[Fakta atau Hoaks] Benarkah Berendam di Laut Bisa Obati Infeksi Virus Corona Covid-19?

Rabu, 1 April 2020 16:59 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Berendam di Laut Bisa Obati Infeksi Virus Corona Covid-19?

Pesan berantai yang menyebut berendam air laut bisa mengobati infeksi virus Corona Covid-19 beredar di grup-grup percakapan WhatsApp pada Rabu, 1 April 2020. Pesan berantai itu berisi testimoni dari seseorang yang mengklaim berhasil sembuh dari Covid-19 setelah berendam air laut.

"Ternyata virus Corona dapat diobati dengan cara berendam di air laut! Berendam di waktu siang hari di antara jam 10 sampai dengan jam 1 siang minimal 1 jam. Saya telah mencobanya, awalnya saya ragu. Tapi Alhamdulilah semua ada jalannya. Dan terbukti hasilnya," demikian narasi dalam pesan berantai itu.

Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang berisi narasi keliru mengenai berendam di laut bisa mengobati infeksi virus Corona Covid-19.

Sebelum pesan berantai tersebut beredar, sebuah berita berjudul "Berenang Di Laut Menghalau Virus Corona" muncul di situs Waspada.id pada 27 Maret 2020. Berita itu berisi cerita tentang puluhan pemuda di Medan yang berendam di laut sekitar Pelabuhan Belawan. Mereka meyakini air laut mampu menghalau virus, termasuk Corona.

Apa benar berendam di laut bisa mengobati infeksi virus Corona Covid-19?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menghubungi dokter spesialis paru konsultan Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan Jakarta, Erlina Burhan, pada Rabu sore, 1 April 2020. Dia menuturkan bahwa klaim "berendam di laut bisa mengobati infeksi virus Corona Covid-19" tidak benar.

Menurut Erlina, mustahil Covid-19 bisa disembuhkan hanya dengan berendam di laut. Pasalnya, virus Corona tidak menyerang permukaan tubuh seperti kulit, melainkan menyerang sel-sel di dalam tubuh setelah virus tersebut masuk ke mata, mulut, atau hidung lewat tetesan atau droplet orang yang mengidap Covid-19.

Virus yang berada dalam tetesan itu kemudian bergerak ke bagian belakang hidung dan selaput lendir di belakang tenggorokan, lalu menempel pada reseptor tertentu dalam sel. Paku-paku dalam virus itu kemudian mengait ke membran sel sehingga memungkinkan materi genetik virus memasuki sel manusia.

"Materi genetik virus itu melanjutkan membajak metabolisme sel manusia, melipatgandakan dan membuat virus baru," kata William Schaffner, spesialis penyakit menular Vanderbilt University Medical Center di Nashville, Amerika Serikat, seperti dikutip dari The New York Times.

Wakil Kepala Bidang Penelitian Fundamental Lembaga Biologi Molekular (LBM) Eijkman Institute, Herawati Sudoyo, juga memaparkan hal serupa. "Saya kira tidak ada landasan ilmiah bahwa kadar garam tertentu yang bersentuhan dengan kulit itu 'mematikan virus'," ujar Hera saat dihubungi pada 1 April 2020.

Menurut Hera, penyakit yang disebabkan oleh virus, termasuk Covid-19, hanya bisa disembuhkan dengan kombinasi obat-obatan, termasuk antivirus, yang berfungsi untuk memutus atau menghambat replikasi virus dalam sel tubuh manusia. "Saat ini, ada beberapa studi multicenter untuk mencari obat yang efektif," katanya.

Berendam di laut pun tidak tercantum dalam rekomendasi pencegahan Covid-19 oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut WHO, cara yang paling efektif untuk melindungi diri dari Covid-19 adalah rajin membersihkan tangan dengan sabun dan air atau pembersih berbasis alkohol, menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk atau bersin, tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, serta mengisolasi diri jika merasa tidak sehat.

Adapun mengenai vaksin atau obat untuk Covid-19, sejauh ini, WHO belum menyatakan adanya vaksin atau obat yang bisa digunakan untuk mencegah atau mengobati Covid-19. Mereka yang terinfeksi hanya perlu mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala. Sementara mereka yang memiliki gejala lebih serius harus dibawa ke rumah sakit.

Berisiko terpapar penyakit lain

Sebuah penelitian yang digelar baru-baru ini menunjukkan bahwa mandi di laut bisa meningkatkan risiko terpapar penyakit. Meskipun, di satu sisi, mandi di laut bisa meningkatkan kebugaran, kesejahteraan, dan mempererat hubungan manusia dengan alam.

Dikutip dari artikel di Republika.co.id pada 19 Maret 2018, penelitian oleh University of Exeter Medical School bersama Pusat Ekologi dan Hidrologi AS itu menemukan bahwa mandi air laut bisa meningkatkan risiko terkena penyakit hingga dua kali lipat, seperti penyakit telinga secara umum dan penyakit telinga secara khusus hingga 77 persen. Adapun risiko penyakit gastrointestinal dapat meningkat 29 persen.

"Di negara-negara kaya seperti Inggris, ada persepsi bahwa, jika ingin jarang sakit, habiskan banyak waktu di laut. Namun, makalah kami menunjukkan sebaliknya, bahwa menghabiskan banyak waktu di laut meningkatkan kemungkinan berkembangnya banyak penyakit, seperti penyakit telinga dan penyakit yang melibatkan sistem pencernaan, yakni sakit perut dan diare. Kami menduga, hal ini mengindikasikan bahwa polutan mencemari laut beberapa negara terkaya di dunia," ujar peneliti University of Exeter Medical School, Anne Leonard.

Saat ini, air laut telah tercemar berbagai macam polutan, termasuk limbah industri, limbah rumah tangga, dan limbah pertanian. Adapun penelitian tersebut dilakukan terhadap 120 ribu responden. Studi ini mengamati hubungan antara kebiasaan mandi laut dan kejadian penyakit di negara-negara seperti AS, Inggris, Australia, Selandia Baru, Denmark, dan Norwegia.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa berendam di laut bisa mengobati infeksi virus Corona Covid-19 adalah klaim yang keliru. Sebagaimana sifat virus lainnya, virus Corona Covid-19 menyerang sel-sel di dalam tubuh, bukan permukaan tubuh seperti kulit, sehingga tidak bisa disembuhkan hanya dengan berendam di laut. Hingga kini pun, menurut WHO, belum ada obat atau vaksin untuk menyembuhkan atau mencegah Covid-19.

IKA NINGTYAS | ANGELINA ANJAR SAWITRI

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya