[Fakta atau Hoaks] Benarkah Turki yang Pertama Kirim Bantuan ke Beirut Meski Sempat Dihina Presiden Lebanon?

Senin, 10 Agustus 2020 19:10 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Turki yang Pertama Kirim Bantuan ke Beirut Meski Sempat Dihina Presiden Lebanon?

Klaim bahwa Turki adalah negara pertama yang mengirim bantuan ke Beirut meskipun sempat dihina oleh Presiden Lebanon Michel Aoun empat bulan lalu beredar di media sosial. Klaim ini beredar pasca terjadinya ledakan di Beirut, Lebanon, pada 4 Agustus 2020.

Klaim itu terdapat dalam gambar tangkapan layar sebuah judul artikel yang berbunyi "4 Bulan Lalu Dihina Presiden Lebanon, Ternyata Turki yang Kirim Bantuan Pertama Kali!". Artikel tersebut dimuat oleh situs Swarakyat pada 6 Agustus 2020.

Di Facebook, gambar tangkapan layar itu diunggah salah satunya oleh akun Bambang, yakni pada 6 Agustus 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah disukai lebih dari 2.600 kali.

Adapun artikel Swarakyat tersebut menyatakan bahwa Presiden Lebanon Michel Aoun baru empat bulan yang lalu menghina Turki, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, dan Khilafah Utsmani. Namun, Turkilah yang pertama mengirimkan bantuan untuk Lebanon, yakni pada 5 Agustus malam, yang kemudian diikuti oleh Prancis.

Menurut artikel itu, Prancis membantu Lebanon karena banyak aset Prancis yang ada di Lebanon, termasuk perusahaan dan sekolah. "Tapi Turki tidak punya banyak kepentingan di Lebanon. Bahkan, Lebanon termasuk negara yang masuk dalam proxy Saudi yang membenci Erdogan," demikian isi artikel itu.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Bambang.

Apa benar Turki merupakan negara pertama yang mengirim bantuan ke Beirut meskipun sempat dihina oleh Presiden Lebanon Michel Aoun?

PEMERIKSAAN FAKTA

Dilansir dari kantor berita Turki, Anadolu Agency, Turki memang mengirimkan bantuan ke Lebanon menyusul ledakan yang terjadi di Pelabuhan Beirut pada 4 Agustus 2020. Menteri Kesehatan Turki Fahrettin Koca menyatakan telah berbicara via telepon dengan sejawatnya di Lebanon, Hamad Hassan, bahwa Turki akan mengirimkan bantuan ke Lebanon lewat Badan Penanggulangan Bencana dan Keadaan Darurat (AFAD).

Koca juga menggarisbawahi bahwa tim Turki yang terdiri dari 20 dokter telah diberangkatkan ke Lebanon pada 5 Agustus untuk memberikan perawatan bagi mereka yang terluka dalam insiden tersebut. Di sisi lain, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy mengatakan di Twitter bahwa Turki telah "mengambil tindakan untuk menyembuhkan luka Lebanon" atas instruksi Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Namun, dikutip dari BBC, penerbangan yang membawa bantuan medis, tim penyelamat, dan klinik keliling dari Prancis dan sejumlah negara lain telah tiba di Lebanon pada 5 Agustus. Menurut Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab, negaranya mengirimkan bantuan medis senilai 5 juta poundsterling.

Presiden Prancis Emmanuel Macron pun, dilansir dari Deutsche Welle, menjadi kepala negara pertama yang mengunjungi Lebanon, yakni pada 6 Agustus. Hubungan Prancis dengan Lebanon sudah berlangsung lama. Ketika Kekaisaran Ottoman runtuh setelah Perang Dunia I, Prancis diberi mandat untuk mengelola infrastruktur Lebanon oleh Liga Bangsa-Bangsa (saat ini Perserikatan Bangsa-Bangsa atau PBB).

Dalam konferensi persnya setelah berkeliling Beirut, Macron mengumumkan bahwa negaranya akan menyelenggarakan konferensi donor internasional untuk Lebanon. Ketika itu, tiga pesawat dari Prancis yang membawa bantuan telah tiba di Lebanon, sementara sebuah kapal perang dengan tim penyelamat dan persediaan medis juga sedang dalam perjalanan.

Pada 9 Agustus 2020, konferensi donor internasional untuk Lebanon pun digelar. Dikutip dari France24, konferensi yang digelar secara virtual oleh Prancis bersama PBB tersebut berhasil mengumpulkan komitmen bantuan kemanusiaan senilai 253 juta euro.

Dilansir dari kantor berita yang berbasis di Jerman, Ruptly, pada 5 Agustus pukul 20.24 waktu Lebanon, pesawat pertama yang membawa bantuan kemanusiaan Rusia juga telah mendarat di Beirut. Pesawat Sukhoi Superjet-100 ini membawa tim gugus tugas sebanyak 10 orang, 19 personel Tsentrospas (salah satu tim penyelamat dari Kementerian Situasi Darurat atau Emercom Rusia), serta dua petugas garis depan.

Sebelumnya, di hari yang sama, Menteri Kesehatan Lebanon mengumumkan bahwa Beirut telah menerima bantuan dari Yunani, Kuwait, dan Qatar. Prancis, Rusia, Uni Emirat Arab, Inggris, dan negara-negara lain juga tengah mengerahkan bantuan kemanusiaan ke Lebanon.

Penghinaan terhadap Erdogan

Berdasarkan penelusuran Tempo, tidak ditemukan pemberitaan bahwa Presiden Lebanon Michel Aoun menghina Turki maupun Erdogan sekitar empat bulan yang lalu. Justru, Tempo menemukan bahwa orang yang diduga menghina Erdogan adalah pembawa acara televisi Lebanon, Neshan Der Haroutiounian.

Dilansir dari The 961, Neshan bakal diadili pada Oktober mendatang setelah diduga menghina Erdogan dalam sebuah siaran langsung televisi. Pada awal Juni, dalam acara mingguan populernya "Ana Heik" di saluran Al-Jadeed, Neshan menyebut Erdogan sebagai "seorang Ottoman yang ganas", sebagai tanggapan atas cuitan seorang penonton yang melabeli pembawa acara itu sebagai "pengungsi".

Dia kemudian mengarahkan komentarnya pada "Erdogan, rezim (Turki), Ottoman, dan bangsa Turki", yang memicu kemarahan pendukung Turki dan memicu tanggapan dari otoritas Turki.

Kementerian Luar Negeri Lebanon mengatakan, untuk memastikan "semua media Lebanon" menghormati "martabat negara Turki yang diwakili oleh presidennya", pihak berwenang Turki meminta pemerintah Lebanon untuk menempuh proses hukum terhadap pembawa acara televisi tersebut.

Selain itu, Kedutaan Besar Turki di Beirut mengeluarkan siaran pers yang mengatakan bahwa pernyataan yang dilontarkan oleh Neshan dan tamunya, politikus Lebanon Wiam Wahab, dalam episode pada 10 Juni itu telah menyinggung Erdogan dan rakyat Turki.

Hal ini juga diberitakan oleh Alaraby. Kedutaan Besar Turki di Lebanon telah menghubungi Kementerian Luar Negeri Lebanon dan meminta mereka mengambil "tindakan yang diperlukan" terhadap acara televisi "Ana Heik" yang disiarkan pada 10 Juni di saluran Al-Jadeed.

Dalam siaran tersebut, pembawa acara televisi itu, Neshan Der Haroutiounian, mewawancarai mantan Menteri Lingkungan Lebanon Wiam Wahab, dan menurut kantor berita nasional yang dikelola pemerintah Lebanon, keduanya "secara terbuka menyinggung" Erdogan dan rakyat Turki.

Menanggapi pesan dari seorang penonton yang menuduh pembawa acara itu rasis karena menyebut Erdogan jahat, Neshan menegaskan (dia) "... iblis dan putra dari sejuta orang jahat" sebelum mengklarifikasi bahwa serangannya diarahkan kepada "Erdogan, rezim (Turki), Ottoman, dan bangsa Turki".

Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Lebanon Hani Chmeitli menuntut Kementerian Informasi mengambil "langkah-langkah yang diperlukan ... mengingat serangan semacam itu akan mengganggu hubungan Lebanon dengan negara-negara asing," ujar Chmeitli.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa Turki merupakan negara pertama yang mengirim bantuan ke Beirut meskipun sempat dihina oleh Presiden Lebanon Michel Aoun, keliru. Turki memang mengirim bantuan ke Lebanon pada 5 Agustus 2020 setelah terjadinya ledakan di Beirut, ibukota Lebanon, pada 4 Agustus 2020. Namun, di hari yang sama, sejumlah negara lain, seperti Yunani, Kuwait, Qatar, Prancis, Rusia, dan Inggris juga telah mengirimkan bantuan ke Lebanon. Selain itu, tidak ditemukan pemberitaan bahwa Presiden Lebanon Michel Aoun telah menghina Turki maupun presidennya, Recep Tayyip Erdogan. Justru, ditemukan pemberitaan bahwa penghinaan tersebut dilontarkan oleh seorang pembawa acara televisi Lebanon.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya