Sesat, Pesan Berantai yang Sebut Vaksinasi Covid-19 Presiden Jokowi Harus Diulang

Senin, 18 Januari 2021 13:19 WIB
 


 
Sesat, Pesan Berantai yang Sebut Vaksinasi Covid-19 Presiden Jokowi Harus Diulang

Pesan berantai yang berjudul "Vaksinasi Presiden Harus Diulang dan Hati-hati dengan Vaksinasi" beredar di media sosial dan grup-grup percakapan WhatsApp. Pesan berantai ini menyebar setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi menjalani vaksinasi Covid-19 dengan vaksin Sinovac pada 13 Januari 2021 di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Pesan tersebut diklaim ditulis oleh seorang dokter spesialis penyakit dalam yang bernama Taufiq Muhibuddin Waly. Menurut pesan ini, vaksinasi yang dilakukan oleh Jokowi gagal. Alasannya, Jokowi disuntik dengan spuit (alat suntik) bervolume 1 cc dan tidak tegak lurus 90 derajat. "Hal tersebut menyebabkan vaksin tidak menembus otot sehingga tidak masuk ke dalam darah."

Dalam pesan berantai ini, disebutkan pula bahwa orang yang akan menjalani vaksinasi Covid-19 mesti melakukan tes rapid antibodi terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan untuk mencegah reaksi Antibody-dependent enhancement (ADE). Jika hal ini terjadi, virus-virus mati dalam vaksin Sinovac akan dengan mudah masuk ke sel-sel organ, yang akhirnya menyebabkan kerusakan organ. "Bila tes rapid antibodi positif, sebaiknya batalkan vaksinasi."

Pesan berantai tersebut pun mengklaim vaksin Sinovac sebagai vaksin Covid-19 yang terlemah dalam menimbulkan respons imunitas dari 10 vaksin unggulan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Dengan demikian, orang yang hasil tes rapid antibodinya positif tidak masalah jika tidak disuntik vaksin, karena telah memiliki antibodi terhadap Covid-19.

Di Facebook, salah satu akun yang membagikan pesan berantai itu adalah akun Ganti Presiden, tepatnya pada 14 Januari 2021. Akun ini melengkapi pesan tersebut dengan gambar tangkapan layar unggahan lain di Facebook terkait kemasan vaksin Sinovac. Unggahan ini mempertanyakan vaksin yang disuntikkan ke Presiden Jokowi.

"Kemasan vaksin Sinovac setahu saya enggak pakai ampulan. Di dalam box vaksin sudah ada spuit khusus yang sudah ada vaksinnya. Jadi, tenaga medis tinggal tusuk saja. Jadi, yang Jokowi pakai apa?" demikian narasi dalam unggahan itu. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan lebih dari 800 reaksi dan 280 komentar serta dibagikan lebih dari 300 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ganti Presiden yang memuat pesan berantai berjudul "Vaksinasi Presiden Harus Diulang dan Hati-hati dengan Vaksinasi". Sejumlah klaim dalam pesan berantai itu menyesatkan.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim-klaim dalam unggahan akun Ganti Presiden, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait klaim-klaim tersebut dan mewawancarai sejumlah ahli serta dokter. Ahli yang Tempo wawancarai adalah ahli biologi molekuler Ahmad Rusjdan Utomo, ahli kimia-farmasi Bimo Ario Tejo, dan dokter spesialis patologi klinis Tonang Dwi Ardyanto.

Klaim 1: Vaksinasi Covid-19 Presiden Jokowi gagal, karena disuntik dengan spuit 1 cc dan tidak tegak lurus 90 derajat sehingga vaksin tidak menembus otot dan tidak masuk ke darah.

Dilansir dari Suara.com, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng Mohammad Faqih mengatakan pesan berantai di atas berisi opini penulis dan tidak berdasarkan data serta kajian ilmiah. Menurut Daeng, penyuntikan yang dilakukan oleh dokter Abdul Muthalib sudah benar. Ketika itu, Daeng menjalani vaksinasi usai Presiden Jokowi, dan disuntik oleh dokter yang sama. "Masuk ke otot suntikannya," ujar Daeng.

Dalam tayangan Mata Najwa edisi "Vaksin Siapa Takut" pada 13 Januari 2021, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus Wakil Ketua Dokter Kepresidenan yang menyuntikkan vaksin Covid-19 Sinovac kepada Presiden Jokowi, Abdul Muthalib, mengatakan bahwa alat suntik atau spuit yang ia gunakan ketika itu adalah spuit 0,5 cc untuk vaksin.

Adapun menurut Tonang Dwi Ardyanto saat dihubungi pada 15 Januari 2021, satu dosis vaksin Sinovac bervolume 0,5 cc. Karena itu, dia mengatakan bahwa sudah sangat tepat jika dokter menggunakan spuit 1 cc untuk menyuntikkan vaksin Sinovac tersebut. "Kita menggunakan spuit yang paling mendekati dosis yang akan diberikan," ujarnya.

Namun, Tonang menuturkan, jika situasi di lapangan tidak memungkinkan, misalnya hanya tersedia spuit 3 cc, spuit dengan ukuran tersebut juga boleh digunakan. "Masih boleh, karena 0,5 cc bisa dimasukkan ke dalam tempat yang lebih besar. Pakai 2 cc ya enggak apa-apa juga, masih betul juga. Jadi, menurut saya, tidak ada yang aneh, wajar," katanya.

Klaim 2: Orang yang akan menjalani vaksinasi Covid-19 mesti melakukan tes rapid antibodi terlebih dahulu untuk mencegah reaksi ADE. Bila tes rapid antibodi positif, sebaiknya batalkan vaksinasi.

Menurut Bimo Ario Tejo saat dihubungi pada 15 Januari 2021, sejauh ini, tes antibodi sebelum vaksinasi Covid-19 tidak diperlukan. Saat ini, penyintas Covid-19 memang belum diprioritaskan untuk menerima vaksin Covid-19. "Bukan karena takut ADE, tapi karena dua hal," ujar Bimo.

Pertama, penyintas Covid-19 sudah dianggap memiliki kekebalan. Sementara yang kedua, dalam uji klinis selama ini, vaksin belum diujicobakan kepada penyintas Covid-19. "Untuk kekhawatiran terhadap ADE pun, sejauh ini, belum ada buktinya," kata Bimo.

Menurut Bimo, ketika vaksin diujicobakan ke hewan, tidak terlihat adanya ADE. Indikasi ADE memang pernah terlihat dalam uji coba vaksin SARS, yang muncul pada 2002, namun hanya di laboratorium. "Tapi sebenarnya tidak ada buktinya, karena SARS keburu hilang," ujarnya.

Bimo menjelaskan ADE bisa terjadi ketika infeksi pertama menghasilkan antibodi tapi antibodi tersebut tidak bisa melindungi dari infeksi kedua, bahkan justru membantu virus pada infeksi kedua. "Ini biasanya terjadi ketika infeksi kedua berasal dari varian virus yang berbeda," tuturnya.

Karena itu, ADE terjadi pada HIV, karena virus HIV bermutasi dengan sangat cepat. ADE juga muncul pada demam berdarah. Saat ini, dikenal empat jenis demam berdarah, di mana empat virus dengue yang menjadi penyebabnya memiliki perbedaan genetik yang jauh. "Jadi, antibodi yang terbentuk pada infeksi pertama tidak bisa mengenali virus pada infeksi kedua," ujar Bimo.

Untuk varian SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19, menurut Bimo, sampai saat ini tidak terlalu banyak. Sifat genetiknya tidak mudah bermutasi. "Walaupun sudah setahun pandemi, mutasi yang terjadi tidak secepat mutasi yang terjadi pada HIV atau virus flu" katanya.

Hal itulah yang membuat banyak ilmuwan optimistis antibodi yang dihasilkan pada infeksi pertama atau dari vaksin tidak menimbulkan ADE. "Tapi harus dimonitor, karena mutasi kadang-kadang sulit dikontrol. Kalau nanti terjadi mutasi yang menyebabkan identitas virus ini berbeda dari yang sekarang, kemungkinan ADE bisa terjadi. Tapi saya melihat belum ke arah sana."

Ahmad Rusjdan Utomo, saat dihubungi pada 15 Januari 2021, juga memberikan penjelasan serupa. Dalam uji klinis vaksin Sinovac, para relawan memang menjalani tes antibodi terlebih dahulu. Namun, menurut Ahmad, alasannya bukan karena takut akan ADE.

Untuk vaksin yang menggunakan bagian dari virus, seperti Moderna dan AstraZeneca, mereka bisa membedakan antibodi yang dihasilkan oleh vaksin dan antibodi yang dihasilkan oleh infeksi alami. Sementara vaksin Sinovac, yang menggunakan virus yang telah dimatikan, tidak bisa membedakan antibodi yang dihasilkan oleh vaksin dan antibodi yang dihasilkan oleh infeksi alami. "Itu yang membuat relawan uji coba vaksin Sinovac harus cek antibodi," katanya.

Terkait ADE, Ahmad mengatakan bahwa tidak ada bukti yang menunjukkan hal itu terjadi. Menurut dia, ADE terjadi jika terdapat varian virus yang berbeda, seperti virus dengue penyebab demam berdarah. Virus dengue memiliki empat varian yang berbeda, yang bisa dipisahkan dengan antibodi. "Artinya, perangai serologi mereka berbeda," ujar Ahmad.

Sementara SARS-CoV-2, menurut Ahmad, kalau pun ada variasi, hal itu tidak mengubah perangai serologi mereka. "Jadi, masih virus yang sama. Makanya, walaupun ada varian baru, setelah dicek di laboratorium, semua varian itu masih bisa diblok dengan antibodi. Beda kasusnya dengan dengue. Kalau dengue, diberi vaksin tipe A, tapi yang datang tipe B, jadi isu," tuturnya.

Ahmad juga mengatakan, jika vaksin Covid-19 memang menyebabkan ADE, hal itu seharusnya terlihat pada hewan coba. Dalam kasus SARS, ketika vaksin diuji klinis ke hewan coba, terlihat bukti kerusakan serologi pada organ dalam mereka. "Tapi, kalau bicara Covid-19, kita gunakan hewan coba, tidak terlihat adanya kerusakan organ," katanya.

Terkait klaim bahwa suntikan vaksin yang berulang kali bisa menyebabkan ADE, menurut Ahmad, hal itu hanya dugaan dan tidak memiliki basis ilmiah. "Untuk kasus seperti itu, tidak ada contohnya. Secara imunologi pun, suntikan booster justru bisa menaikkan antibodi. Bagaimana bisa turun? ADE itu kan isunya ketika jumlah antibodi tidak banyak, rendah," ujar Ahmad.

Klaim 3: Vaksin Sinovac adalah vaksin Covid-19 terlemah dari 10 vaksin unggulan WHO.

Menurut arsip berita Tempo, pada 21 Desember 2020, juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia telah membantah bahwa vaksin Sinovac memiliki kualitas paling lemah di antara kandidat vaksin lainnya. "Hingga saat ini, tidak ada dokumen dan informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac rendah," ujarnya.

Ahmad Rusdjan Utomo juga mengatakan tidak fair membandingkan vaksin-vaksin Covid-19 dengan hanya melihat angka efikasinya masing-masing. Uji klinis vaksin yang dilakukan saat ini hanya membandingkan vaksin Covid-19 yang dikembangkan, seperti vaksin Sinovac atau vaksin Pfizer, dengan placebo. "Kalau mau fair, coba bandingkan vaksin Sinovac melawan vaksin Pfizer, di Amerika misalnya," ujarnya.

Menurut Ahmad, vaksin Pfizer sebenarnya juga menuai banyak kritik. Uji klinis yang dilakukan Pfizer merestriksi hanya pada kasus gejala sedang yang terkonfirmasi positif melalui tes PCR. "Jadi, kalau ada gejala suspek, tidak dihitung. Sementara kalau di Brasil (uji klinis vaksin Sinovac), dihitung semua. Bahkan, gejala ringan mereka hitung dan mereka konfirmasi non PCR," tutur Ahmad.

Jika gejala ringan dihitung, menurut Ahmad, angka efikasi terkesan tidak tinggi karena noise-nya tinggi. "Kenapa noise-nya tinggi? Ini terkait biologi dari si virus. Jangankan memunculkan gejala ringan, si virus bisa menimbulkan OTG (orang tanpa gejala). Artinya, ada banyak spektrum, mulai dari OTG, gejala ringan, gejala sedang, gejala berat, sampai kritis," ujar Ahmad.

Dalam uji klinis vaksin Sinovac di Brasil, jika mereka hanya fokus pada kasus kritis, muncul nol kasus pada vaksin dan delapan kasus pada placebo. "Ketika diturunkan sampai gejala sedang, tidak 100 persen lagi, tapi 78 persen. Saat diturunkan lagi sampai gejala ringan, ketemu angka 50,3 persen. Dalam hal layanan kesehatan, kita kan tidak khawatir dengan yang gejala ringan," kata Ahmad.

Bimo Ario Tejo menuturkan hal serupa, di mana angka efikasi tidak bisa dibandingkan secara apple-to-apple. Bahkan, angka efikasi vaksin Sinovac dari uji klinis di Turki, Indonesia, dan Brasil juga tidak bisa dibandingkan secara apple-to-apple. "Karena protokolnya beda. Cara mengidentifikasi relawan juga beda. Jadi, bagi saya, tidak tepat untuk mengatakan bahwa vaksin Sinovac adalah vaksin terlemah," ujarnya.

Selain efikasi, menurut Bimo, aspek yang tidak kalah penting adalah keamanan. Jika angka efikasi tinggi, tapi menimbulkan banyak efek samping, vaksin tidak akan bisa dipakai oleh masyarakat luas, karena akan ada banyak pengecualian. "Untuk golongan ini enggak boleh, untuk golongan itu enggak boleh, punya alergi ini enggak boleh. Akhirnya, yang divaksin sedikit," tuturnya.

Bimo menjelaskan efek samping dibagi menjadi empat level, di mana level 1 adalah yang paling ringan. Sejauh ini, sebagian besar efek samping yang muncul dari vaksin Sinovac berada di level 1. "Jarang sekali masuk level 3. Bahkan, menurut pengukuran BPOM, yang level 3 itu hanya 0,1 persen. Tidak ada juga laporan bahwa vaksin ini akan menimbulkan KIPI (Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi) yang berat, termasuk dalam uji klinis fase 2," katanya.

Selain itu, vaksin Sinovac dibuat dengan teknologi yang sudah ada sejak lama, yakni menggunakan virus yang sudah dimatikan. Menurut Bimo, teknologi ini sangat aman. Terkait vaksin Pfizer dan vaksin Moderna, teknologi yang dipakai masih sangat baru. "Dan dilihat dari uji klinis fase 2 dan fase 3, KIPI yang berat itu ternyata ada. Dari situ, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa vaksin Sinovac lebih aman," ujarnya.

Klaim 4: Kemasan vaksin Sinovac tidak memakai ampul, tapi spuit khusus yang sudah berisi vaksin.

Dilansir dari Kompas.com, Juru Bicara Vaksin Covid-19 PT Bio Farma Bambang Heriyanto mengatakan bahwa terdapat perbedaan kemasan antara vaksin Sinovac yang digunakan untuk uji klinis dan yang digunakan dalam program vaksinasi nasional. Menurut Bambang, vaksin Sinovac yang digunakan untuk uji klinis memakai prefilled syringe (PFS), di mana vaksin dan alat suntik dikemas dalam satu wadah dosis tunggal.

Sementara itu, vaksin Sinovac yang digunakan dalam program vaksinasi nasional tidak lagi memakai PFS, melainkan dikemas dalam vial atau ampul. Jarum suntiknya pun terpisah. "Bukan satu paket kemasan seperti uji klinis," kata Bambang. Dia juga menyebut, dalam 1 vial berukuran 2 milimeter tersebut, terdapat 1 dosis vaksin. Bambang pun menegaskan bahwa pada vial tersebut tidak tertulis "Only for Clinical Trial".

Abdul Muthalib, dokter yang melakukan vaksinasi terhadap Presiden Jokowi, juga menyatakan bahwa vaksin itu asli. Menurut dia, sebelum kotak kemasan vaksin dibuka, kotak tersebut ditunjukkan ke kamera petugas. "Box-nya itu box vaksin Sinovac. Vlakonnya pun vlakon Sinovac. Dan yang disuntik bukan vitamin C. Karena, kalau vitamin C, disuntikkan intramuskular di otot, itu pedih sekali. Mungkin Bapak Presiden akan teriak," ujar Abdul.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, pesan berantai yang berjudul "Vaksinasi Presiden Harus Diulang dan Hati-hati dengan Vaksinasi" tersebut menyesatkan. Terkait klaim bahwa vaksin Covid-19 Sinovac harus disuntikkan dengan spuit minimal 3 cc, keliru. Satu dosis vaksin Sinovac bervolume 0,5 cc. Karena itu, spuit yang digunakan boleh sama dengan atau lebih besar dari volume vaksin. Terkait klaim soal adanya reaksi ADE akibat vaksin Covid-19, hingga saat ini, hal itu tidak terbukti. Adapun terkait klaim bahwa vaksin Sinovac adalah vaksin Covid-19 terlemah dari 10 vaksin unggulan WHO, hingga saat ini, tidak ada dokumen atau informasi resmi dari WHO yang membandingkan respons imunitas 10 kandidat vaksin, atau pernyataan bahwa vaksin Sinovac adalah vaksin paling lemah.

ANGELINA ANJAR SAWITRI

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya