Keliru, Vaksin Sinovac Dipasangi GPS atau Chip untuk Lacak Keberadaan Orang yang Telah Divaksin

Rabu, 20 Januari 2021 20:25 WIB
 


 
Keliru, Vaksin Sinovac Dipasangi GPS atau Chip untuk Lacak Keberadaan Orang yang Telah Divaksin

Klaim bahwa salah satu vaksin Covid-19, vaksin Sinovac, dipasangi GPS (Global Positioning System) atau chip yang bisa digunakan untuk mengetahui keberadaan orang yang telah divaksin, beredar di media sosial. Klaim itu dilengkapi dengan potongan video wawancara Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sekaligus Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) Erick Thohir di acara televisi Mata Najwa.

Di Facebook, klaim beserta video tersebut diunggah salah satunya oleh akun Jamilha Amar, tepatnya pada 19 Januari 2021. Akun ini menulis sebagai berikut:

"Sinovac ternyata juga sebagai jps /chip yg utk mngetahui keberadaan seseorang yg telah di vaksin.
** NO VAKSIN.... ?? **
Erick Thohir sang Missionaris Chip Covid-19 Dgn Sangat Terbuka Menjelaskan Tentang Chip Yang Terdapat Didalam Vaksin . Itu Artinya , Setelah Kita Divaksinasi Hidup Kita Akan Dikontrol Seumur Hidup.
Sungguh Allah SWT Maha Mengetahui , Maha Bijaksana Dan Maha Pembuat Makar..
Pembantu Jokowi Ngebocorin Apa Itu Vaksin Sinovak....!!"

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Jamilha Amar yang memuat klaim keliru terkait vaksin Covid-19 Sinovac.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, dalam acara televisi Mata Najwa, Menteri BUMN Erick Thohir memang sempat menyinggung soal sistem barcode. Namun, sistem barcode yang dimaksud Erick bukan chip yang dimasukkan ke dalam tubuh orang yang divaksin. Sistem barcode tersebut terpasang di botol dan kemasan vaksin Covid-19 untuk melacak distribusi vaksin, apakah tepat sasaran dan diberikan kepada orang yang sesuai.

Pernyataan Erick Thohir tersebut dilontarkan dalam acara televisi Mata Najwa yang tayang pada 14 Januari 2021. Menurut Erick, sejak awal, Bio Farma telah memberikan barcode di botol dan kemasan vaksin Sinovac, sehingga setiap botol vaksin akan terlacak penerimanya. Demikian juga saat distribusi ke daerah, truk pengirim vaksin bisa dilacak. “Truk-truknya akan terlihat, nomor mobilnya apa, ada kejadian apa, kita lakukan apa,” katanya.

Barcode tersebut menjadi salah satu bagian dari perbaikan sistem database vaksin nasional. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin juga mengatakan, dengan barcode tersebut, vaksin dapat dicegah untuk tidak disuntikkan kepada orang yang belum seharusnya disuntik.

"Kita dibantu Pak Menteri BUMN, semua viral vaksin ada barcode untuk dealing dengan siapa yang disuntik, jadi one by one ketahuan. Tetesan-tetesan vaksin yang mungkin tadinya mau dipakai jadi tetesan nafkah para koruptor mudah-mudahan bisa dikurangi karena semua sudah terintegrasi lewat IT sejak awal pemaketan kita bisa track barangnya ke mana," kata Budi.

Sistem layanan vaksinasi ini disiapkan oleh PT Bio Farma bersama PT Telkom. Mereka menggunakan teknologi track and trace berupa 2D barcode pada kemasan vaksin Covid-19 yang dilakukan saat proses pengemasan produk. Aplikasi teknologi itu untuk memastikan produk asli, sekaligus mengendalikan stok. Selain itu, menampilkan informasi detail tanggal kedaluwarsa, nomor batch, dan nomor serial produk ketika barcode dipindai bagi pengguna.

“Pemasangan teknologi track and trace, dalam bentuk barcode yang dapat dipindai, dipasang pada kemasan primer (vial), sekunder (dus kemasan) maupun tersier hingga truk pengantar," kata Direktur Digital Health Care PT Bio Farma, Soleh Udin Al Ayubi, yang akrab disapa Ayub, pada 2 Desember 2020.

Ayub mengatakan, infrastruktur digital tersebut juga dikembangkan untuk mengawasi vaksin saat proses distribusi. Salah satunya dengan menyematkan Freeze Tag, untuk memastikan suhu vaksin tetap berada antara 2-8 derajat Celsius saat proses pengiriman berlangsung.

Selain itu, teknologi Global Positioning System (GPS) digunakan untuk memindai posisi pengantaran vaksin, dan memantau suhu vaksin selama perjalanan berlangsung secara real-time dari command center yang berada di PT Bio Farma.

Hoaks microchip

Narasi tentang penanaman microchip dengan vaksin Covid-19 telah beredar sejak September 2020 lalu. Penanaman microchip ke tubuh manusia lewat vaksin adalah sesuatu yang tidak masuk akal. Dikutip dari Science20, kebanyakan microchip RFID (Radio Frequency Identification) terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam jarum berukuran normal yang digunakan untuk vaksin. Mungkin saja membuat chip dengan ukuran yang lebih kecil, tapi tidak berguna apabila tidak memiliki antena sebagai penerima sinyal.

Sebuah chip harus memiliki kapasitas yang cukup besar untuk mengambil daya dari gelombang mikro, yang kemudian mengirim kembali sinyal yang cukup kuat sehingga bisa diterima oleh penerima. Chip RFID terkecil yang tersedia secara komersial, lengkap dengan antenanya, hanya dapat terbaca dari jarak milimeter. Sementara chip RFID terkecil yang tidak tersedia secara komersial hanya dapat terbaca dari jarak mikron.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Sinovac dipasangi GPS atau chip untuk mengetahui keberadaan orang yang telah divaksin, keliru. Sistem barcode memang diadopsi dalam program vaksinasi Covid-19. Namun, barcode tersebut dipasang di botol dan kemasan vaksin, bukan dimasukkan ke tubuh orang yang divaksin, sehingga tidak mungkin melacak keberadaan orang tersebut. Fungsi barcode ini untuk melacak agar vaksin diberikan kepada orang yang sesuai.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya