Keliru, Erupsi Gunung Semeru bukan Murni Bencana Alam, tapi karena Diusirnya seorang Habib

Kamis, 23 Desember 2021 17:11 WIB
 


 
Keliru, Erupsi Gunung Semeru bukan Murni Bencana Alam, tapi karena Diusirnya seorang Habib

Unggahan berisi narasi bahwa erupsi Gunung Semeru bukan bencana alam tapi karena diusirnya seorang habib, beredar di Facebook pada 22 Desember 2021. 

Unggahan itu berupa video berdurasi 29 menit, saat Aliansi Ulama Madura menggelar rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR RI. Pada bagian awal video, Imam Muti mengatakan bahwa tiga hari sebelum Gunung Semeru erupsi, seorang tokoh masyarakat dan guru ngaji, Habib Muhdor, yang tinggal di lereng Semeru diusir oleh salah satu anak pemilik rumah. 

“Dikabarkan, 40 warga yang mengusir hilang semua, tapi habib dalam kondisi selamat,” kata Imam Muti dalam video itu. 

Pengunggah video itu memberikan narasi, “Akhirnya terungkap gunung Semeru bukan lh murni bencana alam, ternyata ini…”

Video itu sudah ditonton 311 ribu kali dan mendapatkan komentar 1,8 ribu.

Tangkapan layar unggahan dengan klaim bahwa erupsi gunung merapi bukan murni bencana alam, tetapi karena diusirnya seorang habib.

PEMERIKSAAN FAKTA 

Rapat dengar pendapat (RDP) antara Aliansi Ulama Madura dengan Komisi III DPR RI itu memang digelar pada 7 Desember 2021, seperti yang dipublikasikan di kanal Youtube DPR RI. Akan tetapi Hasil pemeriksaan fakta Tempo menunjukkan, erupsi Gunung Semeru maupun gunung berapi lainnya, tidak berkaitan dengan klaim pengusiran seorang tokoh masyarakat. Gunung Semeru sendiri tercatat sudah 70 kali erupsi sejak awal abad ke-19. 

Habib Muhdor sendiri telah membantah dia diusir dan 40 warga yang mengusirnya hilang karena erupsi Gunung Semeru. Bantahan Habib Muhdor tersebut dimuat di laman Nahdlatul Ulama Jawa Timur pada 8 Desember 2021. 

Menurut Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung Dr.Eng. Mirzam Abdurrachman, S.T., M.T., mengatakan, secara umum gunung api meletus karena tiga hal. Pertama karena volume di dapur magmanya sudah penuh, kedua karena ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma, dan yang ketiga di atas dapur magma.

Khusus untuk Gunung Semeru, erupsi terjadi karena terkikisnya material abu vulkanik yang berada di tudung gunung tersebut membuat beban yang menutup Semeru hilang. Material abu vulkanik tersebut terkikis, kemungkinan karena disebabkan curah hujan yang cukup tinggi. 

“....abu vulkanik yang menahan di puncaknya baik dari akumulasi letusan sebelumnya, terkikis oleh air, sehingga gunung api kehilangan beban. Sehingga meskipun isi dapur magmanya sedikit yang bisa dilihat dari aktivitas kegempaan yang sedikit (hanya bisa dideteksi oleh alat, namun tidak dirasakan oleh orang yang tinggal di sekitarnya), Semeru tetap bisa erupsi,” kata Mirzam dikutip dari laman Institute Teknologi Bandung, 5 Desember 2021. 

Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran Prof. Dr. Nana Sulaksana, Ir., M.SP juga menjelaskan, erupsi Gunung Semeru diakibatkan adanya dua gaya yang bekerja, yaitu endogen dan eksogen. Gaya endogen terjadi dari aktivitas magma yang mendorong material vulkanik naik ke permukaan, sedangkan gaya eksogen diakibatkan hujan ekstrem.

Material vulkanik yang tertumpuk di kubah secara langsung bersentuhan dengan air. Akumulasi material tersebut kemudian dialirkan oleh air dan hanyut ke bawah melalui lembahan dan sungai-sungai. Akibatnya, banjir lahar mampu menyapu kawasan di lembahan Semeru.

“Kalau tidak ada hujan, maka seluruh material yang keluar sifatnya belum langsung menjadi lahar. Ini karena musim hujan, kebetulan hujan besar, material yang teronggok di atas terkena air, dan hanyut ke sungai,” kata Prof. Nana, dikutip dari laman Universitas Padjadjaran

Bukan Erupsi yang Pertama

Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif tipe A. Erupsi pada 4 Desember 2021, bukanlah erupsi pertama bagi Gunung Semeru. Dikutip dari The Conversation, sejak awal abad ke-19 tercatat lebih dari 70 kali Semeru meletus, biasanya berlangsung beberapa hari sampai bulanan. Ahli vulkanologi Belanda Maur Neumann van Padang (1894-1986) mencatat letusan Semeru sudah sering terjadi sejak awal abad ke-19. Setelah dorman selama 11 tahun, Semeru aktif kembali tahun 1829 selama 20 tahun, kemudian tidur kembali selama 8 tahun. Siklus aktif selama 7-28 tahun dan dorman 6 sampai 28 tahun berulang sampai sekarang.

Pada malam 29 Agustus 1909, letusan Semeru memakan korban 208 jiwa, dan abu dan lahar memusnahkan 600-800 hektare lahan pertanian dan sebagian dari 38 desa di sekeliling gunung Semeru. Pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk Komisi Loemadjang untuk mengumpulkan dana dalam membantu korban gunung api.

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, Tempo menyimpulkan narasi bahwa Gunung Semeru erupsi karena diusirnya seorang habib, adalah keliru. Erupsi gunung berapi pada umumnya disebabkan oleh tiga faktor yakni volume di dapur magmanya sudah penuh, kedua karena ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma, dan yang ketiga di atas dapur magma. Selain itu, Gunung Semeru telah 70 kali meletus sejak awal abad ke-19. Sehingga erupsi pada 4 Desember 2021, bukanlah erupsi yang pertama bagi Gunung Semeru. 

Tim Cek Fakta Tempo



  •  

    Selengkapnya