Keliru, Nakes Dijadikan Kelinci Percobaan Vaksinasi Ketiga

Senin, 19 Juli 2021 16:49 WIB
 


 
Keliru, Nakes Dijadikan Kelinci Percobaan Vaksinasi Ketiga

Narasi panjang yang berisi klaim bahwa tenaga kesehatan (nakes) dijadikan kelinci percobaan pemberian vaksin Moderna sebagai vaksin ketiga beredar di Facebook pada 14 Juli 2021. Unggahan yang beredar di tengah rencana pemberian vaksinasi ketiga bagi para Nakes itu ditambahi sejumlah tangkapan layar sejumlah media dengan judul yang memuat beberapa pernyataan mantan Menteri Kesehatan. 


Narasi dalam unggahan itu awalnya menyebutkan jumlah orang yang tumbang usai vaksinasi, kemudian menyinggung rencana vaksin dosis ketiga menggunakan Moderna untuk para nakes. Akun ini menuliskan opininya bahwa vaksin bukan gado-gado yang tidak sembarangan bisa dicampur, sesuai peringatan dari Badan Kesehatan Dunia, WHO


“Ini vaksin apa gado-gado? WHO sendiri telah memperingatkan bahayanya vaksin campur-campur. Tapi masih tetap mau dilakukan? Apakah nakes akan dijadikan kelinci percobaan? Ketika nanti ada nakes bertumbangan lagi, tinggal salahkan coped. Salahkan komorbid. Salahkan masyarakat,” seperti dikutip dalam narasi yang beredar tersebut.


“Kalau nakes-nakes pada bertumbangan lagi, tidak mudah menggantikannya. Mencetak satu nakes itu membutuhkan waktu dan biaya yang besar. Kok lama-lama jadi seram ya dengan program vaksinasi ini. Apa sih tujuannya? Jangan sampai nakes-nakes Indonesia bertumbangan, lalu masuk nakes-nakes dari negara lain.”


Benarkah vaksinasi ketiga untuk para Nakes merupakan program uji coba pemerintah? 


PEMERIKSAAN FAKTA


Hasil verifikasi Tim Cek Fakta Tempo menunjukkan bahwa pemberian vaksin Moderna bukan untuk menjadikan para tenaga kesehatan sebagai kelinci percobaan. Pemberian dosis ketiga tersebut untuk menambah kekebalan di tengah menyebarnya virus varian Delta yang lebih menular dibandingkan varian sebelumnya. Meski WHO belum memberikan rekomendasi, tapi beberapa ahli menyatakan pemberian vaksin Covid-19 berbeda jenis aman dilakukan.


Epidemiolog dari Universitas Griffith, Australia, Dicky Budiman, menyatakan pemberian vaksin berbeda jenis telah dilakukan sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab dan Thailand. Termasuk Spanyol dan Jerman yang menggunakan vaksin Astra Zeneca dan Pfizer. 


WHO, kata Dicky, memang belum memberikan rekomendasi atas pemberian dosis vaksin campuran. Sebab, ada mekanisme panjang yang harus ditempuh sebelumnya. 


Studi untuk melihat efektivitas tersebut juga masih berjalan di beberapa negara, seperti di Turki dan Filipina. Namun, jika melihat pengalaman beberapa negara, penggunaan dosis vaksin berbeda jenis dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.


“Secara teoritis dan fakta ilmiah sejauh ini tidak ada keraguan tentang efektifitasnya. Tapi tentu harus dilakukan studi kohort (observasional),” kata Dicky kepada Tempo, Senin 19 Juli 2021. 
Salah satu hasil penelitian adanya peningkatan sistem kekebalan tubuh dengan pemberian dosis vaksin berbeda jenis terjadi di Inggris, menurut artikel yang dipublikasikan oleh BBC pada 28 Juni 2021. 


Uji coba itu dilakukan oleh Com-Cov dengan memberikan dua dosis Pfizer lalu diikuti satu dosis AstraZeneca dan dua dosis AstraZeneca (AZ) lalu diikuti Pfizer sebagai vaksin ketiga.  Studi Com-Cov tersebut mengamati pemberian dosis masing-masing selama empat minggu pada 850 sukarelawan berusia 50 tahun ke atas. 


Hasilnya, dua dosis AZ diikuti oleh Pfizer menginduksi antibodi dan respons sel T yang lebih tinggi daripada Pfizer diikuti oleh AZ. Selain itu, kedua campuran ini menginduksi antibodi yang lebih tinggi daripada hanya pemberian dua dosis AZ. 


Wakil kepala petugas medis Inggris, Prof Jonathan Van-Tam, mengatakan pemerintah belum berencana mengubah dosis vaksin yang saat ini telah berjalan sukses, namun temuan tersebut berguna di masa depan. "Mencampur dosis dapat memberi kami fleksibilitas yang lebih besar untuk program booster, juga mendukung negara-negara yang harus melanjutkan peluncuran vaksin mereka, dan yang mungkin mengalami kesulitan pasokan."


Sebelumnya pada bulan Mei, para peneliti di Institut Kesehatan Carlos III di Madrid yang ditulis Nature.com mengumumkan hasil dari uji coba CombiVacS. Studi ini menemukan respons imun yang kuat pada orang yang diberi vaksin Pfizer setelah 8-12 minggu menerima dosis vaksin Oxford-AstraZeneca.


Tidak ada perbandingan langsung dengan orang yang menerima dua dosis vaksin yang sama, tetapi penulis menemukan bahwa dalam tes laboratorium, mereka yang menerima kombinasi menghasilkan 37 kali lebih banyak antibodi penetral SARS-CoV-2 dan 4 kali lebih banyak SARS. Sel kekebalan spesifik SARS-CoV-2, yang disebut sel T, dibandingkan orang yang hanya mendapat satu dosis suntikan Oxford-AstraZeneca.



Selain itu di Indonesia, pemakaian Moderna telah mendapatkan izin penggunaan darurat (emergency use of authorization/UEA) dari Balai Pengawasan Obat dan Makanan. Moderna merupakan vaksin pertama dengan platform mRNA yang diberikan izin penggunaan daruratnya oleh BPOM. Vaksin ini akan masuk ke Indonesia melalui COVAX.


Seperti yang ditulis Tempo, hasil uji klinik fase III, Penny menuturkan efikasi vaksin Moderna menunjukkan 94,1 persen pada kelompok usia 18-65 tahun, dan 86,4 persen pada usia di atas 65 tahun.


Meski begitu, studi mengenai pemberian jenis vaksin berbeda belum sempurna dan harus diikuti dengan penelitian yang melibatkan kelompok lebih besar, untuk melihat siapa yang terinfeksi dan sakit selama berbulan-bulan. Selain itu, pengukuran antibodi dan sel T yang diandalkan masih berlangsung untuk menentukan secara akurat korelasi tersebut.  


Mengapa banyak nakes terinfeksi dan meninggal meski telah menerima dosis lengkap?


Sejumlah nakes di Indonesia dilaporkan terinfeksi dan meninggal meski telah menerima dua dosis vaksin Sinovac. Dikutip dari BBC, kemanjuran vaksin yang berkurang atau tidak efektif menghadapi varian baru bisa saja menjadi alasan. Tetapi, hal itu bukan satu-satunya faktor untuk menjelaskan mengapa hal ini terjadi.


Di Indonesia, penyakit penyerta dinilai bisa  berperan dalam kematian petugas kesehatan. Apalagi tingkat vaksinasi Indonesia yang sangat rendah, yakni baru 5 persen dari populasinya yang telah menerima dosis kedua. 


Prof Ben Cowling, kepala epidemiologi dan biostatika di University of Hong Kong, mengatakan, meskipun memiliki efikasi lebih rendah, vaksin Sinovac dan Sinopharm memberikan tingkat perlindungan yang sangat tinggi terhadap penyakit parah.
Namun, berdasarkan hasil penelitian yang mencoba memodelkan perlindungan kekebalan dari virus, perlindungan yang ditawarkan oleh Sinovac terhadap varian baru menjadi lebih rendah. Terhadap varian Delta, menjadi 20 persen lebih rendah dibandingkan dengan jenis aslinya.


Perhitungannya menunjukkan pengurangan yang lebih besar terhadap varian Beta yang pertama kali ditemukan di Afrika Selatan. Varian Beta sendiri merupakan salah satu mutasi virus yang paling berbeda dari virus aslinya.
Selain itu, Profesor Jin Dong-yan, seorang ahli virologi dari Universitas Hong Kong juga mengatakan kepada BBC bahwa bahwa kemanjuran vaksin Cina akan turun terhadap varian baru, termasuk Delta.


 
KESIMPULAN


Dari pemeriksaan fakta di atas, narasi dengan klaim tenaga kesehatan (nakes) dijadikan kelinci percobaan dengan pemberian vaksin Moderna sebagai vaksin ketiga adalah keliru. Penyuntikan dosis ketiga dengan vaksin Moderna bertujuan untuk memberikan tambahan kekebalan tubuh bagi para nakes di tengah penularan varian baru, terutama varian Delta. Terinfeksi dan meninggalnya para nakes meski telah menerima vaksin lengkap diperkirakan karena beberapa faktor yakni komorbid, tingkat vaksinasi yang masih rendah, dan menurunnya efektivitas vaksin Sinovac menghadapi varian jenis baru, terutama varian Delta.
 
Tim Cek Fakta Tempo


 


  •  

    Selengkapnya