Keliru, Klaim Ini Rekaman Suara Pilot dan Co-Pilot Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Jumat, 15 Januari 2021 13:33 WIB
 


 
Keliru, Klaim Ini Rekaman Suara Pilot dan Co-Pilot Pesawat Sriwijaya Air SJ 182

Video yang memperdengarkan rekaman suara yang diklaim sebagai rekaman percakapan pilot dan co-pilot pesawat Sriwijaya Air SJ 182 beredar di media sosial. Video ini beredar tak lama setelah pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak jatuh pada 9 Januari 2021 di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.

Di YouTube, video berdurasi 2 menit 31 detik itu diunggah salah satunya oleh kanal Bindu Official pada 11 Januari 2021. Video tersebut diunggah dengan judul “Merinding Mendengar Suara Rekaman Pilot & Co-Pilot | Sriwijaya Sj-182”. Dalam video ini, terdapat pula transkrip percakapan yang diklaim berasal dari pilot dan co-pilot.

Berikut ini isi transkrip itu:

Pilot: Ok, dicopy disampaikan nanti InsyaAllah
Pilot: Oiya, beda dia sama yg di gambar ini.
Co-pilot: Iya..
Pilot: Ngaco dia.. Benar
Co-pilot: Dah ngaco, dah emang
Pilot: Udah mulai kapal bambu nih..
Co-pilot: ......
Pilot: Mendingan kita pake yg ini aja deh
Co-pilot: Hehehe
Pilot dan co-pilot berbicara dengan menara pantau
Co-pilot: Turun atau naik lagi??
Pilot: Naik... Naik
Co-pilot: Ok capten
Pilot: Jangan dibelokin nih...
Pilot: .....
Co-pilot: Capten.. Capten... Capten...
Suara peringatan pesawat berbunyi
Co-pilot: Cap.... Cap..... Cap.. Lihat lihat....
Situasi semakin panik
Pilot: Allahu Akbar
Co-pilot: Allahu Akbar
Suara gemuruh di ruang kendali
Terdengar suara ledakan

Gambar tangkapan layar unggahan kanal YouTube Bindu Official yang memuat klaim keliru terkait rekaman suara dalam videonya.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri jejak digital rekaman tersebut dengan memasukkan kata kunci “rekaman suara pilot” di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan bahwa rekaman percakapan dalam video tersebut bukan rekaman suara pilot dan co-pilot pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang mengalami kecelakaan pada 9 Januari 2021.

Kanal Bindu Official telah mengganti judul videonya itu menjadi “Merinding Mendengar Suara Rekaman Pilot & Co-Pilot Pesawat Ini”. Kolom komentar untuk unggahan video ini pun telah dinonaktifkan.

Rekaman pembicaraan yang diklaim sebagai suara pilot dan co-pilot tersebut pernah dimuat oleh kanal YouTube Parah Air pada 2 Agustus 2008, jauh sebelum jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada 9 Januari 2021. Video itu berjudul “ASLI-Rekaman Black Box Adam Air Flight 574”.

Saat pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta-Pangkal Pinang mengalami kecelakaan pada 29 Oktober 2018, rekaman suara ini kembali beredar di media sosial. Salah satunya adalah yang diunggah oleh kanal YouTube Arly Channel pada 8 Juni 2020.

Kotak hitam Adam Air

Berdasarkan arsip berita Tempo, kotak hitam (black box) pesawat Adam Air PK-KKW bernomor penerbangan DHI 574 yang jatuh di Majene, Sulawesi Barat, ditemukan pada 28 Agustus 2007 pada kedalaman 2 ribu meter di perairan Majene. Rekaman percakapan yang diklaim berasal dari kotak hitam pesawat Adam Air itu pun beredar di sejumlah situs pada Agustus 2008.

Dalam percakapan itu, terdengar pesawat mengalami kerusakan sistem navigasi sebelum terjatuh. Awak pesawat Adam Air terdengar sempat meminta konfirmasi koordinat pesawat kepada petugas ATC. Hal itu dilakukan karena data koordinat yang diberikan oleh petugas ATC tidak sama dengan data koordinat yang ada di layar flight management system (FMS) pesawat.

Tidak lama kemudian pilot dan co-pilot pesawat, Refri A. Widodo dan Yoga, mengetahui bahwa telah terjadi kerusakan pada alat bantu penemu jarak atau distance measuring equipment.

Terkait rekaman yang diklaim berasal dari kotak hitam Adam Air itu, dilansir dari Tempo, Kementerian Perhubungan pernah membuat rilis untuk membantahnya pada 3 Desember 2008. Dalam rilis itu, Kemenhub menyatakan bahwa rekaman yang beredar luas di internet itu palsu karena berbeda dari rekaman yang asli.

Fakta pertama, rekaman pada black box hilang pada saat pesawat berada pada ketinggian 9.920 kaki atau di 3 kilometer lebih di atas permukaan laut. Sehingga, mustahil terdengar suara dentuman sebagaimana yang terdengar dalam rekaman yang beredar.

Kedua, kecepatan pesawat yang mencapai kecepatan maksimum Mach 0.926 (hampir setara kecepatan suara), yang menghasilkan tekanan grafitasi dalam kabin mencapai hingga 3,5 g. Dengan tekanan sebesar itu, tidak menutup kemungkinan, badan pesawat telah hancur karena gesekan udara yang besar, sebelum akhirnya masuk ke dalam air.

Kejanggalan lainnya adalah suara teriakan "Allahu Akbar" berulang-ulang kali dengan volume yang sangat keras. Padahal, dalam rekaman asli, hanya terdengar sebanyak empat kali dengan suara yang tidak jelas dan terdengar blur. Terakhir, durasi rekaman asli yang disimpan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) adalah sepanjang 32 menit 34 detik.

Kotak hitam Sriwijaya Air SJ 182

Black Box Sriwijaya Air SJ 182 baru ditemukan oleh tim Basarnas yang melakukan evakuasi di perairan Kepulauan Seribu pada 12 Januari 2021, setelah kanal Bindu Official mengunggah video tersebut ke YouTube. Kotak hitam yang ditemukan pun bertipe Flight Data Recorder (FDR) atau boks yang menyimpan soal data penerbangan pesawat Sriwijaya Air SJ 182 ke komputer.

Menurut Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono pembacaan data FDR akan mengungkap penyebab error di sistem pesawat tersebut. Sementara itu, kotak hitam tipe Cockpit Voice Recorder (VCR) atau rekaman suara pilot di kokpit belum ditemukan. "Semoga segera ditemukan agar kami dapat mengungkap misteri yang jadi penyebab kecelakaan ini," kata Soerjanto.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa rekaman suara dalam video tersebut adalah rekaman percakapan pilot dan co-pilot pesawat Sriwijaya Air SJ 182, keliru. Remakan suara dalam video tersebut telah beredar sejak Agustus 2008, jauh sebelum jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada 9 Januari 2021 di Kepulauan Seribu. Rekaman itu disebut-sebut berasal dari kotak hitam Adam Air PK-KKW bernomor penerbangan DHI 574 yang jatuh di Majene, Sulawesi Barat. Namun, Kemenhub menyatakan bahwa rekaman yang beredar luas di internet itu palsu karena berbeda dari rekaman yang asli.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya