[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Bisa Dibunuh dengan Konsumsi Makanan Alkali?

Kamis, 2 April 2020 16:01 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Virus Corona Bisa Dibunuh dengan Konsumsi Makanan Alkali?

Pesan berantai yang menyebut virus Corona Covid-19 memiliki derajat keasaman (pH) 5,5-8,5 beredar di WhatsApp pada Kamis, 2 April 2020. Menurut pesan itu, dengan derajat keasaman tersebut, virus Corona bisa dibunuh dengan konsumsi makanan alkali yang mengandung pH lebih tinggi dibanding pH virus.

Sebagai informasi, semakin rendah pH suatu unsur, unsur tersebut akan semakin bersifat asam. Adapun makanan alkali adalah makanan yang mengandung pH basa atau pH lebih dari 7 (pH yang dianggap netral).

"Ini untuk memberi tahu kami semua bahwa pH untuk virus korona bervariasi dari 5,5 hingga 8,5. Yang perlu kita lakukan, untuk mengalahkan virus korona adalah mengambil lebih banyak makanan alkali yang berada di atas tingkat pH virus," demikian narasi dalam pesan berantai itu.

Pesan ini pun berisi beberapa makanan yang memiliki pH di atas 8,5 persen. Beberapa di antaranya adalah lemon dengan pH 9,9, alpukat (pH 15,6), bawang putih (pH 13,2), mangga (pH 8,7), nanas (pH 12,7), dandelion (pH 22,7), dan jeruk (pH 9,2).

Selain itu, pesan tersebut memaparkan enam gejala Covid-19, yakni gatal di tenggorokan, tenggorokan kering, batuk kering, suhu tinggi, sesak nafas, serta kehilangan bau dan rasa. "Jadi, ketika Anda memperhatikan hal-hal ini dengan cepat ambil air hangat dengan lemon dan minum."

Gambar tangkapan layar pesan berantai yang beredar di WhatsApp yang memuat klaim keliru mengenai derajat keasaman atau pH virus Corona Covid-19.

Apa benar konsumsi makanan alkali bisa membunuh virus Corona Covid-19?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, pesan berantai itu tidak hanya beredar di Indonesia. Pesan tersebut juga beredar di India dan Afrika dalam versi bahasa Inggris, dengan klaim bahwa informasi itu berasal dari penelitian yang diterbitkan di Journal of Virology.

Tempo pun memeriksa jurnal tersebut dan menemukan penelitian yang berjudul "Alteration of the pH Dependence of Coronavirus-Induced Cell Fusion: Effect of Mutations in the Spike Glycoproteint". Penelitian ini dilakukan oleh Thomas Gallagher, Cristina Escarmis, dan Michael Buchmeier dari Departemen Neurofarmakologi Scripps Clinic and Research Foundation, California.

Klaim mengenai derajat keasaman (pH) dalam pesan berantai di atas tampaknya dicomot dari penelitian ini, sebagaimana yang tertulis di bagian abstrak, yakni "infeksi sel murine yang rentan terhadap coronavirus mouse hepatitis virus tipe 4 (MHV4) menghasilkan fusi sel-sel yang luas pada pH 5,5-8,5".

Namun, penelitian itu diterbitkan pada 1991 dan terkait dengan coronavirus mouse hepatitis virus tipe 4, bukan virus Corona jenis baru, SARS-CoV-2, penyebab Covid-19. Seperti diketahui, virus Corona Covid-19 baru muncul pada Desember 2019, tepatnya di Kota Wuhan, Cina.

Dikutip dari media pemeriksa fakta India, The Quint, ahli virus Shaheed Jameel mengatakan bahwa virus tidak memiliki derajat keasaman atau pH. Oleh karena itu, pernyataan yang mengaitkan makanan yang diklaim memiliki pH tinggi dengan virus Corona Covid-19 tidak berdasar. "Virus tidak memiliki nilai pH. Tidak ada organisme hidup yang memiliki nilai pH," kata Shaheed.

Suranjit Chatterjee, Konsultan Senior Obat Penyakit Dalam di Rumah Sakit Indraprastha Apollo, mengatakan tidak ada bukti untuk mengklaim bahwa konsumsi makanan alkali dapat mengobati infeksi virus Corona Covid-19. "Ini hanya teori yang sedang beredar dan tidak hanya di India tapi juga di negara lain. Tidak ada bukti atau data untuk mengklaim bahwa makanan alkali akan menyembuhkan infeksi virus Corona," katanya.

Hal senada dilaporkan oleh organisasi pemeriksa fakta Afrika, AfricaCheck. Berdasarkan keterangan Tanimola Akande, profesor kesehatan masyarakat Universitas Ilorin, Nigeria, virus Corona Covid-19 "tidak memiliki pH sendiri". Namun, virus Corona bertahan dengan baik di lingkungan dengan pH sekitar 6 dan tidak mampu bertahan pada pH di atas 8.

Oyewale Tomori, profesor virologi WHO, juga mengatakan bahwa klaim tentang pH pada virus Corona Covid-19 keliru. "Virus Corona tidak ada hubungannya dengan perut. Jadi, bagaimana 'makanan alkali', seperti lemon, jeruk nipis, alpukat, dan bawang putih, mengalahkan virus? Klaim ini harus diabaikan," ujarnya.

Klaim tentang lemon

Dilansir dari situs Australian Academy of Science, lemon memiliki pH sekitar 2, bukan 9,9 seperti yang terdapat dalam pesan berantai di atas. Oleh karena itu, lemon memiliki rasa yang cukup asam. Semakin rendah pH suatu zat, zat tersebut akan semakin bersifat asam.

Selain itu, dilansir dari Euronews, mengkonsumsi makanan tertentu yang memiliki pH di bawah ataupun di atas 7 tidak akan mengubah derajat keasaman dalam tubuh. Pasalnya, tubuh telah mengatur derajat keasamannya dalam kisaran yang sangat sempit, terbatas pada pH 7,37-7,43, agar sel-sel tetap berfungsi.

"Ketika Anda minum jus lemon dengan pH 2,5 dan masuk ke lambung Anda yang memiliki pH 1,5-3,5, lemon tidak akan mengubah lambung yang sudah asam. Selain itu, pompa proton dalam lambung akan mempertahankan pH-nya,” kata Michael Kann, profesor virologi klinis di Universitas Gothenburg, Swedia.

Bahkan, jika ada cara untuk mengubah pH darah, tubuh akan mencoba menyesuaikannya kembali. Satu hal yang paling mungkin mempengaruhi derajat keasaman di dalam tubuh adalah melalui pernapasan. Jika tingkat pernapasan lebih rendah, tubuh akan mengumpulkan CO2 yang mengarah ke pengasaman. Sebaliknya, jika tingkat pernapasan lebih tinggi, CO2 berkurang dan akan meningkatkan pH. Namun, jika pH darah tidak normal, seseorang justru akan sakit.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa virus Corona Covid-19 memiliki derajat keasaman atau pH 5,5-8,5 keliru. Klaim ini mengutip penelitian yang terbit pada 1991, jauh sebelum virus Corona Covid-19 muncul pada Desember 2019. Virus, termasuk virus Corona, juga tidak memiliki pH. Oleh karena itu, konsumsi makanan alkali dengan pH yang lebih tinggi tidak bisa membunuh virus Corona Covid-19.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya