Keliru, Pesan Berantai yang Klaim Ada Ketidakwajaran pada Isu Covid-19 di Indonesia

Jumat, 25 Juni 2021 17:54 WIB
 


 
Keliru, Pesan Berantai yang Klaim Ada Ketidakwajaran pada Isu Covid-19 di Indonesia

Pesan berantai yang berjudul “Tiga Kejanggalan dan Ketidak Wajaran terhadap Isu Corona yang Terjadi di Negeri +62” beredar di Facebook pada 24 Juni 2021. Dalam pesan berantai itu, terdapat beberapa klaim yang dilontarkan. Pertama, Cina disebut mengakui bahwa virus Corona penyebab Covid-19 bukan virus yang membahayakan, melainkan hanya virus flu biasa.

Kedua, menurut pesan berantai tersebut, semua virus dan bakteri tidak bisa berkembang biak di tempat yang bersih dan suci. Sementara klaim ketiga adalah, jika Covid-19 dikategorikan sebagai pandemi, kasus kematian seharusnya ada di mana-mana. "Korban yang mati pada bergelimpangan di rumah-rumah, apartemen di pasar-pasar dan di tempat mereka berada."

 Gambar tangkapan layar pesan berantai di Facebook yang berisi sejumlah klaim keliru terkait Covid-19.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim-klaim tersebut, Tim CekFakta Tempo menelusuri infomrasi dari otoritas resmi dan pemberitaan dari media-media kredibel. Berikut fakta atas tiga klaim tersebut:

Klaim 1: Cina mengakui virus Corona bukan virus yang membahayakan, melainkan hanya virus flu biasa

Fakta:

Tenaga kerja asing atau TKA Cina yang datang ke Indonesia hingga 18 Mei 2021 mencapai 8.700 orang. Dikutip dari CNN Indonesia, banyak TKA Cina yang datang ke Indonesia karena terdapat banyak investasi dari negara tersebut ke Indonesia. Selain TKA Cina, TKA dari negara lain yang juga banyak masuk ke Indonesia adalah TKA Korea Selatan, sebanyak 1.600 orang, dan TKA Jepang, sebanyak 1.400 orang.

Meskipun kedatangan para TKA itu meningkatkan risiko penularan Covid-19, bukan berarti Cina mengakui bahwa virus Corona hanyalah virus flu biasa. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah menjelaskan perbedaan antara Covid-19 dengan flu biasa.

Selain virusnya, tingkat kematian juga berbeda. Untuk Covid-19, menurut data yang tersedia hingga kini, rasio kematian kasarnya (jumlah kematian yang dilaporkan dibagi dengan kasus yang dilaporkan) sekitar 3-4 persen. Sementara untuk flu musiman, rasio kematian biasanya di bawah 0,1 persen.

Adapun terkait tingkat infeksinya, untuk Covid-19, 80 persen infeksi ringan atau tanpa gejala, 15 persen infeksi berat yang membutuhkan oksigen, dan 5 persen infeksi kritis yang memerlukan ventilator. Fraksi infeksi parah dan kritis ini akan lebih tinggi daripada yang diamati untuk influenza.

Varian baru virus Corona Covid-19 yang saat ini muncul pun lebih cepat menular dibandingkan varian sebelumnya. Varian-varian itu, yang ada dalam daftar Variant of Concern WHO, terbukti memiliki kemampuan untuk menular lebih luas. Untuk varian Alpha (B.1.1.7) misalnya, memiliki tingkat penularan 29 persen lebih tinggi dibandingkan varian awal Covid-19. Sementara untuk varian Beta (B.1.351) lebih tinggi sebesar 25 persen, untuk varian Gamma (P.1) lebih tinggi 38 persen, dan untuk varian Delta (B.1.617.2) lebih tinggi 97 persen.

Selama ini, Cina juga telah mengambil berbagai langkah untuk memutus rantai penularan Covid-19, salah satunya dengan memberlakukan penguncian wilayah (lockdown). Dikutip dari BBC, Cina melakukan lockdown terhadap Wuhan, yang dipercaya sebagai tempat pandemi bermula, sepanjang Januari-Juni 2020.

Lockdown ini, meski berbiaya mahal, efektif membendung penularan virus. Cina hanya mencatat kurang dari 100 ribu kasus Covid-19, dengan hanya sekitar 4.800 kematian. Metode yang digunakan di Wuhan digunakan secara rutin pada bulan-bulan berikutnya ketika Cina menangani wabah di kota-kota besar lainnya seperti Beijing dan Shanghai.

Klaim 2: Semua virus dan bakteri tidak bisa berkembang biak di tempat yang bersih dan suci

Fakta:

Pusat-pusat keramaian, termasuk tempat ibadah, tetap berpotensi menjadi lokasi penularan Covid-19. Dikutip dari WHO, hal tersebut terjadi karena orang yang terinfeksi Covid-19 dapat meninggalkan droplet yang bisa menginfeksi pada benda dan permukaan ketika mereka bersin, batuk, atau menyentuh benda dan permukaan tersebut.

Kasus Covid-19 pun telah dilaporkan terjadi di beberapa tempat tertutup, seperti restoran, klub malam, tempat ibadah, atau kantor, di mana orang mungkin berteriak, berbicara, atau bernyanyi. Di tengah pandemi ini, khususnya di dalam ruangan di mana orang yang terinfeksi menghabiskan waktu lama dengan orang lain, penuh sesak, dan ventilasinya tidak memadai, penularan aerosol tidak dapat diabaikan.

Sepanjang Mei-November 2020, seperti dikutip dari Detik.com, DKI Jakarta mencatat 17 klaster Covid-19 yang terkait dengan tempat ibadah atau kegiatan keagamaan.

Klaim 3: Jika Covid-19 dikategorikan sebagai pandemi, seharusnya banyak korban yang mati bergelimpangan di mana-mana

Fakta:

Pandemi, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), berarti wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Sementara menurut WHO, pandemi adalah penyebaran penyakit baru ke seluruh dunia.

Dari pengertian tersebut, pandemi bukan ditunjukkan dari banyaknya orang yang mati bergelimpangan di mana-mana. Covid-19 dikategorikan sebagai pandemi karena, hingga saat ini, penyakit itu telah menyebar ke hampir semua negara, dengan total kasus mencapai lebih dari 180 juta dan jumlah kematian lebih dari 3,9 juta.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai yang berjudul “Tiga Kejanggalan dan Ketidak Wajaran terhadap Isu Corona yang Terjadi di Negeri +62” itu keliru. Pertama, Covid-19 berbeda dan lebih berbahaya dibandingkan flu biasa. Kedua, pusat-pusat keramaian, termasuk tempat ibadah, tetap berpotensi menjadi lokasi penularan Covid-19. Ketiga, pandemi bukan ditunjukkan dari banyaknya orang yang mati bergelimpangan di mana-mana. Covid-19 dikategorikan sebagai pandemi karena, hingga saat ini, penyakit itu telah menyebar ke hampir semua negara.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya