Keliru, Vaksin adalah Senjata Biologis karena Mengandung Racun Seperti AS03 dan MF59

Kamis, 28 Januari 2021 16:17 WIB
 


 
Keliru, Vaksin adalah Senjata Biologis karena Mengandung Racun Seperti AS03 dan MF59

Klaim bahwa vaksin merupakan senjata biologis untuk memusnahkan populasi karena mengandung racun seperti AS03 dan MF59, garam arsenit, dan merkuri beredar di Facebook. Klaim ini beredar di tengah pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 tahap pertama yang menyasar para tenaga kesehatan.

Akun yang mengunggah klaim itu adalah akun Lois Lois, tepatnya pada 27 Januari 2021. Akun tersebut juga menulis bahwa, selama sebulan pasca pemberian vaksin Covid-19 terhadap tenaga kesehatan, akan banyak kematian mendadak yang disebabkan oleh serangan jantung, HIV, serta kanker ganas.

Berikut narasi yang ditulis oleh akun tersebut:

Gejala pasca Vaksinasi pada Nakes!!
Hati2..dalam 1 bulan kemudian akan banyak kematian mendadak serangan jantung/stroke.
HIV(+)
Kanker ganas(+)
Karena Vaksin FLU adalah senjata Biologis utk memusnahkan populasi suatu bangsa.
Tidak ada kandungan obat di dalamnya melainkan Racun ASO3+ MF59
Garam Arsenit
Mercury.
Yg merusak syaraf2.

 Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Lois Lois yang berisi klaim keliru soal vaksin.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim-klaim dalam unggahan akun Lois Lois, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai informasi dari lembaga kesehatan serta pemberitaan dari media. Berikut fakta atas klaim-klaim tersebut:

Klaim 1: Vaksin mengandung racun seperti AS03 dan MF59

Fakta:

AS03 dan MF59 bukanlah racun. Keduanya merupakan adjuvan, atau zat yang ditambahkan ke dalam vaksin untuk membantu memperkuat respons kekebalan pada orang yang menerima vaksin.

Dikutip dari Science Direct, adjuvan adalah zat yang termasuk dalam vaksin untuk meningkatkan imunogenisitas antigen dengan kemampuan imunostimulan yang tidak mencukupi. Pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana sistem kekebalan berinteraksi dengan patogen telah berkontribusi pada pengembangan adjuvan yang mengandung lebih dari satu molekul imunostimulan, yang disebut Sistem Adjuvan (Adjuvant Systems/AS).

AS03 adalah Sistem Adjuvan yang mengandung surfaktan, polisorbat 80, dan dua minyak yang bisa terurai secara hayati, α-tokoferol dan squalene. Studi non-klinis tidak mengungkapkan masalah keamanan terkait penggunaan AS03. Dalam uji klinis, vaksin influenza yang ditambahkan AS03 secara umum dapat ditoleransi dengan baik. Data pasca-lisensi pun menunjukkan profil manfaat-risiko yang menguntungkan di berbagai populasi.

Terdapat pula bukti uji coba terkontrol secara acak tentang efikasi yang lebih tinggi pada vaksin influenza trivalen (TIV) yang mengandung AS03 dibanding pada TIV tanpa adjuvan dalam mencegah infeksi beberapa subtipe influenza, dan meningkatkan perlindungan terhadap kematian serta pneumonia pada orang yang berusia 65 tahun ke atas. Masih dari Science Direct, vaksin influenza yang ditambahkan AS03 telah digunakan secara luas di Eropa dan belahan dunia lainnya, terutama dalam kombinasi dengan vaksin H1N1.

Sementara MF59, dikutip dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), adalah adjuvan yang terkandung dalam fluad (vaksin influenza yang dilisensikan untuk orang berusia 65 tahun ke atas). MF59 merupakan emulsi minyak dalam air yang terdiri dari squalene, yang merupakan minyak alami yang ditemukan pada sel tumbuhan, hewan, maupun manusia. MF59 digunakan dalam vaksin flu di Eropa sejak 1997 dan di AS sejak 2016, telah diberikan kepada jutaan orang dan memiliki catatan keamanan yang sangat baik.

Klaim 2: Vaksin mengandung garam arsenit dan merkuri

Fakta:

Tidak ditemukan informasi mengenai adanya kandungan garam arsenit dalam vaksin flu maupun vaksin Covid-19. Sementara terkait kandungan merkuri, seperti dilansir dari CDC, yang terdapat dalam vaksin bukanlah jenis metil merkuri yang bisa menjadi racun bagi manusia pada tingkat paparan yang tinggi, melainkan etil merkuri, yang terdapat dalam thimerosal.

Etil merkuri bisa dibersihkan lebih cepat oleh tubuh ketimbang metil merkuri sehingga kecil kemungkinan menyebabkan kerusakan. Thimerosal pun demikian, tidak tinggal di dalam tubuh untuk waktu yang lama sehingga tidak menumpuk dan mencapai tingkat yang berbahaya. Ketika thimerosal memasuki tubuh, ia terurai menjadi etil merkuri dan thiosalicylate, yang dengan mudah dihilangkan.

Menurut CDC, beberapa vaksin mengandung thimerosal yang telah digunakan selama beberapa dekade di AS dalam botol multi-dosis obat-obatan dan vaksin. Tidak ada bukti bahaya yang disebabkan oleh dosis rendah thimerosal dalam vaksin, kecuali untuk reaksi kecil seperti kemerahan dan bengkak di tempat suntikan. Namun, pada Juli 1999, badan layanan kesehatan masyarakat AS, American Academy of Pediatrics, dan produsen vaksin setuju thimerosal harus dikurangi atau dihilangkan sebagai tindakan pencegahan.

Thimerosal berfungsi untuk mencegah pertumbuhan bakteri dalam vaksin. Thimerosal ditambahkan ke vial vaksin yang mengandung lebih dari satu dosis untuk mencegah pertumbuhan kuman, seperti bakteri dan jamur. Masuknya bakteri dan jamur berpotensi terjadi ketika jarum suntik masuk ke dalam botol. Kontaminasi kuman dalam vaksin dapat menyebabkan reaksi lokal yang parah, penyakit serius, atau kematian.

Klaim 3: Vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kematian mendadak akibat serangan jantung, HIV, dan kanker ganas.

Fakta:

Terkait vaksin Covid-19 dapat menyebabkan serangan jantung, klaim itu telah diverifikasi Tempo dan dinyatakan sebagai klaim yang keliru. Sejak program vaksinasi Covid-19 dimulai pada 13 Januari 2021, tidak ada laporan kasus kematian yang disebabkan oleh vaksin Covid-19, termasuk akibat serangan jantung.

Adapun terkait vaksin Covid-19 dapat menyebabkan HIV, klaim ini juga keliru. Klaim tersebut kemungkinan mengutip kejadian pasca vaksinasi Covid-19 di Australia yang menggunakan vaksin buatan The University of Queensland dan perusahaan bioteknologi lokal CSL Ltd. Pada awal Desember 2020, otoritas Australia mengumumkan bahwa beberapa peserta uji vaksin dilaporkan mengembangkan antibodi yang memicu hasil positif palsu pada beberapa tes HIV.

Vaksin tersebut memang mengandung fragmen kecil protein HIV, yang berfungsi untuk membantu menstabilkan vaksin. Akan tetapi, seperti dikutip dari Live Science, tidak ada cara vaksin dapat menyebabkan infeksi HIV, karena vaksin mengandung fragmen virus yang tidak berbahaya.

Yang terakhir, terkait vaksin Covid-19 dapat menyebabkan kanker ganas, klaim tersebut pun keliru. Dikutip dari Republika, menurut dokter sekaligus vaksinolog Dirga Sakti Rambe, tidak ada vaksin yang bisa menyebabkan kanker. "Malah ada vaksin yang bisa melindungi kanker, vaksin hepatitis B yang bisa melindungi kanker hati, vaksin HPV melindungi kanker mulut rahim, jadi tidak benar vaksin sebabkan kanker," ujar Dirga.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin adalah senjata biologis untuk memusnahkan populasi karena mengandung racun seperti AS03 dan MF59, garam arsenit, dan merkuri, keliru. Klaim bahwa vaksin Covid-19 yang disuntikkan kepada tenaga kesehatan dapat menyebabkan kematian mendadak akibat serangan jantung, HIV, dan kanker ganas pun tidak berdasarkan fakta-fakta yang ada.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya