[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pakaian Bekas di Video Ini Berasal dari Pasien Corona di Cina yang Sudah Meninggal?

Selasa, 31 Maret 2020 18:34 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Pakaian Bekas di Video Ini Berasal dari Pasien Corona di Cina yang Sudah Meninggal?

Sebuah video pendek yang berisi foto pakaian dalam puluhan kantong plastik viral di Twitter sejak Senin, 30 Maret 2020. Pakaian dalam kantong-kantong itu diklaim sebagai pakaian bekas dari pasien yang positif terinfeksi virus Corona Covid-19 di Cina yang sudah meninggal.

Salah satu akun Twitter yang mengunggah video berdurasi 1 menit 18 detik itu adalah akun @kharimakharima1. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah di-retweet lebih dari 900 kali, disukai lebih dari 1.300 kali, dan ditonton lebih dari 28 ribu kali.

Akun ini menulis, "Yaa Allah. China memang bener" jahat. Mengirim baju" bundle pakaian bekas dipakai orang" yg sudah mati akibat virus. Jangan beli apa" pun barang dari China."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @kharimakharima1 yang memuat narasi sesat mengenai video yang diunggahnya.

Apa benar pakaian bekas dalam video di atas berasal dari pasien Corona di Cina yang sudah meninggal?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, pakaian dalam puluhan kantong plastik di video tersebut bukanlah pakaian bekas dari pasien yang positif terinfeksi virus Corona Covid-19 di Cina yang sudah meninggal. Pakaian itu pun sama sekali tidak terkait dengan pandemi Covid-19.

Temuan itu didapatkan dengan mengambil gambar tangkapan layar dari video itu dan memasukkannya ke Source, reverse image tool yang dibuat oleh Storyful dan Google. Hasil penelusuran dengan Source menunjukkan bahwa foto pakaian dalam kantong-kantong plastik itu telah beredar sejak 30 Januari 2013, jauh sebelum mewabahnya virus Corona Covid-19 sejak Desember 2019.

Gambar tangkapan layar hasil penelusuran foto dengan Source.

Foto tersebut pertama kali diunggah di situs Department Store Liquidations, perusahaan penyedia pakaian bekas yang berpusat di Amerika Serikat. Perusahaan itu menyatakan bahwa mereka menyediakan berbagai jenis pakaian bekas, mulai dari kaos, kemeja, celana, rok, hingga gaun.

Kemudian, pada 10 Juni 2016, Shree Impex, perusahaan penyedia pakaian bekas yang bermarkas di Gujarat, India, menggunakan foto itu dalam situs Eksportersindia.com. Situs ini merupakan situs jual-beli yang berbasis di India. Oleh Shree Impex, foto tersebut digunakan sebagai ilustrasi atas produk yang dijualnya, yakni pakaian bekas.

Apakah virus Corona Covid-19 bisa hidup di pakaian?

Dikutip dari Huffpost, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) menjelaskan bahwa virus Corona Covid-19 biasanya tersebar melalui tetesan atau droplet ketika orang yang terinfeksi bersin atau batuk ketimbang melalui benda yang terkontaminasi. Namun, CDC mencatat beberapa bukti yang menunjukkan bahwa virus Corona Covid-19 dapat bertahan selama berjam-jam di permukaan sebuah benda, termasuk pakaian.

Menurut spesialis kesehatan masyarakat Carol Winner, pakaian dapat menahan droplet. Pakaian memang dapat mengering seiring waktu dan menonaktifkan virus. Namun, menurut dia, tidak berarti bahwa pengeringan tersebut terjadi dengan cepat.

Meskipun begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa menerima paket dari Cina tidak akan membuat seseorang tertular virus Corona Covid-19. Berdasarkan analisa WHO, virus Corona tidak akan bertahan lama pada benda-benda, seperti paket.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa pakaian dalam video di atas merupakan pakaian bekas dari pasien Corona di Cina yang sudah meninggal, menyesatkan. Foto pakaian dalam kantong-kantong plastik tersebut sudah beredar sejak 30 Januari 2013, jauh sebelum mewabahnya virus Corona Covid-19 sejak Desember 2019 lalu.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya