Keliru, Video Seorang Bocah Kritis Usai Tersambar Petir karena Bermain Ponsel Saat Hujan

Selasa, 18 Oktober 2022 09:09 WIB

Keliru, Video Seorang Bocah Kritis Usai Tersambar Petir karena Bermain Ponsel Saat Hujan

Sebuah video dikirimkan pembaca Cek Fakta Tempo dengan narasi seorang anak kritis akibat tersambar petir ketika asyik bermain telepon seluler (ponsel) saat hujan deras.

Tim Cek Fakta Tempo memperoleh video berdurasi 11 detik tersebut melalui tipline chatbot. Seorang bocah tampak menjerit kesakitan dengan kondisi tangan berdarah beredar grup percakapan WhatsApp. 

Berikut narasi lengkapnya:

“Aslmkm imbauan utk semua bpk2 dan ibu2 yg ada di grup atau yg di luar grup, kejadian kemarin sore di cibereum seorang anak sedang asyik bermain hp disaat hujan deras di sambar petir hingga kritis, tolong kasih tau anak2 kota agar jngn main hp di saat hjn di manapun berada walau dlm rumah sekalipun, sayangi klrga kita, mudah2 info ini bermanfaat utk semuanya trima ksh. slm mj semua.”

Tangkapan layar video yang beredar di WhatsApp tentang klaim seorang bocah mengalami luka pada tangan akibat bermain ponsel hingga tersambar petir

Apa benar ini video seorang anak kritis usai disambar petir karena bermain ponsel saat hujan?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim Cek Fakta Tempo, bocah yang menjerit kesakitan dengan kondisi tangan terluka dalam video bukan karena tersambar petir saat bermain ponsel ketika hujan, melainkan terkena ledakan petasan.

Untuk memverifikasi klaim tersebut, Tempo memfragmentasi video tersebut dan melakukan penelusuran di internet dengan menggunakan reverse image tools Google dan Yandex. Tempo juga menelusuri pemberitaan terkait melalui sejumlah media kredibel.

Gambar tangkapan layar yang identik dengan bocah dalam video di atas diberitakan Kumparan, pada 16 Oktober 2022 dengan judul “Viral Bocah Tangan Hancur Tersambar Petir saat Main HP, Ternyata Kena Petasan.”

Gambar tangkapan layar tersebut diberí keterangan, “Viral video bocah tangan hancur tersambar petir saat main hp, ternyata kena petasan. Foto: Dok. Istimewa.”

Sumber: Kumparan

Menurut Kumparan, bocah malang tersebut bernama Febriansyah (10). Peristiwa nahas itu terjadi pada 9 Oktober 2022 lalu di Lapangan Madam, Kampung Malang nengah, Desa Ciseeng, Kabupaten Bogor.

Kasi Humas Polres Bogor Iptu Desi Triana mengatakan peristiwa terjadi pada pukul 14.00 WIB saat menghadiri salah acara keagamaan. Petasan sisa acara di lokasi lalu dibawa Febriansyah ke tengah lapang.

"Korban bersama temannya mengambil petasan sisa dari acara tersebut, dan sisa petasan yang di ambil korban dibawa ke lapangan, setelah tiba di TKP, tiba-tiba petasan meledak mengenai jari sebelah kiri," kata Iptu Desi kepada wartawan, Minggu, 16 Oktober 2022.

"Sisa petasan yang diambil korban dibawa ke Lapangan Madam. Setiba di Lapangan Madam, tiba-tiba petasan tersebut meledak dan mengenai tangan bagian jari sebelah kiri," papar Desi, dikutip dari Detik.com.

Ledakan petasan tersebut kemudian terdengar oleh warga sekitar. Kemudian warga segera mendatangi lokasi kejadian tersebut. "Korban dibawa ke rumah warga sekitar dan langsung dibawa ke RS Dhuafa Kemang," terangnya.

Polisi sudah melakukan pengecekan ke lokasi kejadian. Mereka juga telah membawa barang bukti dari kejadian tersebut.

Dilansir dari Sindonews.com, akibat ledakan petasan itu, tangan kiri pada bagian jari-jari Febriansyah mengalami luka parah. Korban sempat dibawa ke rumah warga sebelum akhirnya dilakukan ke RS Dhuafa untuk mendapat penanganan medis.

Penyebab Ponsel Meledak

Dikutip dari JawaPos.com, pengamat teknologi Lucky Sebastian menjelaskan, main handphone saat hujan atau saat mendung disertai petir dapat menyebabkan tersambar hanya mitos belaka. Menurutnya, tidak ada penjelasan teknis yang bisa memastikan bahwa handphone yang notabene menggunakan jaringan nirkabel bisa menyebabkan seseorang tersambar petir.

Ia menjelaskan bahwa petir terjadi karena awan yang sarat bermuatan listrik negatif, tertarik dengan listrik positif di bumi untuk segera menetralkan muatannya. Aliran listrik negatif dari awan ke bumi ini yang kita kenal sebagai petir.

Karena ingin segera mencapai bumi, maka petir atau kilat ini akan tertarik untuk menyambar atau melewati benda-benda yang lebih tinggi dari pada permukaan Bumi.

“Kalau dilihat dari teknologinya, rasanya hampir nggak mungkin pakai HP terus tersambar petir. Paling mungkin adalah saat pakai HP sembari di-charge, dan saat hujan, petir menyambar tiang listrik dan masuk ke rumah-rumah dan menyambar HP yang lagi di-charge sembari dipakai,” tegas Lucky.

Berdasarkan arsip berita Tempo, terdapat sejumlah faktor yang dapat menyebabkan ponsel meledak. Melansir PC Magazine, kemungkinan ponsel untuk meledak sebenarnya sangatlah kecil. Kebanyakan kasus ponsel meledak berkaitan dengan baterai. 

Kebanyakan ponsel masa kini ditenagai oleh baterai lithium-ion, yang mengandung keseimbangan elektroda positif dan negatif untuk memungkinkan pengisian ulang. Ketika terjadi kesalahan, komponen bagian dalam baterai dapat rusak dan menimbulkan reaksi volatil yang dapat menyebabkan kebakaran hingga ledakan.

Masalah yang paling umum yang dapat memicu hal itu adalah panas yang berlebih. Jika baterai yang diisi daya atau prosesor yang bekerja terlalu keras menjadi panas dengan terlalu cepat, hal itu dapat merusak susunan kimiawi pada komponen ponsel.

Dengan baterai, reaksi berantai yang disebut thermal runaway dapat membuat baterai menghasilkan lebih banyak panas dan akhirnya terbakar atau meledak.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta, video dengan klaim seorang anak kritis usai disambar petir karena bermain ponsel saat hujan adalah keliru

Kasi Humas Polres Bogor Iptu Desi Triana memastikan bocah tersebut bukan terkena petir melainkan terkena ledakan petasan.

Pengamat teknologi Lucky Sebastian juga menjelaskan bahwa tidak ada penjelasan teknis yang bisa menyebabkan seseorang tersambar petir. Sebab handphone notabene menggunakan jaringan nirkabel.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id