[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Muslim yang Dianiaya Akibat UU Kewarganegaraan India?

Kamis, 5 Maret 2020 08:34 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Muslim yang Dianiaya Akibat UU Kewarganegaraan India?

Video yang memperlihatkan penganiayaan oleh puluhan orang terhadap satu pria beredar di media sosial. Video tersebut dibagikan dengan narasi bahwa pria itu adalah seorang muslim di India yang mengalami penindasan. Unggahan ini menyebar usai meletusnya kerusuhan di New Delhi terkait Undang-undang Kewarganegaraan India.

Dalam video yang berdurasi sekitar 18 detik tersebut, terlihat seorang pria berkemeja ungu yang dipukuli dengan kayu dan dilempari batu. Selain puluhan orang yang menganiaya pria itu, terdapat pula puluhan orang lainnya yang menyaksikan peristiwa tersebut.

Di Instagram, video tersebut dibagikan akun @hooligan.utara_2008 pada 28 Februari 2020. Akun ini menulis narasi untuk video tersebut dalam bahasa Jawa yang berarti, "Itu muslim India ditindas sama kayak Rohingya di Myanmar." Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah disukai lebih dari 3 ribu kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Instagram @hooligan.utara_2008 yang memuat narasi sesat mengenai video yang diunggahnya.

Apa benar video di atas merupakan video seorang muslim yang dianiaya akibat UU Kewarganegaraan India?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, video yang sama sudah beredar di India sejak awal Februari 2020 lalu, sebelum kerusuhan di New Delhi terkait UU Kewarganegaraan India meletus pada 23 Februari 2020. Video itu pun bukan video muslim yang dianiaya akibat UU Kewarganegaraan India.

Kanal YouTube salah satu stasiun televisi di India, New Delhi Television Limited (NDTV), mengunggah video itu pada 5 Februari 2020. Video tersebut diberi judul "1 Dead As Farmers Attacked Over Child Lifting Rumours In Madhya Pradesh".

Video tersebut diunggah dengan keterangan, "Seorang petani tewas dan lima lainnya dirawat di rumah sakit, empat di antaranya kritis, setelah mereka diserang oleh ratusan warga desa karena dituduh sebagai penculik anak di Distrik Dhar, Madhya Pradesh, pada Rabu sore (5 Februari 2020)."

Gambar tangkapan layar unggahan video kanal YouTube NDTV mengenai penganiayaan terhadap sejumlah pria yang dipicu oleh desas-desus mengenai penculikan anak.

Situs cek fakta India, Factcrescendo, juga telah memverifikasi video yang di India diklaim sebagai video penganiayaan umat muslim oleh komunitas Hindu di New Delhi. Menurut temuan Factcrescendo, video itu diambil di Madhya Pradesh, bukan New Delhi.

Para pria dalam video itu dipukuli setelah seorang warga menyebarkan desas-desus bahwa mereka adalah pencuri anak. Karena kecurigaan itulah, penduduk desa menganiaya para pria tersebut yang menyebabkan satu orang di antaranya terbunuh. Artinya, video ini tidak terkait dengan kerusuhan mengenai UU Kewarganegaraan India di New Delhi.

Pemberitaan mengenai para pria yang dipukuli di Madhya Pradesh itu pun dimuat oleh sejumlah media. Dikutip dari BBC Hindi, pada 5 Februari 2020, beberapa orang dipukuli di Manwar, Distrik Dhar, Madhya Pradesh, karena tersebarnya isu tentang penculikan anak. Dalam insiden itu, satu orang tewas dan lima lainnya terluka parah.

Orang yang tewas tersebut telah diidentifikasi sebagai Ganesh Khasi yang berasal dari Desa Shivpur Kheda, Distrik Indore. Empat orang lainnya berasal dari Desa Limba Piplia, Distrik Ujjain. Sementara satu orang sisanya berasal dari Shivpur Kheda. Lima orang yang terluka parah tersebut telah dibawa ke Indore untuk mendapatkan perawatan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa video di atas merupakan video seorang muslim yang dianiaya akibat UU Kewarganegaraan India, menyesatkan. Video itu merupakan video penganiayaan terhadap enam pria yang dituduh sebagai penculik anak di Distrik Dhar, Madhya Pradesh. Peristiwa itu pun terjadi pada 5 Februari 2020, sebelum kerusuhan di New Delhi terkait UU Kewarganegaraan India meletus pada 23 Februari 2020 lalu.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya