Sesat, Narasi yang Samakan Sertifikat Vaksin Covid-19 dengan Libellus di Kerajaan Romawi

Rabu, 2 Desember 2020 18:55 WIB
 


 
Sesat, Narasi yang Samakan Sertifikat Vaksin Covid-19 dengan Libellus di Kerajaan Romawi

KLAIM

Narasi yang menyamakan sertifikat bagi masyarakat yang sudah diberi vaksin Covid-19 dengan sertifikat di era pemerintahan Raja Romawi Trajan beredar di Facebook. Narasi itu dibagikan oleh akun Ivan Al Qonuni, tepatnya pada 28 November 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 323 reaksi dibagikan 152 kali.

Unggahan akun tersebut berisi berita yang pernah dimuat oleh Tempo, tentang alur yang telah disiapkan oleh PT Bio Farma bagi masyarakat yang akan melakukan vaksinasi Covid-19 secara mandiri. Akhir dari alur itu, masyarakat yang sudah divaksin akan mendapatkan sertifikat. Sertifikat ini pun akan disebar ke berbagai pihak, seperti kementerian atau layanan transportasi.

Di akhir unggahannya, akun itu meminta warganet membandingkan sertifikat vaksin Covid-19 itu dengan sertifikat di era Raja Trajan, yang ditulis dalam unggahan lain pada 27 November 2020. "Pada masa itu, terjadi sebuah pemaksaan teologi di mana para pengikut Isa dipaksa oleh Raja Romawi untuk memberikan kurban kepada berhala (pagan) yang dipertuhan oleh raja."

Menurut tulisan itu, siapa pun yang telah memberikan kurban akan dianggap murtad dari agama yang dibawa Isa. Karena itu, mereka akan ditandai dengan libellus. Di masa berikutnya, tulisan itu menyebut bahwa libellus dikeluarkan oleh pihak Istana sebagai sertifikat indulgensi atau pengampunan dosa bagi orang-orang Kristen yang murtad.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Ivan Al Qonuni pada 28 November 2020 (kiri) dan 27 November 2020 (kanan).

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, berita tentang rencana pemberian sertifikat bagi masyarakat yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 secara mandiri memang pernah dimuat oleh Tempo pada 25 November 2020. Berita itu berjudul "Bio Farma Sebut 7 Tahapan untuk Dapat Vaksinasi Covid-19 Mandiri". Sertifikat ini berguna untuk mengetahui siapa saja yang sudah mendapatkan vaksinasi. Nantinya, data vaksinasi mandiri dan data vaksinasi bantuan pemerintah akan terhubung dalam basis data nasional.

Dalam berita Tempo lainnya disebutkan bahwa Bio Farma akan menerima 15 juta dosis bulk vaksin Covid-19 dari perusahaan biofarmasi Sinovac Biotech Ltd di Cina pada November 2020. Dosis bulk tersebut merupakan bahan baku yang akan diolah oleh Bio Farma di Indonesia menjadi vaksin siap guna bagi masyarakat. Namun, izin penggunaan vaksin ini harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Sementara itu, vaksin Covid-19 produk jadi dari Sinovac akan dikirim masing-masing 1,5 juta dosis untuk November dan Desember 2020. Penyuntikan vaksin Covid-19 produk jadi ini pun mesti menunggu persetujuan dari BPOM terlebih dahulu.

Tentu saja sertifikat vaksin Covid-19 tersebut tidak sama atau berkaitan dengan libellus yang dikeluarkan di masa Romawi. Dalam situs ensiklopedia Katolik, libelli (bentuk jamak dari libellus) adalah sertifikat yang dikeluarkan bagi orang Kristen pada abad ke-3. Libelli terdiri atas dua jenis, yakni sertifikat untuk membuktikan bahwa pemegangnya telah sesuai dengan tes agama yang disyaratkan oleh dekrit Decius dan sertifikat bagi para lapsi atau mereka yang telah murtad.

Sertifikat untuk para lapsi juga dibedakan menjadi tiga jenis yakni murtad, atau yang telah sepenuhnya meninggalkan agama mereka; korban atau thurificati, yang telah mengambil bagian dalam ritual pagan; dan libellatici, yang telah mendapatkan sertifikat (libelli) kesesuaian dari otoritas sipil yang sesuai.

Dengan demikian, libellus sebenarnya berkaitan dengan urusan teologi. Sementara pemberian sertifikat vaksin Covid-19 oleh Bio Farma dimaksudkan untuk mengetahui siapa saja yang telah melakukan vaksinasi Covid-19 dari jalur mandiri.

Vaksinasi pun bukan bentuk pengorbanan seperti ritual pagan. Dikutip dari Pusat Pencegahan dan Penularan Penyakit Amerika Serikat (CDC), vaksin Covid-19 bertujuan untuk membangun sistem kekebalan dengan mengajari tubuh mengenali dan melawan virus yang menyebabkan Covid-19. Terkadang, proses ini bisa menimbulkan gejala, seperti demam. Gejala ini normal dan merupakan tanda bahwa tubuh sedang membangun kekebalan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi yang menyamakan pemberian sertifikat vaksin Covid-19 dengan libellus di era Raja Romawi Trajan, menyesatkan. Berita yang digunakan untuk melengkapi narasi itu memang berasal dari Tempo. Namun, kesimpulan yang ditarik, yang menyamakan pemberian sertifikat vaksin Covid-19 dengan pemberian sertifikat di era Raja Trajan, tidak tepat. Pasalnya, libellus berkaitan dengan urusan teologi, di mana diberikan kepada umat Kristen pada abad ke-3.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya