Keliru, Klaim Emoji Ukiran Wajah Manusia dari Batu Merupakan Gambar Berhala di Kota Mekkah

Senin, 4 Oktober 2021 15:37 WIB
 


 
Keliru, Klaim Emoji Ukiran Wajah Manusia dari Batu Merupakan Gambar Berhala di Kota Mekkah

Gambar tangkapan layar yang memuat hasil pencarian di mesin peramban Google dengan kata kunci “berhala terbesar di Mekkah” beredar di media sosial. Deretan patung batu yang ditampilkan dalam mesin pencari tersebut dibagikan dengan klaim bahwa emoji berupa ukiran wajah manusia dari batu merupakan gambar berhala di Kota Mekkah, Arab Saudi.

Di Facebook, gambar tangkapan layar tersebut dibagikan akun ini pada 2 Oktober 2021. Akun inipun menuliskan narasi, “Ingatt Yah Ukhty Akhy Ngga Boleh Make Emot Macam Niii.”

Hingga artikel ini dimuat, gambar tangkapan layar tersebut telah mendapat 52 komentar dan dibagikan lebih dari 1.300 kali.

Apa benar emoji berupa ukiran wajah manusia dari batu merupakan gambar berhala di Mekkah?

Tangkapan layar unggahan dengan klaim larangan menggunakan emoji ukiran wajah manusia dari batu karena merupakan gambar berhala di Kota Mekkah

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memveriikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula menelusuri jejak digital gambar tersebut di mesin pencari Google dengan menggunakan tool reverse image. Hasilnya, gambar patung batu dalam tangkapan layar tersebut bukanlah berhala di Mekkah, melainkan patung batu Moai di Pulau Paskah, Republik Chili.

Patung-patung batu yang identik dengan gambar di atas pernah dimuat situs berita IDN Times pada 23 Februari 2019 dengan judul, “10 Potret Rapa Nui, Pulau Indah dengan Patung Kuno Raksasa.”

Gambar yang identik juga pernah dimuat situs berita Detik.com pada 5 April 2021 dengan judul, “Siapakah Penghuni Pulau Paskah yang Punya Banyak Patung Raksasa?

Pulau Paskah juga dikenal sebagai Easter Island atau dalam bahasa setempat disebut Rapa Nui. Pulau ini terkenal memiliki patung Moai (batu wajah) yang ikonik.

Pulau Paskah mulai dikenal di dunia, sejak pelaut Belanda Jacob Roggeveen mencapai Pulau ini pada 1722. Hingga saat ini para peneliti belum satu kata terkait asal-usul penduduk pertama Pulau Paskah.

Pulau Paskah adalah rumah bagi Moai (batu wajah) yang penuh teka-teki. Moai adalah batu monolit yang telah berdiri mengawasi lanskap pulau selama ratusan tahun. 

Keberadaan mereka adalah bukti keajaiban kecerdasan umat manusia, namun maknanya masih menjadi misteri. Pulau Paskah sendiri terletak di Negara Chili, tepatnya di bagian Selatan Samudera Pasifik.

Patung-patung Moai menjadi ikon bagi pulau tersebut. Mengapa patung-patung itu berada di sana memang telah menjadi pertanyaan para peneliti sejak lama dan beberapa hasil penelitian sudah mengungkap jawabannya. Salah satunya, temuan yang dirilis oleh jurnal Plos One, di mana patung-patung batu itu rupanya didirikan di atas sumber daya alam terpenting manusia, yakni air tawar.

Dilansir dari Suara.com, para peneliti dari Universitas California, Los Angeles, Cotsen Institute of Archaeology, dan Easter Island Statue Project (EISP), membeberkan teori baru mengenai alasan mengapa patung Moai dibuat.

Penelitian baru menunjukkan patung-patung besar itu dibangun untuk mendorong tanah subur ketika terjadi kekeringan dan kondisi tanah yang buruk.

Ukiran rumit yang ditemukan di bagian belakang patung pun semakin memperkuat teori ini. Analisis kimia tanah menunjukkan adanya bukti sisa pisang, talas, dan ubi jalar. Hal itu membuat ilmuwan yakin bahwa lokasi itu merupakan area yang kaya akan tanah ideal untuk pertanian.

"Ketika kami mendapatkan hasil kimia. Ada sesuatu dengan kandungan yang sangat tinggi dan saya tidak pernah mengira akan ada disana, seperti kalsium dan fosfor. Keduanya merupakan kunci petumbuhan untuk tanaman," ucap Sarah Sherwood, ahli geoarkeologi dan tanah, seperti dikutip dari laman IFL Science.

Patung Moai sendiri terletak di Rapa Nui atau dikenal sebagai Pulau Paskah yang masih diselimuti misteri. Terletak di pantai lepas Chili, pulau tersebut memiliki 1.000 patung Moai yang berasal antara 1250 dan 1500 Masehi yang asal dan tujuan pembuatannya masih belum diketahui.

Penduduk aslinya adalah keturunan Polinesia, tetapi kemungkinan besar berbaur dengan warga Amerika Selatan. Para ilmuwan berspekulasi bahwa lokasi patung Moai membantu penduduk untuk mengidentifikasi sumber air tawar.

Emoji Moai

Dikutip dari kompas.com, emoticon pertamakali diperkanalkan seorang ilmuan komputer di Carnegie Mellon pada 19 September 1982. Ia memperkenalkan emoticon pertama berupa senyuman.

Dilansir dari Time, 19 September 2014, Fahlman memperhatikan percakapan melalui pesan elektronik yang digunakan oleh staf untuk berkomunikasi pada awal 1980-an. Dia menemukan ada suatu hal yang membuat percakapan itu berjalan kurang lancar, seperti lelucon yang hilang, maksud yang disalahartikan, dan omelan tak perlu yang mengaburkan diskusi.

Fahlman, yang saat itu berusia 30-an, membuat cara sederhana dan legendaris, yaitu: Jika menyatakan sesuatu yang lucu atau ironis, beri label komentar dengan wajah tersenyum yang terbuat dari titik dua, tanda kurang, dan tanda kurung.

Emoticon itu pun menyebar dengan cepat ke universitas lain, dan kemudian merambah ke e-mail dan hingga ke seluruh dunia. Temuan itu mengisi "lubang raksasa" yang ditinggalkan oleh semua isyarat visual yang hanya ada pada komunikasi tatap muka.

"Salah satu problem utama dalam komunikasi teks adalah cara komunikasi yang jauh berbeda daripada berbicara secara langsung dengan orang lain," kata Seorang ahli bahasa komputer Thler Schneobelen dalam tesisnya tentang emotikon di Stanford.

"Kata-kata itu datar dan tak bisa memberi isyarat untuk mengungkapkan apa yang kita maksud," lanjut dia. Kondisi itulah yang membuat kehadiran emoticon sangat berguna.

Dalam perjalanannya, emoticon kemudian berkembang menjadi gambar kecil penuh warna yang ditemukan oleh perencana telekomunikasi dari Jepang, Shigetaka Kurita pada 1990-an dengan nama emoji.

Dikutip dari emojigraph.org, emoji yang menampilkan ukiran wajah manusia dari batu dikenal sebagai Emoji Moai. Sering digunakan untuk mewakili mitos dan misteri. Emoji Moai trending di Twitter pada September 2021.

Meskipun memiliki pola yang sama, namun Emoji Moai tampil dalam bentuk yang berbeda pada setiap platorm medsos.

Emoji Moai dalam bentuk ukiran kepala manusia, dengan alis dan hidung yang menonjol, paling sering menghadap ke kiri. Emoji ini terkadang digunakan untuk berbagai makna unik, seperti menyampaikan ekspresi tabah, datar, atau konyol.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa emoji berupa ukiran wajah manusia dari batu merupakan gambar berhala di Mekkah, keliru. Emoji tersebut merujuk pada patung-patung batu Moai yang tersebar di Pulau Paskah atau Rapa Nui, Republik Chili. Emoji Moai kerap digunakan untuk berbagai makna unik, seperti menyampaikan ekspresi tabah, datar, atau konyol.

TIM CEK FAKTA TEMPO


 


  •  

    Selengkapnya