[Fakta atau Hoaks] Benarkah Remaja yang Dianiaya Polisi di Kompleks Masjid Al-Huda Bernama Harun Rasyid Asal Duri Kepa?

Jumat, 24 Mei 2019 22:57 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Remaja yang Dianiaya Polisi di Kompleks Masjid Al-Huda Bernama Harun Rasyid Asal Duri Kepa?

Video penganiayaan seorang remaja yang diduga dilakukan polisi di dekat kompleks Masjid Al Huda, menjadi viral di media sosial dan dibagikan melalui aplikasi pesan WhatsApp pada Jumat, 24 Mei 2019.

Salah satu akun yang membaginya adalah @kingpurwa. Dalam video berdurasi 39 detik, tampak sekitar 10 orang berseragam hitam dengan membawa tameng dan tongkat, menghajar seorang remaja di halaman sebuah masjid.

Video dugaan penganiayaan seorang remaja oleh polisi beredar viral. Beberapa akun di media sosial mengatakan remaja yang dianiaya tersebut bernama Harun Rasyid, 15 tahun, asal Duri Kepa.

Akun Mustofa Nahrawardaya, sempat mencuit bahwa nama remaja yang dipukuli itu adalah Harun, warga Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. 

“Innalillahi-wainnailaihi-raajiuun. Sy dikabari, anak bernama Harun (15) warga Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat yg disiksa oknum di Komplek Masjid Al Huda ini, Syahid hari ini. Semoga Almarhum ditempatkan di tempat yg terbaik disisi Allah SWT, Amiiiin YRA”

Cuitan itu sendiri telah dihapus pemiliknya, namun tangkapan layar sebelum cuitan dihapus dipakai oleh laman Portal Islam lewat artikelnya yang berjudul: “BPN: Innalillahi…Remaja yang Dianiaya Depan Masjid Al Huda Dikabarkan Mati Syahid” pada Jumat, 24 Mei 2019. 

Dalam artikel ini, Tempo akan memeriksa benarkah penganiayaan itu dilakukan oleh polisi seperti video yang menjadi viral tersebut? Dan, apakah remaja yang dianiaya itu adalah Harun yang beralamat di Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat?

 

PEMERIKSAAN FAKTA

Lokasi video itu benar diambil di dekat Masjid Al Huda di Jalan Kampung Bali XXXIII, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Tempo mencoba mengambil foto lingkungan masjid dari Parkiran Menara Thamrin, sesuai dengan sudut pengambilan video yang viral.

Gedung parkir ini berada di seberang masjid. Dilihat dari sudut pandang video yang beredar, kemungkinan besar rekaman pemukulan tersebut diambil dari tempat parkir ini. Sebab, satu-satunya gedung tinggi yang ada di dekat masjid adalah Parkiran Menara Thamrin.

Dari lantai 3 gedung parkir ini, Tempo melihat beberapa kesamaan antara video dengan lokasi. Pertama, kubah masjid yang berwarna emas. Kemudian, pagar biru yang mengelilingi masjid. Lalu, ada dua cone oranye berjejer di pinggir lapangan. Pantauan Tempo di lokasi, sekitar empat mobil terparkir di lokasi video viral.

Dari ketinggian ini, Tempo juga melihat gedung dengan saluran udara berdesain undakan warna abu-abu. Lokasi gedung ini ada di sebelah kanan masjid jika dilihat dari video.

Hasil foto Tempo di lokasi (kiri) dengan tangkapan layar dari video viral yang beredar (kanan) pada detik ke 00:32 menunjukkan beberapa kesamaan berupa kubah berwarna emas, pagar biru, dan gedung dengan undakan abu-abu.

Hasil foto Tempo di lokasi (kiri) yang telah diperbesar dengan tangkapan layar dari video viral yang beredar (kanan) pada detik ke 00:39 menunjukkan dua buah cone berwarna oranye.

Saat Tempo ke sana, beberapa anggota TNI terlihat beristirahat di halaman depan masjid. Dua anggota Brimob berjaga di area belakang masjid Jalan Kampung Bali XVII. Dua anggota Brimob lain berjaga di sisi kanan masjid Jalan Kampung Bali XXXII.

Warga setempat termasuk Imam Masjid Al Huda, Tajudin, mengkonfirmasi kebenaran insiden yang terjadi dalam video yang beredar tersebut.

Tajudin mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada Kamis, 23 Mei 2019 sekitar pukul 05.30 WIB. Namun, dia berujar, tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Dia mengaku sedang di rumah untuk sembunyi.

Menurut Tajudin, anak yang dipukuli oleh aparat berseragam hitam dalam video bukan massa aksi 22 Mei yang berunjuk rasa di depan kantor Bawaslu. Anak tersebut bekerja sebagai juru parkir di lahan kosong sekitar masjid milik Smart Services Parking.

"Dia bukan ngumpet, itu orang (juru) parkir," kata Tajudin saat ditemui wartawan di masjid Al Huda pada Jumat, 24 Mei 2019. 

Tajudin juga mengaku tidak mengetahui nama anak tersebut. Dari informasi yang diterimanya, polisi juga membawa orang lain saat kejadian di masjid itu. Salah satunya disebut pegawai perusahaan parkir. "Yang ke bawa tiga orang: supervisor satu, anak-anak itu dua orang," kata dia.

 

 

Bukan Harun dari Duri Kepa

Tempo memastikan bahwa identitas remaja yang menjadi korban dalam video di Masjid Al Huda itu bukan Harun yang beralamat di Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Dikutip dari suara.com, Harun (15), warga RT 09/ RW 10, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat meninggal dunia setelah terlibat kerusuhan 22 Mei di Jembatan Slipi Jaya, Slipi, Jakarta Barat, Rabu 22 Mei 2019 malam. Harun, meninggal setelah nyawanya tak tertolong ketika dibawa ke RS Dharmais, Jakarta Barat.

Almarhum Harun telah dikebumikan di TPU Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. 

Sementara itu, pada Sabtu, 25 Mei 2019 dini hari, polisi merilis identitas pria yang dipukuli di dalam video viral tersebut. 

"Ternyata pada kenyataannya orang yang dalam video tersebut adalah pelaku perusuh yang sudah kita amankan atas nama A alias Andri Bibir," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Polda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (25/5/2019) dini hari, seperti dikutip dari Detik.com.

Andri, sebut polisi, saat kerusuhan 22 Mei menyuplai batu-batu besar untuk dipakai para demonstran dan menyediakan air bilas untuk para demonstran yang terkena gas air mata dengan maksud agar kerusuhan berlanjut.

Andri dipukuli beramai-ramai karena pria berusia 30 tahun tersebut berupaya kabur saat diamankan. "Andri Bibir ini waktu lihat anggota, langsung dia mau kabur karena merasa salah. Ketakutan dia. Dikepung oleh anggota pengamanan," jelas Dedi.

Dedi menambahkan bahwa Andri saat ini masih hidup dan mendekam di Rutan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya guna menjalani proses hukum. 

Sebagai bagian dari kerja jurnalistik, kami mencari konfirmasi ulang pernyataan polisi tersebut, apalagi saat kemudian ada nama lain yang muncul sebagai sosok yang dipukuli, Markus.

Hasilnya, kami bertemu sejumlah saksi yang memberi pernyataan berbeda, ada yang memastikan korban pemukulan adalah Andri, namun ada juga yang mengatakan korban adalah Markus. Hingga kini, kejelasan soal siapa pria yang dipukuli itu memang masih kabur. Namun yang pasti, ia bukan Harun Rasyid yang diketahui tewas dalam kerusuhan di flyover Slipi.

Sementara itu, polisi telah menetapkan Mustofa Nahra sebagai tersangka atas unggahannya di media sosial soal kasus ini.

 

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas disimpulkan bahwa video penganiayaan seorang pria di dekat Masjid Al Huda benar dilakukan oleh aparat keamanan pada 23 Mei 2019.

Namun, identitas pria dalam video itu bukan Harun yang beralamat di Duri Kepa, Kebon Jeruk, seperti narasi yang berkembang. Sehingga, narasi yang menyebut remaja itu adalah Harun Rasyid, salah satu massa aksi demo 22-23 Mei, adalah sesat.

 

IKA NINGTYAS

 

Catatan: Artikel ini dilengkapi pada Rabu, 29 Mei 2019, menyusul adanya informasi tambahan tentang proses hukum tersangka Mustofa Nahra dan informasi tentang Markus.