Keliru, Jurnal Inggris Sebut Vaksin Covid-19 Sinovac Bikin Alat Kelamin Membesar

Jumat, 8 Januari 2021 18:33 WIB
 


 
Keliru, Jurnal Inggris Sebut Vaksin Covid-19 Sinovac Bikin Alat Kelamin Membesar

Foto potongan berita di sebuah koran yang berisi informasi bahwa vaksin Covid-19 buatan perusahaan Cina, Sinovac, bisa memberi efek samping alat kelamin pria membesar hingga 3 inci beredar di media sosial. Menurut berita itu, informasi tersebut berasal dari sebuah jurnal terbitan Inggris.

"Dalam sebuah jurnal terbitan Inggris misalnya, vaksin Sinovac disebutkan memberi efek samping pembesaran alat kelamin. Lelaki yang sudah disuntik vaksin buatan China tersebut disebutkan alat vitalnya memanjang sampai 3 inchi," demikian narasi yang tertulis dalam berita itu.

Di Facebook, salah satu akun yang mengunggah foto potongan berita itu adalah akun Azmi Brel, tepatnya pada 7 Januari 2021. Akun ini pun menuliskan narasi, “Efek Samping Vaksin dapat Memperbesar dan memperpanjang Alat vital Pria hingga 3 inchi. Apa ya...?”

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Azmi Brel yang berisi klaim keliru terkait vaksin Covid-19 Sinovac.

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memverifikasi klaim di atas, Tim CekFakta Tempo menelusuri pemberitaan terkait di Google. Hasilnya, ditemukan bahwa klaim ini juga sempat beredar di luar negeri sebelumnya. Beredar di media sosial gambar tangkapan layar hasil sebuah studi ilmiah bahwa vaksin Covid-19 meningkatkan ukuran alat kelamin pria. Namun, gambar itu sebenarnya merupakan hasil suntingan.

Dilansir dari situs cek fakta Snopes, pada awal 2021, beredar di internet sebuah studi ilmiah yang diterbitkan di New England Journal of Medicine yang menyimpulkan bahwa vaksin Covid-19 bisa meningkatkan ukuran alat kelamin hingga 3 inci pada beberapa pria.

Namun, berdasarkan pemeriksaan Snopes, studi itu hoaks. Kesalahan ejaan dan tata bahasa, di mana yang digunakan adalah bahasa non-akademis, menunjukkan bahwa gambar studi itu sebenarnya dimaksudkan sebagai humor. Faktanya, tulisan itu merupakan salinan yang ditempelkan pada seluruh bagian dari sebuah studi yang nyata.

Studi yang asli diterbitkan di New England Journal of Medicine pada 10 Desember 2020 dengan judul “Phase 1-2 Trial of SARS-CoV-2 Recombinant Spike Protein Nanoparticle Vaccine”. Bagian "Methods" dalam studi ini identik dengan yang terdapat dalam gambar tangkapan layar yang beredar.

Tempo pun menelusuri judul studi dalam gambar yang beredar itu, yakni "SARS-CoV-2 Recombinant COVID-19 Vaccine has shown to increase penis length by 3 inches in some individuals", ke kolom pencarian situs New England Journal of Medicine. Namun, tidak ditemukan studi yang terbit di New England Journal of Medicine dengan judul tersebut.

Dilansir dari Detik.com, yang mengutip situs cek fakta Pesacheck, gambar tangkapan layar studi itu dibuat dengan alat "Break Your Own News" dengan tujuan parodi. Juru bicara vaksinasi Covid-19 dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucia Rizka Andalusia pun telah menyatakan informasi tersebut hoaks. "Mana ada jurnal ilmiah pakai bahasa seperti itu. Lagian vaksin kita bukan rekombinan," ujar Lucia pada 7 Januari 2021.

Isi berita di koran dalam foto yang beredar

Tempo menemukan berita yang identik dengan berita di koran dalam foto yang beredar, yang mengutip pernyataan Plt Direktur RSUD dr Moh. Saleh, Abraar Hs Kuddah. Berita ini dimuat oleh situs Koran Pantura pada 5 Januari 2021 dengan judul “Vaksin Bisa Perbesar Alat Vital? Satgas: Jangan Mudah Percaya”.

Jika dibaca secara menyeluruh, pernyataan Abraar dalam berita itu bermaksud mengingatkan masyarakat untuk tidak mempercayai informasi yang tidak benar soal vaksin Covid-19. Salah satu informasi yang tidak benar yang dicontohkan oleh Abraar yakni soal vaksin bisa memperbesar alat kelamin.

Berikut sebagian isi berita yang dimuat oleh Koran Pantura tersebut:

Beredar banyak informasi tentang efek samping vaksin Covid-19 yang sudah dijalankan di beberapa negara. Namun, tidak semua informasi itu mengandung kebenaran. Plt Direktur RSUD Dr Moh. Saleh sekaligus jubir Satgas Covid-19 Kota Probolinggo dr Abraar HS Kuddah minta masyarakat tidak mudah percaya informasi seperti itu.

Dalam sebuah jurnal terbitan Inggris misalnya, vaksin Sinovac disebutkan memberi efek samping pembesaran alat kelamin. Lelaki yang sudah disuntik vaksin buatan China tersebut disebutkan alat vitalnya memanjang sampai 3 inchi.

Dokter Abraar yang juga CEO dari RS Dharma Husada Kota Probolinggo ini juga mengingatkan, berita-berita seperti itu tidak benar, karena belum ada warga yang divaksin di Indonesia sehingga terdampak. “Kalau memang warga harus divaksin, ya kita ikuti saja aturannya. Jangan takut, karena tidak mungkin pemerintah akan menjerumuskan warganya,” kata Abraar kepada sejumlah wartawan usai RDP.

Efek samping vaksin Sinovac

Dilansir dari Kompas.com, vaksin Covid-19 Sinovac yang tengah diuji klinis di Bandung selama lima bulan terakhir telah menunjukkan efek samping pada relawan. Ketua Tim Peneliti Vaksin Covid-19 dari Universitas Padjajaran Kusnandi Rusmil mengatakan, selama lima bulan ini, vaksin Covid-19 dari Sinovac telah disuntikkan kepada 1.620 relawan berusia 18-59 tahun.

"Penyuntikan dosis sudah selesai pada tanggal 6 November dan pengambilan 14 hari pasca suntikan sudah selesai pada 20 November 2020," ujar Kusnandi di Bio Farma, Bandung, pada 30 Desember 2020. "Semua subyek dipantau efek samping yang dirasakan pasca-suntikan," katanya.

Kusnandi mengatakan, sejauh ini, efek samping yang timbul terbanyak pada para relawan adalah reaksi lokal, berupa nyeri pada tempat suntikan dengan intensitas mayoritas ringan. Kemudian, reaksi sistemik terbanyak yang dirasakan lainnya adalah pegal pada otot dengan mayoritas ringan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa sebuah jurnal Inggris menyebut vaksin Sinovac bisa membuat alat kelamin pria membesar hingga 3 inci, keliru. Gambar tangkapan layar yang menunjukkan sebuah studi dalam jurnal tersebut, yang menyatakan vaksin Covid-19 bisa membuat alat kelamin membesar, merupakan hasil suntingan. Gambar itu dibuat dengan tujuan sebagai humor.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya