[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Hantaman Rudal Israel dalam Ledakan di Beirut?

Kamis, 13 Agustus 2020 18:46 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Hantaman Rudal Israel dalam Ledakan di Beirut?

Video yang memperlihatkan hantaman rudal di sebuah wilayah yang telah terbakar dan mengepulkan asap yang tebal beredar di media sosial. Video tersebut diklaim sebagai video hantaman rudal Israel dalam ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020.

Di Facebook, video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Yan Ismahara pada 8 Agustus 2020. Akun ini pun menulis narasi sebagai berikut:

"Berdasar Rekaman Video Infrared ternyata Ledakan di Libanon karena Dihantam Rudal Israel. Untuk menyamarkan maka lebih dulu diledakkan oleh para penyusup, lalu dihancurkan lagi pake rudal. Ingat, minimal ada dua ledakan besar. Breaking News! NAMPAK REKAMAN KAMERA INFRARED MENUNJUKKAN ADANYA SERANGAN RUDAL DARI LANGIT, DIDUGA PELAKU NYA ADALAH ISR43L.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yan Ismahara.

Apa benar video tersebut adalah video hantaman rudal Israel dalam ledakan di Beirut?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video itu menjadi sejumlah gambar dengan tool InVID. Gambar-gambar tersebut kemudian ditelusuri jejak digitalnya dengan reverse image tool Google dan Yandex. Hasilnya, video tersebut telah mengalami suntingan.

Video yang sama dengan kualitas yang lebih tinggi dan durasi yang lebih panjang pernah diunggah oleh kanal YouTube Youssef Kawtharani pada 5 Agustus 2020. Video itu diberi judul “Beirut Lebanon huge Explosion”. Namun, dalam video berdurasi 17 detik ini, tidak terlihat benda yang diklaim sebagai rudal oleh akun Yan Ismahara.

Youssef Kawtharani pun mengunggah video itu ke Instagram pada hari yang sama dan telah disaksikan lebih dari 19.200 kali.

Kantor berita Reuters juga telah memverifikasi video itu dan menyatakannya sebagai hasil suntingan. Video itu adalah potongan dari rekaman milik Youssef Kawtharani, yang dalam profil Instagram menyebut dirinya sebagai sukarelawan di palang merah Lebanon. Video aslinya diambil di Rue Chafaka, setengah mil dari lokasi ledakan, yang dikonfirmasi oleh Google Street View.

Video editan tersebut juga berkualitas lebih rendah ketimbang video aslinya. Video ini dilapisi dengan sejumlah grafik, termasuk gambar diam di bagian awal yang memperlihatkan rudal yang dilingkari. Lewat analisis bingkai demi bingkai, rudal tidak terlihat di semua bingkai, termasuk sebelum momen menghantam tanah.

Video lain dengan narasi serupa

Sesaat setelah terjadinya ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020, beredar video dengan efek film negatif yang menunjukkan hantaman rudal di sebuah wilayah. Video itu diklaim sebagai video yang diambil tepat sebelum terjadinya ledakan di Beirut.

Video tersebut merupakan hasil suntingan, berupa penggabungan dua video, penambahan gambar rudal, dan pemberian efek film negatif. Dua video yang digabungkan itu sama-sama diambil dari peristiwa ledakan di Beirut pada 4 Agustus 2020.

Baik dalam video yang diunggah CNN Arabic maupun kanal YouTube Daesh Hunter, tidak terlihat adanya sebuah benda yang diklaim sebagai rudal. Organisasi cek fakta yang berbasis di Amerika Serikat, Lead Stories, pun telah memverifikasi video itu. Menurut profesor digital forensik dari Universitas California, Berkeley, Hany Farid, video itu jelas palsu.

Farid menjelaskan bagaimana video itu diedit. "Jika menonton video itu bingkai demi bingkai, Anda akan melihat beberapa hal yang secara jelas menggambarkan bahwa video itu palsu. Sekitar detik ke-8, misil menghilang dari video, jauh sebelum ledakan. Tidak ada pula gerakan yang kabur pada rudal yang semestinya terlihat mengingat kecepatannya. Selain itu, rudal tersebut tampak identik dalam setiap bingkai di mana rudal itu terlihat. Ini adalah tanda dari manipulasi copy-paste mentah di mana misil itu ditempelkan ke setiap bingkai yang berurutan," ujar Farid.

Dilansir dari Kompas.com, video tersebut awalnya adalah rekaman dari produser media sosial CNN Arabic yang berbasis di Beirut, Mehsen Mekhtfe. Video asli itu diedit oleh orang tak bertanggung jawab, dengan menambahkan objek mirip rudal. Mekhtfe kebetulan berada di dekat lokasi ledakan dan merekam ledakan tersebut.

"Banyak orang menghubungi saya untuk memberi tahu saya bahwa itu palsu," kata Mekhtfe. Dia menegaskan bahwa video itu asli miliknya dan tidak terdapat rudal di sana. Ketika orang-orang bertanya kepadanya soal rudal, dia menyatakan tidak melihat rudal apa pun atau mendengar jet atau pun drone di atasnya.

Penyebab ledakan di Beirut

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, sumber ledakan berasal dari sebuah gudang pelabuhan yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat selama enam tahun tanpa memenuhi aturan keselamatan. Al Jazeera melaporkan bahwa belum diketahui secara pasti mengapa amonium nitrat yang biasanya digunakan untuk pupuk pertanian serta bahan peledak di pertambangan dan konstruksi itu teronggok di gudang tersebut selama bertahun-tahun.

Namun, CNN melaporkan sebuah dokumen yang menjelaskan bahwa amonium nitrat itu dibawa ke pelabuhan di Beirut oleh kapal Rusia MV Rhosus pada 2013. Kapal ini singgah di Beirut dengan tujuan akhir Mozambik. Kapal Rusia berbendera Moldova tersebut terpaksa bersandar di Beirut karena kesulitan keuangan. Awak kapal itu yang berkebangsaan Rusia dan Ukraina dikabarkan resah dengan kapal yang tak kunjung berlayar ke tujuan akhir.

Menurut Direktur Bea Cukai Lebanon, Badri Daher, begitu tiba di pelabuhan di Beirut, kapal Rusia itu tidak pernah meninggalkan pelabuhan meski berulang kali diperingatkan karena membawa muatan bahan kimia yang setara dengan "bom mengambang". Kepala bea cukai sebelum Daher, Chafic Merhi, ternyata telah menulis surat kepada hakim yang menangani kasus ini pada 2016 agar otoritas pelabuhan mengekspor kembali amonium nitrat yang dibawa kapal Rusia itu. Hal ini untuk menjaga keamanan pelabuhan dan pekerja karena bahaya yang dapat ditimbulkannya dalam iklim yang tidak sesuai.

Menteri Pekerjaan Umum Michel Najjar mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia baru mengetahui keberadaan bahan peledak yang disimpan di pelabuhan Beirut 11 hari sebelum ledakan, melalui laporan yang diberikan kepadanya oleh Dewan Pertahanan Tertinggi negara itu. "Tidak ada menteri yang tahu apa yang ada di hangar atau kontainer, dan itu bukan tugas saya untuk tahu," katanya.

Najjar pun menyatakan telah menindaklanjuti keberadaan amonium tersebut. Namun, pada akhir Juli, pemerintah Lebanon memberlakukan karantina wilayah karena meningkatnya jumlah kasus Covid-19. Najjar akhirnya berbicara dengan manajer umum pelabuhan, Hasan Koraytem, pada 3 Agustus. Dia meminta Koraytem untuk mengiriminya semua dokumentasi yang relevan, sehingga bisa "melihat masalah ini". Namun, permintaan itu datang terlambat. Keesokan harinya, tepat setelah pukul 18.00 (15.00 GMT), gudang tersebut meledak, memusnahkan pelabuhan, dan menghancurkan sebagian besar Beirut.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa video di atas adalah video hantaman rudal Israel dalam ledakan di Beirut, Lebanon, keliru. Video yang diunggah oleh akun Facebook Yan Ismahara itu merupakan hasil suntingan. Video ini dilapisi dengan sejumlah grafik, termasuk gambar rudal. Lewat analisis bingkai demi bingkai, rudal tidak terlihat di semua bingkai, termasuk sebelum momen menghantam tanah.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya