Keliru, Terapi Uap Minyak Kayu Putih dan Serai Bisa Menghilangkan Sesak Napas Karena Virus

Senin, 16 Agustus 2021 09:41 WIB
 


 
Keliru, Terapi Uap Minyak Kayu Putih dan Serai Bisa Menghilangkan Sesak Napas Karena Virus

Narasi yang mengklaim terapi pertolongan pertama sesak nafas karena virus beredar di Facebook. Klaim tersebut diunggah akun ini pada 23 Juli 2021 dengan menuliskan narasi : 

“Terapi pertolongan pertama sesak nafas karena virus nganu....
Siapkan panci kecil, air, serai dapur dan minyak kayu putih....
Rebus serai dan tuangkan sedikit minyak kayu putih, hirup dalam dalam uap airnya yang beraroma serai dan minyak kayu putih.... lakukan berkali-kali, sampai sesak nafasnya terasa mulai plong....


Lakukan terapi ini beberapa kali sehari....
Terapi ini akan menghilangkan serangan sesak nafas karena nganu....


Molekul air akan menambah kadar oksigenMolekul atsiri serai dan minyak kayu putih akan membunuh virus2 di permukaan dalam paru2 secara langsung... dan membantu atasi peradangan paru...Teknik ini untuk menambah oksigen dari molekul H2O dan memasukkan obat (atsiri serai dan minyak kayu putih)...


Teknik memasukkan obat melalui uap air ke paru2 ini bisa juga dilakukan pada penderita asma yang sedang kumat....


Insyaallah, tidak akan memerlukan ventilator asal rutin dan rajin terapi uapnya.... Sesak nafas akan cepat mereda.... Virus di paru2 akan mati....


Demikian, boleh saudara sekalian share sebanyak-banyaknya dan lakukan sebagai pertolongan pertama bila mengalami kedaruratan sesak nafas karena nganu.... Semoga banyak yang tertolong.....
Rakyat Indonesia kuat dan mampu mengatasi masalahnya sendiri…”


Hingga artikel ini ditulis, telah mendapatkan 35 ribu kali respon, 963 komentar dan 4,2 ribu dibagikan.
Lantas benarkan merebus sereh dan minyak kayu putih dan menghirupnya bisa menghilangkan sesak nafas karena virus?

Tangkapan Layar Pesan Klaim Terapi Uap Minyak Kayu Putih dan Serai Bisa Menghilangkan Sesak Napas Karena Virus
 
PEMERIKSAAN FAKTA


Untuk memeriksa klaim diatas, Cek fakta Tempo mula-mula menelusuri informasi terkait sistem kerja virus pada tubuh manusia dan kandungan minyak kayu putih dan serai. 
Dikutip dari alodokter, Virus agen infeksi berukuran kecil yang hidup dan berkembang biak dengan cara menempel pada sel inang. Ketika virus masuk ke dalam tubuh manusia, mereka akan menyerang sel-sel di tubuh dan berusaha menguasai sel-sel tersebut serta berkembang biak di dalam sel. Virus bisa merusak, membunuh, dan mengubah sel dalam tubuh. Virus juga dapat memicu terjadinya suatu penyakit.


Untuk virus corona, dikutip dari Halodoc, ketika masuk ke dalam tubuh manusia akan menempel pada dinding sel-sel saluran pernapasan dan paru-paru, lalu masuk ke dalamnya untuk berkembang biak di sana.  Proses tersebut akan terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh. Setelah itu, sistem kekebalan tubuh atau sistem imun akan bereaksi dengan cara mengirim sel darah putih dan membentuk antibodi untuk melawan dan membunuh virus tersebut. Ketika terjadi reaksi perlawanan tubuh terhadap virus Corona, akan muncul beberapa gejala, misalnya demam. Gejala ini biasanya akan muncul dalam waktu 2–14 hari setelah terpapar virus Corona. Pada sebagian orang yang terinfeksi virus Corona, reaksi sistem imun tubuh akan berhasil melawan virus tersebut, sehingga gejalanya mereda dan orang tersebut sembuh dengan sendirinya.

Sementara minyak kayu putih merupakan tanaman yang berasal dari Australia. Dalam bahasa latin tanaman ini dikenal dengan nama eucalyptus atau kayu putih. Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo pada 14 Mei 2020, tanaman ini memiliki senyawa eucalyptol atau 1,8-cineole yang menjadi komponen kunci dari potensi antivirus Corona yang dimiliki ekaliptus (Eucalyptus sp.). 


Senyawa tersebut telah diuji di laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian dan menunjukkan kemampuan membunuh sekitar 80 persen virus, termasuk virus Corona. Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry, menerangkan bahwa proses uji diawali dengan mencari kecocokan antara bahan aktif dan potensi membunuh virus dari sekian banyak minyak atsiri yang ada.


Proses uji ini dilakukan dengan cara penambatan molekul atau molecular docking melalui metode komputasi. "Dari sekian banyak minyak atsiri, salah satunya adalah minyak atsiri Eucalyptus yang di dunia ada 700 spesies," katanya seperti dikutip dari Tempo pada 11 Mei 2020.


Proses uji mencari kecocokan melalui molecular docking itu dilanjutkan dengan uji in vitro di laboratorium Biosafety Level 3 (BSL-3). Senyawa aktif Eucalyptus bisa membunuh sekitar 80 persen virus seperti yang sudah diumumkannya beberapa hari sebelumnya.


Pada 5 Mei 2020, Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) Kementerian Pertanian, Evi Safitri, memang menyatakan, "Hasil uji in vitro, 60-80 persen virusnya mati. Tapi memang virusnya bukan (penyebab) Covid-19, kami coba ke virus Corona lain." Evi menerangkan, molecular docking adalah metode komputasi yang bertujuan meniru peristiwa interaksi suatu molekul ligan dengan protein yang menjadi targetnya pada uji in vitro.

Dikutip dari Kompas, meski memiliki zat aktif yang bersifat anti bakteri, anti virus, dan anti jamur, namun minyak kayu putih belum sepenuhnya terbukti untuk membunuh virus corona. Inggrid Tania, Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), mengatakan eucalyptus memang memiliki sejumlah zat aktif yang bersifat anti bakteri, anti virus, dan anti jamur. "Memang pernah ada penelitian eucalyptus efektif untuk membunuh virus betacorona, tetapi bukan virusnya Covid-19, SARS-CoV-2," kata dr Inggrid. 


Ada penelitian bioinformatika tentang zat aktif eucalyptus terhadap virus SARS-CoV-2. Kendati demikian, penelitian ini hanya berupa molekular docking atau simulasi di komputer. Simulasi tersebut dilakukan dengan menyamakan molekul zat aktif pada eucalyptus dengan molekul protein virus SARS-CoV-2. "Memang kalau dari penelitian bioinformatika itu ada kecocokan dan bisa dijadikan kandidat (obat antivirus). Tetapi kalau disebut sebagai obat antivirus Covid-19, belum bisa," ujar Inggrid. 


Dalam laman resmi Universitas Gadjah Mada, Dosen Fakultas Kehutanan UGM, Rini Pujiarti., mengungkapkan klaim bahwa eucalyptus dapat membunuh virus Corona tidak bisa sepenuhnya dipercaya.

Dikutip dari Jurnal-elektronik Universitas Atmajaya Jogjakarta, tanaman serai atau Cymbopogon citratus DC sendiri merupakan tumbuhan yang masuk ke dalam famili rumput-rumputan atau Poaceae. Tanaman ini dikenal dengan istilah Lemongrass karena memiliki bau yang kuat seperti lemon, sering ditemukan tumbuh alami di negara-negara tropis.

Tanaman serai mampu tumbuh sampai 1-1,5 m panjang daunnya mencapai 70-80 cm dan lebarnya 2-5 cm, berwarna hijau muda, kasar, dan mempunyai aroma yang kuat. Tanaman serai dengan genus Cymbopogon meliputi hampir 80 spesies, tetapi hanya beberapa jenis yang menghasilkan minyak atsiri. 


Kandungan kimia yang terdapat di dalam tanaman serai antara lain pada daun serai dapur mengandung 0,4 persen minyak atsiri. Senyawa utama penyusun minyak serai adalah sitronelal, sitronelol, dan geraniol. Gabungan ketiga komponen utama minyak serai dikenal sebagai total senyawa yang dapat deasetilasi. Ketiga komponen ini menentukan intensitas bau harum, nilai, dan harga minyak serai. 

 
Dilansir Kompas, Meski kandungan vitamin dalam serai relatif kecil namun serai mengandung berbagai mineral yang membantu dalam pengobatan medis. Serai umumnya dimanfaatkan dengan cara diolah menjadi minyak untuk mengobati sakit kepala dan nyeri muskuloskeletal. Ekstrak minyak sereh dimanfaatkan sebagai aromaterapi untuk mengobati nyeri otot, infeksi, pilek, atau gejala flu. Selain itu, daun serai juga bisa digunakan untuk mengobati penyakit berikut: hipertensi epilepsi sakit perut rematik kelelahan antiseptik batuk rematik demam diabetes


Sementara berdasarkan arsip berita Tempo pada 29 Maret 2020, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Eka Ginanjar, membantah bahwa menghirup uap air panas bisa mematikan virus Corona Covid-19.
Eka pun menilai tindakan tersebut tidak bermanfaat. "Karena virus ini ada di dalam sel tubuh walau masuknya memang secara droplet lewat sistem pernafasan," ujar Eka saat dihubungi Tempo pada Minggu, 29 Maret 2020.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam atau internis ini, belum ada penelitian kesehatan yang resmi yang bisa membuktikan apakah menghirup uap air panas dapat membunuh virus Corona. Sampai saat ini pun, belum ada metode yang resmi untuk melakukan penelitian tersebut.


Eka justru khawatir masyarakat salah paham, mengira tips yang beredar di media sosial tersebut efektif. Hal itu menyebabkan masyarakat tidak lagi melakukan hal yang penting untuk mencegah penularan virus Corona, yaitu mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau dengan hand sanitizer.

Artikel cek fakta AFP yang berisi verifikasi atas klaim bahwa uap air panas bisa membunuh virus Corona Covid-19 pun memaparkan hal serupa. Para ahli yang diwawancarai AFP mengatakan bahwa hal itu tidak akan bisa mengobati infeksi virus, dan malah bisa berbahaya.


"Saat ini, satu-satunya cara untuk 'membunuh' sebuah virus adalah dengan pembersih antimikroba, yang seharusnya tidak pernah terhirup atau terpapar ke dalam tubuh dengan cara apa pun," ujar Jason McKnight, asisten profesor klinis dari Departemen Perawatan Primer dan Kesehatan Populasi Texas A&M University.


"Secara umum, seseorang mungkin mendapati bahwa menghirup uap air panas ketika menderita beberapa penyakit pernapasan dapat membantu mengatasi gejala-gejala yang mereka alami, seperti batuk dan hidung tersumbat. Namun, ini hanya menghilangkan gejala ringan dan bukan menyembuhkan infeksi virus apapun," kata McKnight.


Dia pun menambahkan, "Anda malah berpotensi untuk membahayakan mata Anda di mana uap air panas dapat menyebabkan luka bakar pada mata, wajah, dan saluran pernapasan Anda, yang jika cukup parah dapat menyebabkan hal yang serius dan komplikasi jangka panjang," ujar McKnight.


Benjamin Neuman, ahli virus Corona yang mengepalai Departemen Ilmu Biologi Texas A&M University, sependapat dengan McKnight. "Paru-paru merupakan organ yang ringkih, dan uap air sangat panas. Uap panas dapat merusak paru-paru. Karena itu, gagasan bahwa cara tersebut dapat melawan virus yang juga merusak paru-paru merupakan gagasan yang sangat buruk."
 
Sementara itu, Karine Le Roch, profesor biologi sel dari University of California, Riverside, mengatakan, "Saya benar-benar tidak setuju bahwa menghirup uap dapat menyembuhkan infeksi. Tidak ada obat yang ajaib. Para peneliti sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk menemukan obat infeksi virus tersebut. Tapi itu butuh waktu," ujarnya.


Terapi menghirup uap air panas untuk membunuh virus pun tidak tercantum dalam rekomendasi pencegahan Covid-19 yang dikeluarkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menurut WHO, cara yang paling efektif untuk melindungi diri dari Covid-19 adalah rajin membersihkan tangan dengan sabun dan air atau pembersih berbasis alkohol, menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk atau bersin, tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, serta mengisolasi diri jika merasa tidak sehat.


Adapun mengenai vaksin atau obat untuk Covid-19, sejauh ini, WHO belum menyatakan adanya vaksin atau obat yang bisa digunakan untuk mencegah atau mengobati Covid-19. Mereka yang terinfeksi hanya perlu mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala. Sementara mereka yang memiliki gejala lebih serius harus dibawa ke rumah sakit.


KESIMPULAN


Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim terapi uap minyak kayu putih dan serai bisa menghilangkan sesak nafas karena virus, keliru. Sekretaris Jenderal Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Eka Ginanjar, membantah bahwa menghirup uap air panas bisa mematikan virus.

Organisasi Kesehatan Dunia bahkan menegaskan cara yang paling efektif untuk melindungi diri dari Covid-19 adalah rajin membersihkan tangan dengan sabun dan air atau pembersih berbasis alkohol, menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk atau bersin, tidak menyentuh mata, hidung, dan mulut, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, serta mengisolasi diri jika merasa tidak sehat.

Bagi mereka yang terinfeksi hanya perlu mendapatkan perawatan untuk meredakan gejala. Sementara mereka yang memiliki gejala lebih serius harus dibawa ke rumah sakit.


TIM CEKFAKTA TEMPO


 


  •  

    Selengkapnya