Keliru, Informasi BMKG Tentang Pergeseran Tanah Lempengan di Bendungan Cirata, Purwakarta

Rabu, 23 November 2022 16:21 WIB

Keliru, Informasi BMKG Tentang Pergeseran Tanah Lempengan di Bendungan Cirata, Purwakarta

Dua rekaman suara yang diklaim merupakan informasi BMKG tentang pergeseran tanah di Bendungan Cirata, Purwakarta, beredar di WhatsApp. Rekaman suara tersebut beredar setelah gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat 21 November 2022.

Rekaman pertama berbunyi, “Berita dari BMKG barusan memberikan penjelasan dan keterangan bahwa pergeseran lempeng mengarah ke waduk Cirata Purwakarta, Bang Saigon. Diharapkan sama bapak, personil jangan semuanya masuk ke Cianjur. Kita harus siap siaga karena malam ini katanya ada pergeseran lempengan  tanah yang berada di Waduk Cirata. Dan seperti apa dampaknya…..yang penting kita siap siaga."

Tangkapan layar rekaman yang beredar di WhatsApp berisi informasi gempa di Bendungan Cirata, Purwakarta

Pesan suara lainnya berbunyi “Diinformasikan kepada rekan-rekan yang berada di wilayah Cianjur untuk tetap siaga, waspada. Diinformasikan dari BMKG, menurut prediksi BMKG, letak lempengan di paling ujung yaitu di Bendungan Cirata Purwakarta. Tetap siaga malam ini.  Untuk waktu belum bisa diprediksi, karena waktu bencana rahasia Allah”.

Betulkah informasi yang diklaim dari BMKG tersebut?  

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tempo, informasi melalui rekaman suara tersebut tidak berasal dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). 

Dalam siaran pers tanggal 22 November 2022, BMKG Stasiun Geofisika Bandung menuliskan BMKG tidak pernah membuat pernyataan seperti yang beredar di pesan suara tersebut. Dijelaskan pula, belum ada teknologi yang dapat memprediksi dengan tepat, kapan, dimana dan berapa kekuatan gempa yang terjadi.

"Informasi tersebut tidak benar dan BMKG tidak pernah menyampaikan serta menyebarluaskan kabar tersebut,” tulis BMKG Stasiun Geofisika Bandung.

Akun Twitter BMKG juga telah membantah pesan suara tersebut.

Sumber: akun Twitter resmi BMKG dan Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono

Informasi sebenarnya dari BMKG berupa himbauan agar masyarakat mewaspadai bencana lanjutan berupa tanah longsor dan banjir bandang pasca gempa berkekuatan 5,6 M di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Imbauan ini dikhususkan bagi masyarakat Cianjur yang bermukim di lereng-lereng perbukitan dan di lembah atau bantaran sungai.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan besar kemungkinan lereng-lereng perbukitan di Cianjur menjadi rapuh usai terjadinya gempa bumi. Hal ini dapat semakin diperparah dengan tingginya intensitas hujan yang berpotensi mengguyur Cianjur.

Gempa di Cianjur 

Pada 21 November 2022, gempa berkekuatan M 5,6 berpusat di Sukabumi. Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 6,86° LS ; 107,01° BT, atau tepatnya berlokasi di darat wilayah Sukalarang, Sukabumi, Jawa Barat, pada kedalaman 11 km.

BMKG menyebutkan, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal yang diakibatkan aktivitas sesar Cimandiri. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan geser ( strike-slip ).

Kepala Pusat Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, melalui akun Twitternya menuliskan bahwa gempa Sukabumi-Cianjur yang terjadi pada 21 November 2022 merupakan jenis gempa tektonik kerak dangkal (shallow crustal earthquake). Jenis gempa ini dipicu aktivitas sesar aktif pada zona sistem Sesar Cimandiri. 

Sesar Cimandiri terdiri dari tiga segmen sesar aktif yaitu Segmen Cimandiri di selatan, Segmen Nyalindung-Cibeber di tengah dan Segmen Raja Mandala di Utara.

Dilansir Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GFZ Jerman, kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif yang  lokasinya berada pada bagian timur laut zona sesar Cimandiri.

Dilansir Tempo.co, penelitian Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran menyebutkan Sesar Cimandiri merupakan sebuah sesar atau patahan yang berada di bagian barat Jawa Barat. Segmen bagian barat Sesar Cimandiri membentang dari Pelabuhanratu, Sukabumi, sampai Perbukitan Walat.

Sedangkan, segmen bagian timur sesar ini membentang dari perbatasan Sukabumi, Cianjur, dan membentang hingga Gunung Tangkuban Perahu. Segmen Cimandiri membentang sepanjang 23 kilometer dan menyimpan potensi gempa hingga maksimum 6,7 magnitudo. 

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta, Tim Cek Fakta Tempo menyimpulkan pesan suara yang mengklaim BMKG menginformasikan terjadi pergeseran tanah di Bendungan Cirata, Purwakarta adalah keliru.

BMKG mengatakan belum ada teknologi yang dapat memprediksi dengan tepat, kapan, dimana dan berapa kekuatan gempa yang terjadi. Masyarakat diimbau mewaspadai bencana lanjutan seperti  tanah longsor dan banjir bandang. 

Hal ini dimungkinkan mengingat lereng-lereng perbukitan di Cianjur dapat menjadi rapuh usai gempa bumi. Belum lagi ditambah tingginya intensitas hujan yang berpotensi mengguyur Cianjur dan sekitarnya.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id