Tidak Terbukti, Vaksin Cina Akan Bunuh Warga Karena Timbulkan Efek ADE

Rabu, 23 Desember 2020 15:07 WIB
 


 
Tidak Terbukti, Vaksin Cina Akan Bunuh Warga Karena Timbulkan Efek ADE

Video berita dengan teks yang mengklaim bahwa warga akan dibunuh dengan vaksin Cina beredar di Facebook. Video itu adalah video berita dari CNN Indonesia Jawa Timur yang berjudul "Potensi Bahaya Vaksin Covid-19". Video ini berisi penjelasan Chairul Anwar Nidom, guru besar Universitas Airlangga yang juga Ketua Tim Laboratorium Professor Nidom Foundation, tentang fenomena antibody-dependent enhancement (ADE).

ADE adalah peristiwa di mana peningkatan antibodi tidak efektif menetralisir virus yang dituju sehingga virus tersebut bisa tetap masuk ke sel, dan malah membuat infeksi di dalam sel lebih parah. Video ini pun diberi tulisan tambahan berwarna kuning yang berbunyi: "hati2,,, rakyat akan dibunuh vaksin Cina,,,!" Video ini dibagikan salah satunya oleh akun Tony Arianto, tepatnya pada 17 Desember 2020.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Tony Arianto yang memuat klaim yang belum terbukti kebenarannya terkait vaksin.

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan verifikasi Tim CekFakta Tempo, video berita tersebut memang pernah dirilis CNN Indonesia pada 18 September 2020. Namun, dalam video tersebut, tidak ada penjelasan bahwa vaksin dari Cina akan membunuh warga, termasuk di Indonesia.

Berita tersebut memuat penjelasan seputar hasil penelitian Professor Nidom Foundation (PNF) tentang potensi antibody-dependent enhancement (ADE) pada virus Corona penyebab Covid-19, SARS-CoV-2. Artinya, terdapat potensi peningkatan keganasan virus setelah vaksinasi.

Tempo pun meminta penjelasan lebih lanjut kepada Chairul Anwar Nidom terkait fenomena ADE itu. Menurut dia, efek ADE bisa terjadi pada SARS-CoV-2, tapi bisa juga tidak. Sehingga, hal ini perlu menjadi pertimbangan utama sebelum vaksin, apapun jenisnya, diberikan kepada masyarakat.

Menurut dia, ada dua macam vaksin yang akan diedarkan secara global, yaitu vaksin yang hanya membentuk antibodi humoral (darah), seperti vaksin Sinovac dan vaksin Sinopharm, serta vaksin yang membentuk antibodi humoral sekaligus antibodi selular, seperti vaksin Pfizer.

“Selama ini, yang pernah terjadi adanya efek ADE adalah pada vaksin yang menghasilkan antibodi humoral, seperti vaksin demam berdarah serta kandidat vaksin SARS yang diberikan kepada hewan monyet yang menimbulkan kerusakan paru (pneumonia) yang hebat,” kata Nidom pada 23 Desember 2020.

Menurut dia, penggunaan vaksin atas virus baru, seperti SARS-CoV-2, diperlukan kehati-hatian yang tinggi. “Jangan hanya mempertimbangkan proses pembuatan vaksinnya saja, tapi juga reaksi virusnya,” katanya. Vaksinasi, menurut dia, juga seharusnya bukan satu-satunya cara yang diambil.

Pasalnya, pengendalian Covid-19 dengan memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak sudah sangat efektif, asal dilakukan dengan disiplin yang tinggi dari semua level masyarakat. “Masih ada kematian itu banyak terjadi akibat komorbid dan mekanisme di hilir (rumah sakit, dan lain-lain).”

Namun, kekhawatiran Nidom terkait ADE tersebut dibantah oleh Kusnandi Rusmil, profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. Menurut dia, fenomena ADE tidak terjadi pada SARS-CoV-2. Dia menegaskan fenomena ADE sudah menjadi perhatian dalam riset pengembangan vaksin Covid-19.

Hal itu termasuk vaksin Sinovac yang riset uji klinisnya di Bandung, Jawa Barat, dipimpin oleh Kusnandi. "ADE sejauh ini hanya terlihat pada Dengue dan sejenisnya dan tidak pada virus lain," kata Kusnandi dalam keterangan tertulisnya pada 5 Oktober 2020.

Fenomena ADE yang terlihat pada kasus MERS, SARS, Ebola, dan HIV, seperti juga dinyatakan dalam literatur Nidom, kata Kusnandi, hanya ditemukan in silico dan in vitro atau percobaan di cawan petri laboratorium. "Tidak menggambarkan fenomena di manusia," kata guru besar Ilmu Kesehatan Anak itu.

Untuk SARS-CoV-2, menurut Kusnandi, telah diselidiki sejak uji praklinis, dan kandidat vaksin yang ada dinyatakan aman dari fenomena ADE. Baik pada tikus maupun monyet yang menjadi model percobaan, tidak didapati patologi pada darah maupun paru-paru yang mungkin terjadi bila efek ADE eksis.

"Saat ini, sudah lebih dari 140 calon vaksin dibuat, sebagian di antaranya sudah dalam tahap uji klinis pada manusia, dan hingga saat ini belum ada bukti terjadinya ADE," katanya sambil menambahkan, "Namun, kewaspadaan dan monitoring terhadap keamanan vaksin tetap harus dilakukan."

Tidak ditemukan efek ADE dalam hasil uji klinis vaksin lain

Menurut organisasi cek fakta yang fokus pada isu kesehatan, Health Feed Back, dalam artikelnya pada 21 November 2020, meski secara teoritis ADE bisa muncul karena efek vaksin Covid-19, hasil uji klinis beberapa vaksin belum menunjukkan bahwa peserta yang menerima vaksin mengalami peningkatan keparahan penyakit dibandingkan yang tidak divaksin. Para ilmuwan terus mendorong pemantauan keamanan yang ketat untuk sepenuhnya menyingkirkan ADE sebagai efek samping potensial.

Sanjay Mishra, staf ilmuwan Pusat Medis Universitas Vanderbilt, menjelaskan belum ada peran pasti ADE dalam Covid-19, meski kekhawatiran atas hal itu muncul. Kandidat vaksin utama yang sejauh ini telah memasuki tahap uji coba fase 3 skala besar, seperti Moderna, Pfizer, dan AstraZeneca, tidak menunjukkan masalah keamanan yang serius. Namun, dia menyarankan untuk tetap mencermati bukti yang lebih baik untuk sepenuhnya menyingkirkan ADE, meski sejauh ini belum ada bukti ADE yang ditemukan.

Sebagai catatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) telah memberikan izin penggunaan darurat vaksin Covid-19 yang dibuat oleh Pfizer bersama BioNTech. Keputusan ini didasarkan pada data lebih dari 43 ribu relawan yang telah menerima suntikan vaksin kedua. Vaksin itu disebut aman, di mana uji coba menemukan efek samping yang umum terjadi, seperti kelelahan, sakit kepala, demam, dan empat kasus bell’s palsy. Tidak ditemukan keparahan penyakit karena fenomena ADE.

Angeline Rouers, peneliti di Jaringan Imunologi Singapura, menjelaskan potensi ADE pada virus Corona baru lewat demonstrasi in vitro (simulasi komputer). Mekanisme in vivo mungkin berbeda, dan juga tidak ada bukti jelas yang menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 dapat menginfeksi makrofag, sel yang berfungsi untuk menstimulasikan limfosit dan sel imun lainnya untuk merespon patogen.

"Faktanya, ADE adalah respons imun yang terkenal di kalangan ilmuwan dan dijelaskan dalam buku teks imunologi. ADE harus dinilai dari tahap paling awal pengembangan vaksin. Tidak ada yang disembunyikan dari publik. Jika ADE terdeteksi selama pengembangan vaksin, uji coba itu akan dihentikan. Kami tidak pernah bisa yakin 100 persen bahwa ini tidak akan terjadi pada tahap uji klinis selanjutnya. Tapi, dalam seluruh sejarah vaksin, fenomena ini sangat jarang terjadi,” kata Rouers.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Cina akan bunuh warga karena timbulkan efek ADE, belum terbukti. Meski pemerintah Indonesia telah mendatangkan 1,2 juta vaksin Sinovac, vaksin ini belum mengantongi izin penggunaan darurat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga belum diedarkan. Belum ada pula temuan di mana relawan uji coba vaksin Sinovac mengalami keparahan penyakit karena efek ADE. Selain itu, hasil uji klinis sementara pada vaksin Pfizer yang telah digunakan di Amerika Serikat dan Inggris juga tidak menunjukkan efek ADE. Meski begitu, pemantauan terhadap keamanan vaksin tetap harus menjadi perhatian utama.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya