[Fakta atau Hoaks] Benarkah Dokter Italia Temukan Sebab Kematian Covid-19 adalah Bakteri Bukan Virus?

Rabu, 27 Mei 2020 14:15 WIB
 


 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Dokter Italia Temukan Sebab Kematian Covid-19 adalah Bakteri Bukan Virus?

Pesan berantai yang menyebut dokter di Italia menemukan bahwa penyebab kematian pada pasien Covid-19 adalah bakteri, bukan virus, beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Menurut narasi itu, hal ini menyebabkan penggumpalan darah yang disebut koagulasi intravaskular diseminata (DIC) atau trombosis sehingga bisa disembuhkan dengan antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan.

Di bagian awal pesan berantai itu, terdapat judul yang berbunyi "Di Italia Obat untuk Coronavirus Akhirnya Ditemukan". Kemudian, terdapat narasi, "Dokter Italia, tidak mematuhi hukum kesehatan dunia WHO, untuk tidak melakukan otopsi pada kematian Coronavirus dan mereka menemukan bahwa BUKANLAH VIRUS, tetapi BAKTERIlah yang menyebabkan kematian. Ini menyebabkan gumpalan darah terbentuk dan menyebabkan kematian pasien."

Pesan berantai tersebut juga memuat klaim, "Italia mengalahkan apa yang disebut Covid-19, yang tidak lain adalah 'Koagulasi intravaskular diseminata' (Trombosis). Dan cara untuk memeranginya, yaitu, penyembuhannya, adalah dengan 'antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan'. Menurut ahli patologi Italia. 'Ventilator dan unit perawatan intensif tidak pernah dibutuhkan.'"

Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp.

Bagaimana kebenaran klaim-klaim dalam pesan berantai di atas?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi isi dari pesan berantai tersebut, Tim CekFakta Tempo melakukan riset di situs-situs kredibel, baik dalam maupun luar negeri, lewat mesin pencarian Google.

Klaim 1: Covid-19 disebabkan oleh bakteri, bukan virus, sehingga bisa disembuhkan dengan antibiotik, anti-inflamasi, dan antikoagulan

Fakta:

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Covid-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh jenis virus Corona baru yang ditemukan pertama kali di Wuhan, Cina, pada Desember 2019. Virus Corona adalah kelompok virus yang dapat menyebabkan penyakit pada hewan atau manusia. Beberapa jenis virus Corona diketahui menyebabkan infeksi saluran pernapasan pada manusia, mulai dari batuk dan pilek hingga yang lebih serius, seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Virus Corona jenis baru yang menyebabkan Covid-19 diberi nama SARS-CoV-2.

Dilansir dari India Today, ahli pulmonologi dari Max Hospital India, Sharad Joshi, juga menyatakan bahwa klaim "Covid-19 disebabkan oleh bakteri, bukan virus" keliru. Menurut Joshi, Covid-19 adalah infeksi virus. Infeksi bakteri sekunder, sepsis, dan koagulasi intravaskular diseminata (DIC) memang bisa terjadi. Namun, sebagai akibat dari komplikasi yang umum ditemukan pada semua penyakit virus.

Karena itu, pemberian antibiotik kepada pasien Covid-19 ditujukan untuk melawan infeksi bakteri sekunder. Menurut Direktur Rumah Sakit Lok Nayak Jai Prakash Narayan India, Suresh Kumar, secara ilmiah, tidak ada peran antibiotik untuk mengobati Covid-19. "Antibiotik diberikan untuk melawan infeksi bakteri sekunder atau kolateral," ujarnya.

Dikutip dari artikel cek fakta FullFact, Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menyatakan bahwa anti-inflamasi non-steroid dengan dosis rendah, seperti ibuprofen, bisa digunakan untuk menurunkan demam atau rasa nyeri akibat Covid-19. NHS merekomendasikan, "Cobalah paracetamol terlebih dahulu, karena memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang ibuprofen dan merupakan pilihan yang lebih aman bagi kebanyakan orang."

Adapun antikoagulan, obat untuk mencegah pembekuan darah, telah dikaitkan dengan hasil yang lebih baik pada pasien Covid-19 tertentu. British Thoracic Society telah mempublikasikan panduan tentang dosis yang direkomendasikan dari heparin dengan berat molekul rendah pada pasien Covid-19 yang terkonfirmasi atau diduga mengalami trombosis.

Klaim 2: Penyebab kematian pada pasien Covid-19 adalah koagulasi intravaskular diseminata (DIC) atau trombosis, bukan pneumonia

Fakta:

Dilansir dari The Journal Irlandia, sejumlah penelitian memang menemukan hubungan antara Covid-19 dengan trombosis. Ada pula pemeriksaan yang menghubungkan Covid-19 dengan DIC. Namun, keliru jika mengklaim bahwa pasien Covid-19 telah salah didiagnosa mengidap pneumonia. Faktanya, pasien dengan Covid-19 yang parah sering mengalami pneumonia.

Dikutip dari FullFact, pneumonia merupakan komplikasi yang paling umum terjadi pada pasien Covid-19 yang parah. Menurut sebuah penelitian, baik pneumonia maupun DIC bisa dialami pada waktu yang sama oleh pasien Covid-19. "Trombosis paru-paru merupakan faktor yang bisa mempersulit jalannya pneumonia pada pasien Covid-19," demikian penjelasan FullFact.

Dilansir dari artikel cek fakta Correctiv, memang terdapat penelitian oleh dokter di Italia pada 22 April 2020, namun belum menjalani peer-review atau tinjauan sejawat, yang menemukan pasien Covid-19 dengan trombosis. Karena itu, mereka mengusulkan penggunaan antikoagulan. Namun, penelitian tersebut tidak menyimpulkan bahwa pasien Covid-19 meninggal hanya karena trombosis.

Selain pneumonia, WHO telah mendaftarkan trombositopenia sebagai kemungkinan komplikasi dalam kasus kritis Covid-19 sejak akhir Januari. Trombositopenia adalah penurunan jumlah trombosit yang meningkatkan risiko trombosis. Karena itu, WHO juga menyarankan penggunaan antikoagulan heparin dengan berat molekul rendah pada pasien remaja dan dewasa yang tidak memiliki kontraindikasi. Jika memiliki kontraindikasi, WHO menyarankan untuk menggunakan alat kompresi pneumatik intermiten.

Klaim 3: Ventilator dan unit perawatan intensif (ICU) tidak pernah dibutuhkan oleh pasien Covid-19

Fakta:

Menurut WHO, sekitar 80 persen penderita Covid-19 akan sembuh tanpa memerlukan perawatan rumah sakit. Tapi satu dari enam penderita bakal mengalami sakit yang parah. Dikutip dari BBC, dalam kasus yang parah ini, virus akan menyebabkan kerusakan pada paru-paru sehingga kadar oksigen dalam tubuh menurun dan membuat penderita sulit bernapas. Untuk meringankan kasus ini, ventilator digunakan untuk mendorong udara, dengan meningkatkan kadar oksigen, ke paru-paru.

Selain itu, ventilator memiliki pelembab udara, yang menambah panas dan kelembaban pada pasokan udara sehingga sesuai dengan suhu tubuh pasien. Pasien pun diberi obat untuk mengendurkan otot-otot pernapasan sehingga napas mereka dapat sepenuhnya diatur oleh mesin. Pasien dengan gejala lebih ringan dapat diberi corong yang dikenal sebagai ventilasi non-invasif, karena tidak memerlukan pipa internal. Bentuk ventilasi lainnya adalah tekanan saluran napas positif kontinyu (CPAP).

Dilansir dari India Today, berdasarkan penjelasan para praktisi kesehatan senior, tidak semua pasien Covid-19 membutuhkan ventilator dan ICU. Mereka yang membutuhkan ventilator dan ICU adalah pasien Covid-19 dengan kondisi kritis atau mengalami kegagalan multi-organ. Sergio Harasi, Direktur Unit Operasi Pneumologi Rumah Sakit San Giuseppe Italia, mengatakan, "Sebagian besar kematian Covid-19 disebabkan oleh pneumonia interstisial dan gagal napas. Klaim bahwa pasien tidak seharusnya diintubasi patut dipertanyakan."

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim-klaim dalam pesan berantai di atas keliru. Covid-19 disebabkan oleh virus, bukan bakteri. Antibiotik diberikan kepada pasien Covid-19 yang mengalami infeksi bakteri sekunder. Anti-inflamasi diberikan untuk menurunkan demam atau rasa nyeri akibat Covid-19. Adapun antikoagulan direkomendasikan bagi pasien Covid-19 yang mengalami trombosis. Beberapa penelitian memang menemukan pasien Covid-19 yang mengalami trombosis. Namun, menyimpulkan bahwa pasien Covid-19 meninggal hanya karena trombosis keliru. Selain trombosis, pasien Covid-19 kebanyakan meninggal karena pneumonia dan gagal napas. Terkait klaim ventilator dan ICU tidak dibutuhkan oleh pasien Covid-19, juga keliru.

IBRAHIM ARSYAD | ANGELINA ANJAR SAWITRI

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya