Keliru, Vaksin Covid-19 Terkait dengan Jaringan 5G dan Sebabkan Wabah Penyakit Baru

Rabu, 27 Januari 2021 19:43 WIB
 


 
Keliru, Vaksin Covid-19 Terkait dengan Jaringan 5G dan Sebabkan Wabah Penyakit Baru

Klaim bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan efek jangka pendek berupa lumpuh dan meninggal, efek jangka panjang berupa wabah penyakit baru, dan terkait dengan chip serta jaringan 5G beredar di Facebook. Narasi itu diunggah oleh akun James Bowie pada 24 Januari 2021.

Berikut isi lengkap narasi tersebut:

"Efek samping vaksin ada yg jangka pendek.. dan ada juga yg jangka panjang terjadi nya
Yg jangka pendek: lumpuh dan meninggal
Yg jangka panjang: wabah penyakit jenis baru
(Tunggu saat robot nano di dalam vaksin di gabungin dengan CHIP RFID buat alat segala transkasi yg di tanam dalam tubuh dan Jaringan hape 5G udah mulai di gunakan dengan menyeluruh)"

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook James Bowie pada 24 Januari 2021 yang memuat klaim keliru terkait vaksin Covid-19.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim-klaim dalam unggahan akun James Bowie, Tim CekFakta Tempo menelusuri berbagai informasi dari lembaga yang kredibel serta pemberitaan dari media. Berikut fakta atas klaim-klaim tersebut:

Klaim 1: Vaksin Covid-19 menyebabkan lumpuh dan meninggal

Fakta:

Sebelum program vaksinasi Covid-19 dimulai di Indonesia, vaksin Sinovac telah terlebih dahulu menjalani uji klinis fase 3, di mana 1.620 relawan mendapat suntikan pertama dan 1.590 relawan diberi suntikan kedua. Dari penyuntikan ini, tidak ada kasus kematian maupun kelumpuhan yang dilaporkan.

Sejak vaksinasi Covid-19 dimulai pada 13 Januari 2021, lebih dari 132 ribu tenaga kesehatan kelompok pertama telah menjalani vaksinasi tersebut per 23 Januari. Jumlah ini setara dengan 22 persen dari total 598.483 tenaga kesehatan yang akan divaksinasi pada tahap pertama.

Dari mereka yang telah menjalani vaksinasi itu, tidak ada pula kasus kematian maupun kelumpuhan yang dilaporkan karena vaksin Sinovac. Berdasarkan laporan dari Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI), semua reaksi yang muncul masih bersifat ringan, tidak ada yang serius.

Klaim 2: Vaksin Covid-19 menyebabkan wabah penyakit baru

Fakta:

Belum ada bukti yang menunjukkan bahwa vaksin Covid-19 dapat menyebabkan wabah penyakit baru. Meskipun begitu, seperti dilansir dari Kompas.com, Direktur Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa vaksin Covid-19 tidak bisa secara langsung menghentikan pandemi.

Namun, dilansir dari British Society for Immunology, vaksinasi sangat efektif, di mana sebagian besar vaksin pada anak efektif sekitar 85-95 persen. Vaksinasi pun diperkirakan menyelamatkan 2-3 juta jiwa setahun. Berkat vaksin, penyakit yang mengancam nyawa yang umum teradi pada anak-anak, seperti difteri, batuk rejan, dan polio, kini relatif jarang muncul.

Melihat sejarah penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, terdapat penurunan yang signifikan dalam jumlah kasus penyakit setelah diperkenalkannya vaksin untuk melawannya. Cacar misalnya, jika tidak diberantas, akan menyebabkan 5 juta kematian di seluruh dunia dalam setahun. Melalui vaksinasi, beberapa penyakit bahkan sudah bisa diberantas secara tuntas, seperti cacar.

Terkait munculnya wabah penyakit baru, seperti dikutip dari Baylor College of Medicine, umumnya disebabkan oleh proses alami, seperti evolusi patogen dari waktu ke waktu, tapi banyak juga yang merupakan hasil dari perilaku manusia. Dalam satu abad terakhir, interaksi antara populasi manusia dan lingkungan telah berubah.

Faktor yang berkontribusi terhadap perubahan interaksi antara manusia dan lingkungan tersebut di antaranya adalah pertumbuhan penduduk, migrasi dari daerah pedesaan ke perkotaan, perjalanan udara internasional, kemiskinan, perang, dan perubahan ekologi yang merusak akibat pembangunan ekonomi dan penggunaan lahan.

Banyak penyakit muncul ketika agen infeksi pada hewan ditularkan ke manusia (disebut zoonosis). Dengan bertambahnya populasi manusia, yang kemudian memasuki wilayah geografis baru, terdapat kemungkinan terjadinya kontak dekat dengan hewan yang merupakan inang potensial dari agen infeksi. Jika faktor ini digabungkan dengan peningkatan kepadatan dan mobilitas manusia, terdapat potensi ancaman yang serius bagi kesehatan.

Dugaan lainnya adalah perubahan iklim yang menyebabkan munculnya penyakit menular. Saat iklim bumi menghangat dan habitat berubah, penyakit dapat menyebar ke wilayah geografis baru. Misalnya, suhu yang menghangat memungkinkan nyamuk, dan penyakit yang ditularkannya, memperluas jangkauannya ke wilayah yang sebelumnya belum pernah ditemukan.

Klaim 3: Vaksin Covid-19 terkait dengan chip dan jaringan 5G

Fakta:

Narasi ini juga menyebar di sejumlah negara. Sebelumnya, Tempo telah melakukan verifikasi terkait klaim soal pemasangan chip dalam vaksin Covid-19, dan menyatakannya sebagai klaim yang keliru. Penanaman microchip ke tubuh manusia lewat vaksin adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Dikutip dari Science20, kebanyakan microchip RFID (Radio Frequency Identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksin. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.

Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa diterima oleh penerima. Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.

AFP Fact Check pun telah membantah klaim bahwa, selama vaksinasi Covid-19, microchip disuntikkan secara diam-diam ke bawah kulit seseorang, dan memungkinkan microchip itu terhubung dengan ponsel 5G milik orang tersebut.

Mischa Dohler, Ketua Profesor Komunikasi Nirkabel King's College London, mengatakan microchip di bawah kulit tidak dipakai untuk mengoperasikan ponsel 5G. "Microchip dan 5G tidak memiliki kesamaan. Ini seperti membandingkan apel dan mobil," katanya. “Microchip memang ada dan saat ini digunakan di negara-negara Nordik misalnya, di mana Anda dapat menanamkan chip (di bawah kulit) dan bepergian, lalu membayar dengan chip itu di bar.”

Perusahaan microchip telah bermunculan di Swedia dan Denmark serta Amerika Serikat dalam beberapa tahun terakhir, menawarkan chip yang disuntikkan ke tangan, tepatnya di antara ibu jari dan jari telunjuk, yang kemudian bisa digunakan untuk membuka kunci pintu atau membeli makanan ringan dengan lambaian tangan. Ada pula perusahaan yang sedang mengembangkan chip untuk menyimpan data medis.

Namun, Dohler menepis klaim bahwa microchip yang ditanamkan di tangan tersebut memungkinkan seseorang melakukan dan menerima panggilan tanpa harus memegang ponsel mereka. “Saya tidak mengatakan ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, saat ini, itu adalah omong kosong ilmiah. Untuk berkomunikasi, Anda perlu menghasilkan gelombang suara. Jadi, microchip itu harus sangat dekat dengan telinga Anda atau ditanamkan sangat dekat dengan otak."

Microchip bekerja dengan RFID (radio frequency identification), yang memungkinkan berbagai produk terpindai untuk mendapatkan informasi, mirip dengan kode batang di supermarket. Luyun Jiang, analis teknologi di perusahaan riset pasar IDTechEx, mengatakan teknologi ini hanya dapat menangani "data yang sangat terbatas" dan tidak dapat digunakan untuk melakukan dan menerima panggilan telepon.

“5G membutuhkan cukup banyak daya dan perangkat keras,” katanya kepada AFP Fact Check saat diwawancara melalui telepon. “Sebuah microchip di bawah kulit tidak akan menghasilkan apa-apa. Anda perlu menanamkan seluruh ponsel cerdas di bawah kulit Anda!” ujarnya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, unggahan akun Facebook James Bowie, bahwa vaksin Covid-19 menyebabkan efek jangka pendek berupa lumpuh dan meninggal, efek jangka panjang berupa wabah penyakit baru, dan terkait dengan chip serta jaringan 5G, keliru.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya