Menyesatkan, Pisang Asal Somalia Mengandung Cacing Helicobacter

Selasa, 16 November 2021 21:47 WIB
 


 
Menyesatkan, Pisang Asal Somalia Mengandung Cacing Helicobacter

Sebuah video berdurasi 1 Menit 28 detik yang memperlihatkan seseorang mengeluarkan sejenis cacing dari dalam daging sebuah pisang beredar di media sosial. Video tersebut dibagikan dengan narasi bahwa pisang yang diimpor dari Somalia mengandung cacing Helicobacter yang dapat melumpuhkan otak hingga menyebabkan kematian.

Video tersebut beredar luas melalui pesan berantai dan beberapa platform media sosial. Video tersebut diikuti dengan narasi:

“Hai!  Teman dan kerabat tolong sebarkan video ini sebanyak-banyaknya.  500 ton pisang dari Somalia tiba di pasar baru-baru ini. Mereka mengandung cacing yang disebut Helicobacter, yang melepaskan pisang beracun di perut, dan kemudian mengembangkan gejala berikut (diare, muntah, mual, sakit kepala). Setelah 12 jam, orang tersebut akan Kematian karena kematian otak.  Harap jangan membeli dan makan pisang hari ini, atau jika Anda melakukannya, pastikan untuk membuka pisang di dalamnya.  Menonton video.”

Dalam video tersebut terdapat tulisan dalam bahasa Prancis, “regardez bien avant de manger” yang berarti “perhatikan baik-baik sebelum anda makan.”

Apa benar ini video pisang asal Somalia yang mengandung Cacing Helicobacter?

Tangkapan layar dengan Klaim Pisang Asal Somalia Mengandung Cacing Helicobacter

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo mula-mula memfragmentasi video tersebut menjadi potongan-potangan gambar dengan menggunakan tool InVid. Selanjutnya gambar-gambar tersebut ditelusuri jejak digitalnya dengan menggunakan reverse image tools Google dan Yandex.

Hasilnya, video tersebut telah beredar sejak Oktober 2021 di sejumlah negara di Ameria Latin, Eropa, dan Asia. Beberapa ilmuwan maupun otoritas terkait negara-negara tersebut pun telah membantah klaim dalam video tersebut.

Salah satu video yang identik pernah diunggah ke Youtube oleh kanal mediatech pada 27 Oktober 2021. Video tersebut diberi keterangan dalam bahasa Persia. Persis dengan narasi yang beredar luas melalui pesan berantai dan beberapa platform media sosial.

Video identik lainnya juga ditemukan di Youtube yang diunggah kanal famille live pada 2 November 2021 dengan judul dalam bahasa Prancis, “Regarder bien avant de manger votre banane.”

Dikutip dari situs has-sante.fr, Helicobacter pylori bukanlah cacing, melainkan bakteri yang menginfeksi lapisan dalam lambung. Infeksi terjadi pada masa kanak-kanak, terutama selama lima tahun pertama kehidupan, dan dapat menyebabkan radang lambung yang biasanya tidak disadari. 

Namun, hal itu dapat menyebabkan gangguan pencernaan (rasa tidak nyaman, nyeri) dan kadang-kadang dapat berkembang menjadi maag, atau bahkan lebih jarang menjadi kanker perut: sekitar 10% orang yang terkena akan mengembangkan tukak dan 1% akan mengembangkan kanker lambung.

Dilansir dari AFP, spesialis dalam biokimia klinis di bidang parasitologi Argentina menegaskan bahwa helicobacter bukanlah cacing atau parasit, melainkan bakteri. Infeksinya berhubungan dengan gangguan pencernaan, termasuk bisul.

Ia menambahkan, bakteri ini tidak dapat terlihat dengan mata telanjang seperti yang diklaim dalam video tersebut.

Menurut Ignacio Silva, spesialis penyakit menular di rumah sakit Barros Luco di Chili, "Anda hanya bisa melihatnya di bawah mikroskop," kata akademisi itu kepada AFP. 

Fabricio Loyola, ahli agronomi Ekuador dan anggota perguruan tinggi insinyur pertanian provinsi Pichincha, yang menonton video atas permintaan AFP, apa yang diekstraksi dari buah lebih mirip serat dan masalah dengan pematangan buah pisang yang dimaksud.  

Ketika proses pematangan pisang dipercepat, "bagian putih yang dapat dimakan dari buah tidak mencapai kadar gula yang cukup dan menjadi jaringan berserat," jelas ahli agronomi. “Larva raksasa," seperti yang terlihat dalam video, tidak realistis.

Otoritas keamanan pangan dan pertanian Abu Dhabi mengatakan video viral di media sosial tentang pisang Somalia tidak benar dan berisi informasi palsu dan menyesatkan.

“Helicobacter merupakan jenis bakteri dan bukan cacing. Cacing tidak bisa menyelesaikan siklus kehiddupannya di dalam buah ketika sudah sebesar yang ditunjukkan dalam video,” bunyi pernyataan tersebut yang diunggah melalui akun Twitter terverifikasi UAE BARQ pada 1 November 2021.

Pernyataan serupa juga disampaikan Direktur Jenderal Pertanian Malaysia, Datuk Zahimi Hassan. Ia mengatakan Helicobacter adalah jenis bakteri dan bukan dari kelompok serangga atau ulat seperti yang ditularkan.

“Konsumen diimbau tidak perlu khawatir dan ragu karena Kementerian Pertanian dan Industri Pangan (MAFI) melalui Dinas Pertanian bekerjasama dengan instansi terkait selalu memastikan produk dan produk pertanian dari dalam dan luar negeri aman dikonsumsi."

“Selain itu, produk juga dipastikan bebas dari hama dan penyakit yang merugikan konsumen dan lingkungan,” katanya dalam keterangan media, seperti dilansir dari hmetro.com.my

Di India, Pusat Penelitian Nasional untuk Pisang (NRCB), yang merupakan bagian dari Dewan Penelitian Pertanian India, dalam tanggapan email ke The Quint, direktur institut tersebut mengklarifikasi bahwa India tidak mengimpor pisang apa pun dari Somalia.

"Dalam video ini, benang seperti cacing yang tidak memiliki ciri-ciri cacing kecuali bentuknya ditarik keluar dari pisang yang sudah matang dan benda seperti cacing itu disebut "Helicobacter" yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan untuk melihat bakteri ini, itu harus diisolasi, diwarnai dan diamati di bawah mikroskop. Apalagi, tidak ada cacing seperti itu yang tercatat menginfeksi pisang utuh," kata pernyataan dari NRCB.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, video dengan klaim bahwa buah pisang dari Somalia mengandung cacing Helicobacter, Sesat. Helicobacter bukanlah cacing atau parasit melainkan bakteri. Helicobacter juga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang, melainkan harus menggunakan mikroskop. Otoritas terkait sejumlah negara juga telah menyatakan bahwa informasi dalam video tersebut menyesatkan.

TIM CEK FAKTA TEMPO



  •  

    Selengkapnya