[Fakta atau Hoaks] Benarkah Asteroid Akan Tabrak Bumi 9 September Ini?

Senin, 9 September 2019 17:40 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Asteroid Akan Tabrak Bumi 9 September Ini?

Sebuah video di YouTube berjudul "Waspada pada tanggal 9 September 2019 | Asteroid Akan Menabrak Bumi" viral. Hingga kini, video berdurasi 2 menit 37 detik itu telah ditonton lebih dari 50 ribu kali sejak diunggah oleh akun Anak Kos pada Rabu, 4 September 2019.

Video itu menggabungkan beberapa gambar dan video penampakan luar angkasa serta aktivitas para ilmuwan. Pengisi suara dalam video itu juga menyebut bahwa European Space Agency (ESA) telah mengeluarkan rilis yang menyatakan asteroid bernama 2006 QV89 akan menabrak bumi pada 9 September 2019.

Gambar tangkapan layar unggahan video di YouTube tentang asteroid akan menabrak bumi pada 9 September 2019.

Keterangan yang kontras antara judul dan isi ditemukan pada menit pertama. ESA menyebutkan bahwa kemungkinan asteroid itu menabrak bumi adalah 1:7.000.

Sementara narasi yang tertulis dalam keterangan video berbunyi: “Kabar bahwa meteor ini jatuh pada tanggal 9 september mendatang, hanya prediksi dari berbagai ilmuan di ESA, tetapi jauh dari pada itu semua baiknya kita sebagai manusia berdoa dan meminta perlindungan kepada allah swt.”

PEMERIKSAAN FAKTA

Sejumlah media memang memberitakan prediksi bahwa bumi akan dilewati oleh Asteroid 2006 QV89 pada 9 September 2019. Bukan tidak mungkin asteroid tersebut akan bertabrakan dengan bumi.

Asteroid itu sendiri memiliki ukuran sebesar Arc de Triomphe Paris yang bisa berdiameter hingga 40 meter atau 130 kaki.

Benda langit itu punya ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan diameter sebuah meteor yang pernah membuat geger masyarakat Chelyabinsk, Rusia, pada 2013. Dengan diameter sebesar 20 meter atau 65 kaki, meteor itu mampu melukai lebih dari 1.500 orang dan merusak 7.200 bangunan. Efek ledakannya pun terasa hingga ratusan mil jauhnya.

Akan tetapi, walaupun mempunyai ukuran yang lebih besar dari yang terjadi pada 2013, Asteroid 2006 QV89 nyatanya tidak terlalu membahayakan karena, menurut peneliti, persentasenya untuk bertabrakan dengan bumi hanya satu berbanding 7.000. Ukurannya pun tidak cukup besar untuk menghancurkan peradaban.

Persentase yang sangat kecil itu mengacu pada hasil pengamatan yang menunjukkan bahwa jarak antara Asteroid 2006 QV89 dengan pusat bumi pada 9 September adalah 6,8 juta kilometer, jarak yang sangat jauh jika dibandingkan dengan jarak bumi dengan bulan yang hanya 384.400 kilometer.

Hal itu juga disampaikan oleh Community Coordinator and Communication Strategy Officer European Southern Observatory (ESO), Oana Sandu. Menurut dia, Asteroid 2006 QV89 sebenarnya hanya memiliki kemungkinan 1 dibanding 7.000 untuk menabrak bumi pada 9 September 2019.

Asteroid 2006 QV89 adalah asteroid yang ditemukan pada 29 Agustus 2006 oleh Catalina Sky Survey. Asteroid itu, bersama dengan dua puluh ribu asteroid lainnya yang dikategorikan sebagai Apollo Type Asteroid, adalah asteroid yang lintasannya menyeberangi planet bumi.

Namun, asteroid itu dianggap tidak berbahaya karena berukuran sangat kecil dan pasti akan terbakar di atmosfer sebelum sampai ke permukaan bumi.

Asal mula informasi

Pada 1 Agustus 2019, situs EarthSky melansir cerita asal mula gegernya warganet soal isu Asteroid 2006 QV89 akan menabrak bumi pada 9 September 2019.

Menurut artikel itu, informasi tersebut berasal dari fakta bahwa asteroid ini muncul dalam "daftar obyek risiko" dari ESA, seperti halnya banyak obyek lainnya. Namun, ESA mengklasifikasikannya sebagai risiko non-prioritas. Asteroid 2006 QV89 memiliki Skala Torino 0 yang menunjukkan tidak adanya status bahaya.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, Tim CekFakta Tempo menyimpulkan bahwa video di YouTube berjudul "Waspada pada tanggal 9 September 2019 | Asteroid Akan Menabrak Bumi" tergolong sesat. Judul dan narasi yang dibagikan tidak sesuai dengan konteks yang disebut oleh para peneliti dari ESA dan ESO. Menurut penelitian ESA dan ESO, asteroid bernama 2006 QV89 itu memang masuk dalam "daftar obyek risiko". Namun, risikonya non-proritas karena tidak memiliki status bahaya.

IKA NINGTYAS