Keliru, Orang yang Sudah Vaksinasi Covid-19 Tak Perlu Pakai Masker dan Cuci Tangan

Jumat, 15 Januari 2021 20:06 WIB
 


 
Keliru, Orang yang Sudah Vaksinasi Covid-19 Tak Perlu Pakai Masker dan Cuci Tangan

Klaim bahwa orang yang sudah menjalani vaksinasi Covid-19 tidak perlu memakai masker dan mencuci tangan beredar di media sosial. Klaim itu beredar setelah Presiden Joko Widodo atau Jokowi mendapatkan vaksin Covid-19 di Istana Kepresidenan, Jakarta, dan dimulainya program vaksinasi Covid-19 tahap pertama pada 13 Januari 2021.

Di Facebook, klaim itu diunggah oleh akun Gaes Pardi pada 14 Januari 2021. Klaim tersebut dibagikan di grup Info Kecelakaan dan Kriminal Indonesia. Akun ini menyebut penyuntikan vaksin Covid-19 bertujuan untuk membuat tubuh kebal terhadap Covid-19. "Maka, Anda tidak perlu lagi pakai masker, cuci tangan, dan sebagainya karena Anda sudah kebal terhadap Covid-19," katanya.

Kemudian, akun Gaes Pardi menulis, "Jika Anda sudah disuntik vaksin Covid-19, tapi masih saja disuruh pakai masker, disuruh cuci tangan, duduk berjauhan, dan sebagainya, berarti yang disuntikkan ke Anda itu bukan vaksin, tapi vakcin (valuta keuangan Cina). Nah, Jokowi sudah disuntik vaksin Covid-19 kok masih pakai masker, tapi sudah kebal dari virus Covid-19?"

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Gaes Pardi yang memuat klaim keliru tentang vaksinasi Covid-19.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, pemberian vaksin bukanlah solusi tunggal dalam mengendalikan pandemi Covid-19, baik di Indonesia maupun di dunia. Meskipun vaksin dapat memberikan manfaat berupa menumbuhkan antibodi, semua vaksin Covid-19, termasuk vaksin Sinovac, belum diketahui efektivitasnya dalam mencegah transmisi atau penularan virus pada orang lain.

Karena itu, seseorang yang telah mendapatkan vaksin Covid-19 tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Pemerintah juga tetap harus memaksimalkan jumlah tes (testing), penelusuran kontak (tracing), dan perawatan terhadap orang-orang yang terinfeksi (treatment).

Menurut Dicky Budiman, ahli epidemiologi dari Centre for Environmental and Population Health Griffith University, Australia, vaksin memiliki tiga jenis manfaat atau khasiat. Pertama, efikasi untuk mendapatkan proteksi terhadap virus tertentu agar tidak terinfeksi.

Tingkat efikasi tersebut bervariasi, tergantung pada jenis vaksin yang digunakan saat uji klinis. Efikasi vaksin Sinovac yang diuji di Indonesia misalnya, adalah sebesar 65,3 persen. Sementara efikasi vaksin Pfizer dan vaksin Moderna masing-masing sebesar 95 dan 94 persen.

Dicky mengatakan, berapa pun nilai efikasi, tetap memberikan perlindungan. “Daripada tidak ada vaksin sama sekali,” katanya saat dihubungi Tempo pada 15 Januari 2021. Namun, terbentuknya antibodi untuk memberikan perlindungan membutuhkan proses yang berbeda di masing-masing orang. “Ada salah anggapan, begitu disuntik vaksin, antibodinya otomatis terbentuk. Padahal, itu butuh waktu,” ujarnya.

Jenis kedua adalah mencegah atau mengurangi keparahan atau gejala. Artinya, vaksin dapat mengurangi tingkat keparahan gejala pada seseorang yang telah divaksin yang kemudian terinfeksi. Dengan demikian, vaksin dapat membantu mengurangi jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit, bahkan mengurangi tingkat kematian.

Sementara jenis ketiga adalah memutus transmisi atau tingkat penularan. Hanya saja, saat ini, belum tersedia data yang cukup untuk mengetahui apakah semua vaksin Covid-19 memiliki efektivitas dalam memutus penularan tersebut. Sebab, untuk mengetahui efektivitas ini, dibutuhkan waktu minimal enam bulan pasca vaksinasi massal.

“Kenapa butuh waktu, karena riset vaksin Covid-19 ini luar biasa cepatnya dibandingkan jenis vaksin lainnya. Sehingga, data untuk memutus penularan butuh waktu paling cepat enam bulan pasca uji fase ketiganya berakhir,” kata Dicky.

Di tengah belum tersedianya data tersebut, dikhawatirkan seseorang yang sudah divaksin masih bisa terinfeksi virus dan menularkannya ke orang lain, meskipun mereka tidak memiliki gejala Covid-19. Karena itu, kata Dicky, orang yang sudah mendapatkan vaksin Covid-19 tetap harus memakai masker dan menjaga jarak agar tidak menularkan virus ke orang lain.

Mengapa orang yang telah divaksin Covid-19 tetap punya risiko menularkan virus?

Dikutip dari The New York Times, menurut Michael Tal, ahli imunologi dari Universitas Stanford, Amerika Serikat, meskipun vaksin Pfizer dan vaksin Moderna dianggap paling baik dalam mencegah munculnya gejala serius karena Covid-19, belum jelas seberapa efektif keduanya dapat memutus penularan.

Menurut Michael, uji klinis vaksin Pfizer dan vaksin Moderna hanya melacak berapa banyak orang yang jatuh sakit setelah mendapatkan vaksin. Sehingga, ada kemungkinan bahwa mereka yang mendapatkan vaksin bisa terinfeksi tanpa gejala dan bisa menularkan Covid-19 secara diam-diam, terutama jika mereka berkontak dekat dengan orang lain atau berhenti menggunakan masker.

“Jika orang yang divaksinasi adalah penyebar virus yang diam-diam, mereka mungkin tetap menyebarkannya di komunitas mereka, menempatkan orang yang tidak divaksinasi pada risiko,” katanya.

Marion Pepper, ahli imunologi dari University of Washington, AS, menjelaskan secara teknis mengapa mereka yang divaksin tetap berpotensi bisa menularkan SARS-CoV-2, virus Corona penyebab Covid-19.

Dalam sebagian besar kasus infeksi saluran pernapasan, termasuk Covid-19, hidung adalah pintu masuk utama dan tempat berkembang biak dengan cepat. Hal ini mengguncang sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkan sejenis antibodi yang khusus untuk mukosa, jaringan lembab yang melapisi hidung, mulut, paru-paru, dan perut.

Jika orang yang sama terpapar virus untuk kedua kalinya, antibodi tersebut, serta sel kekebalan yang mengingat virus tersebut, dengan cepat mematikan virus yang terdapat di hidung sebelum mereka menyebar dan bertahan di bagian tubuh yang lain.

Sebaliknya, vaksin Covid-19 disuntikkan jauh ke dalam otot dan merangsang sistem kekebalan untuk menghasilkan antibodi. Hal ini dapat menjaga orang yang divaksinasi tidak jatuh sakit saat terinfeksi Covid-19.

Beberapa dari antibodi tersebut akan bersirkulasi di dalam darah, lalu ke mukosa hidung, dan berjaga di sana. Meskipun begitu, belum jelas berapa banyak kumpulan antibodi yang dapat dimobilisasi, atau seberapa cepat mereka bisa mematikan virus di hidung.

Jika jawabannya tidak banyak, virus bisa bermunculan di hidung sehingga, ketika orang tersebut bersin atau menghembuskan nafas, dapat menginfeksi orang lain. “Ini adalah perlombaan, tergantung apakah virus dapat bereplikasi lebih cepat, atau sistem kekebalan dapat mengontrolnya lebih cepat,” kata Pepper.

Dikutip dari Business Insider, menurut ahli penyakit menular dari Ohio State University, Debra Goff, meskipun melindungi dari tertular virus, vaksin tidak akan sepenuhnya efektif sampai dosis kedua diberikan. "Demi kebaikan sesama umat manusia, Anda perlu terus memakai masker dan dan menjaga jarak fisik dari orang lain,” kata Goff.

Vaksin Covid-19 mengandung potongan kecil materi genetik yang dimaksudkan untuk mengajari sistem kekebalan cara melawan SARS-CoV-2. Bit RNA pembawa pesan ini tidak dapat membuat seseorang sakit dengan Covid-19, tapi perlu beberapa waktu bagi mereka untuk melakukan tugasnya.

Vaksin Pfizer,misalnya, hanya efektif 52 persen dalam mencegah Covid-19 setelah dosis pertama diberikan. Suntikan kedua, bila diberikan tiga minggu kemudian, akan meningkatkan efektivitas menjadi 95 persen.

Ada kemungkinan untuk tertular Covid-19 selama jeda suntikan pertama dan suntikan kedua. Faktanya, seorang perawat California dilaporkan positif Covid-19 setelah lebih dari seminggu mendapat suntikan vaksin pertamanya. Ini bisa terjadi karena seseorang mungkin tidak mengembangkan antibodi hingga 10-14 hari setelah mendapat suntikan pertama.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa seseorang yang sudah menjalani vaksinasi Covid-19 tidak perlu memakai masker dan mencuci tangan, keliru. Vaksin dapat memberikan manfaat berupa menumbuhkan antibodi. Vaksin juga bisa mencegah atau mengurangi gejala. Namun, belum diketahui efektivitas seluruh vaksin Covid-19 dalam mencegah transmisi atau penularan. Karena itu, mereka yang telah mendapatkan vaksin tetap harus menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya