhatsApp dan Twitter sejak 18 Maret 2019.

 Foto yang beredar di WhatsApp dan Twitter mengatakan bahwa Brenton Tarrant anggota ISIS Turki.

Foto itu menunjukkan 9 pria berpose — tiga di antaranya memegang senjata laras panjang dalam sebuah ruangan. Tampak pula bendera Islamic State dan bendera Turki bersanding di dinding bagian belakang. 

Dalam foto yang beredar itu, satu-satunya pria yang berjongkok dan memegang senjata laras panjang diberi lingkaran merah, untuk merujuk si teroris Selandia Baru.

“In this photo the terror who killed 49 people in New Zealand with Turkish “ISIS”, “ISIL”, “Daish”, “Daesh”, and “Islamic State Group” in Turkey,” tulis narasi yang beredar.

 

PEMERIKSAAN FAKTA 

Tempo menggunakan tools pencarian gambar untuk menelusuri asal foto itu. Hasilnya, situs media CNN Turki pernah merilis foto itu pada 23 November 2015.

Dalam berita itu CNN memuat sembilan foto, satu di antaranya adalah yang menyebar di media sosial dua hari terakhir. Foto-foto itu diambil saat kunjungan wakil pemimpin Great Union Party (BBP), Kapten Kartal, ke markas mujahidin Turk di Pegunungan Turkmen, Provinsi Latakia Suriah barat laut.

Saat itu, Pegunungan Turkmen dikuasai oleh kelompok oposisi yang melawan rezim Bashar al-Assad di Suriah. Pada tahun 2015, rezim Assad, yang didukung oleh kekuatan udara Rusia, menyerang sekitar 85 persen wilayah Pegunungan Turkmen Latakia, memaksa sekitar 20.000 penduduk Turkmenistan dan Arab di daerah itu untuk melarikan diri ke utara, ke arah Turki.

Great Union Party adalah partai Islamis dan nasionalis sayap kanan di Turki yang didirikan pada 29 Januari 1993. Partai ini diyakini memiliki hubungan dengan kelompok ekstrimis nasionalis Turki, Grey Wolves.

Lalu apakah Brenton Tarrant terkait dengan kelompok jaringan ini di Turki? Tuduhan itu sulit dipercaya karena Tarrant justru menargetkan korbannya adalah Muslim. Sebaliknya, berdasarkan fakta-fakta yang ditemukan oleh sejumlah media, pria 28 tahun itu adalah seorang pendukung supremasi putih. 

Tarrant juga menulis "manifesto" anti-imigran setebal 70 halaman yang disebut "The Great Replacement”. Dokumen ini mengandung kata-kata kasar dan mendukung adanya "atmosfer ketakutan" terhadap Muslim. Dia juga menyebut Presiden Amerika Donald Trump sebagai simbol baru identitas kulit putih.

Tarrant juga menyebut imigran sebagai pelaku invasi dan menyamakan imigrasi sebagai proses invasi itu sendiri terhadap wilayah negara-negara Eropa atau bangsa Eropa.

Dia memposting dokumen itu di Twitter sebelum penembakan. Saat ini akun Twitter-nya telah dinonaktifkan.

“Saya hanya orang kulit putih biasa dari keluarga biasa, yang memutuskan untuk mengambil sikap untuk memastikan masa depan bagi bangsa saya,” kata Tarrant dalam manifestonya seperti dikutip Root pada Jumat, 15 Maret 2019. 

Fakta kedua, Tarrant sendiri justru pernah mengancam Turki, sebagaimana dikatakan oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Menurut Erdogan, Tarrant telah dua kali mengunjungi Turki dan memperingatkan bahwa Turki tidak memiliki tempat di Eropa. 

Erdogan menunjukkan video termasuk ekstrak yang konon berasal dari manifesto online Brenton Tarrant dan rekaman semi-kabur saat penembakan melalui layar besar.

Menurut Erdogan, Tarrant ingin Muslim Turki dipindahkan dari wilayah Eropa Turki. Sebab mayoritas Muslim Turki berada di antara Eropa dan Asia. Bagian Asia negara ini dikenal sebagai Anatolia. Kota terbesar Turki, Istanbul, berada di benua Eropa dan Asia, yang dipisahkan oleh selat Bosphorus. Di sebelah timur Bosphorus adalah wilayah Asia, sementara di sebelah barat selat masuk ke benua Eropa.  

"Kami tidak ingin melihat konflik salib dan bulan sabit lagi," kata Erdogan merujuk pada konflik antara Kristen dan Muslim. 

 

KESIMPULAN

Berdasarkan fakta-fakta itu, narasi yang menyebutkan bahwa pelaku terorisme terhadap Muslim di Selandia Baru adalah jihadis ISIS Turki adalah keliru.

 

Ika Ningtyas

 

  •