Keliru, Vaksin Covid-19 Sebabkan 0,8 Persen Kematian dalam 2 Minggu dan yang Hidup Hanya Bertahan 2 Tahun

Jumat, 28 Mei 2021 08:56 WIB
 


 
Keliru, Vaksin Covid-19 Sebabkan 0,8 Persen Kematian dalam 2 Minggu dan yang Hidup Hanya Bertahan 2 Tahun

Pesan berantai yang berisi pernyataan yang diklaim berasal dari ketua saintis di perusahaan vaksin Pfizer, Mike Yeadon, beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak 26 Mei 2021. Menurut pesan berantai itu, Yeadon mengatakan bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan 0,8 persen kematian dalam waktu dua minggu, sementara penerima vaksin yang masih hidup hanya bisa bertahan selama dua tahun.

"Yang sudah divaksin siap-siap mati dini," begitu narasi yang tertulis di bagian awal pesan berantai tersebut. Selanjutnya, terdapat narasi yang diklaim dinyatakan oleh Yeadon, "Mike Yeadon, bekas ketua saintis di firma vaksin Pfizer menyatakan bahwa kini sudah amat terlambat untuk menyelamatkan siapa yang sudah divaksin Covid-19."

Menurut pesan berantai ini, tak lama setelah suntikan pertama vaksin, 0,8 persen penerimanya bakal meninggal dalam waktu dua minggu. "Mereka yang bertahan akan mampu bertahan hidup sekitar dua tahun, namun kemampuan tersebut dikurangi dengan penambahan atau top-up suntikan vaksin. Penambahan vaksin yang sedang dibuat sekarang adalah untuk menyebabkan kemorosotan fungsi organ tertentu dalam badan manusia."

Di akhir pesan berantai itu, terdapat narasi bahwa tujuan akhir pemerintah menyediakan vaksin yang diwajibkan saat ini adalah untuk mengurangi populasi secara besar-besaran. Dicantumkan pula tautan artikel dari situs Lifesitenews.com yang berjudul "EXCLUSIVE - Former Pfizer VP: ‘Your government is lying to you in a way that could lead to your death".

Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang berisi klaim keliru tentang vaksin Covid-19.

PEMERIKSAAN FAKTA

Menurut verifikasi Tim CekFakta Tempo, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa terdapat kematian hingga 0,8 persen setelah vaksin Covid-19 dosis pertama disuntikkan kepada seseorang. Tidak ada pula bukti bahwa mereka yang telah disuntik vaksin Covid-19 hanya bisa bertahan hidup sekitar dua tahun.

Dikutip dari Deutsche Welle (DW), yang meninjau laporan dari Italia, Austria, Korea Selatan, Jerman, Spanyol, Amerika Serikat, Norwegia, Belgia dan Peru, dalam banyak kasus, otoritas kesehatan belum menemukan hubungan sebab-akibat antara vaksinasi dan kematian.

Di Korea Selatan misalnya, dilaporkan bahwa terdapat 15 orang yang meninggal setelah menerima vaksin Covid-19 AstraZeneca. Di sana, vaksin tersebut hanya diberikan kepada orang yang berusia di bawah 65 tahun. Namun, hasil penyelidikan menunjukkan hampir semua warga yang meninggal itu telah memiliki kondisi medis sebelumnya, seperti penyakit serebrovaskular atau kardiovaskular.

Di Jerman, Institut Paul Ehrlich (PEI) yang bertanggung jawab atas vaksinasi telah menyelidiki 113 kematian yang dilaporkan di negara tersebut. Korban berusia 46-100 tahun, dan mereka meninggal antara satu jam hingga 19 hari setelah menerima vaksin.

Dari 113 kematian tersebut, 20 orang di antaranya meninggal akibat infeksi Covid-19 (di mana 19 orang di antaranya belum memiliki perlindungan vaksin secara penuh; dan sisanya masih belum jelas). Sementara 43 orang di antaranya meninggal akibat kondisi yang sudah ada sebelumnya atau infeksi lain.

Menurut arsip berita Tempo pada 14 Mei 2021, Badan Kesehatan Masyarakat Inggris justru menyatakan bahwa imunisasi massal vaksin virus Corona telah mencegah hampir 12 ribu kematian dan menangkal lebih dari 30 ribu rawat inap pada lansia.

Dalam laporan Badan Kesehatan Masyarakat Inggris, hingga akhir April 2021, program imunisasi vaksin virus Corona telah mencegah 11.700 kematian pada kelompok usia 60 tahun ke atas di Inggris. Selain itu, diperkirakan bahwa 33 ribu lansia berusia 65 tahun ke atas tidak perlu dirawat inap setelah adanya imunisasi massal ini pada periode yang sama.

Terkait riwayat Michael Yeadon, dilansir dari kantor berita Reuters, ia memang seorang mantan peneliti ilmiah dan wakil presiden di Pfizer. Dia pun ikut mendirikan perusahaan bioteknologi tersebut. Namun, kariernya berubah secara tidak terduga. Ia beberapa kali melontarkan pernyataan yang menyesatkan terkait vaksin Covid-19, salah satunya bahwa vaksin itu menyebabkan kemandulan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan 0,8 persen kematian dalam waktu dua minggu dan penerima vaksin yang masih hidup hanya bisa bertahan sekitar dua tahun, keliru. Klaim ini tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada, bahwa vaksin Covid-19 justru menyelamatkan lebih banyak manusia dari kematian. Di Inggris misalnya, imunisasi massal vaksin virus Corona telah mencegah hampir 12 ribu kematian.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya