[Fakta atau Hoax] Benarkah Banyak Kasus Bunuh Diri di Indonesia Seperti Pidato Prabowo?

Rabu, 16 Januari 2019 12:28 WIB
 
[Fakta atau Hoax] Benarkah Banyak Kasus Bunuh Diri di Indonesia Seperti Pidato Prabowo?

Calon Presiden Prabowo Subianto menyinggung soal banyak masyarakat Indonesia yang bunuh diri karena kondisi ekonomi, dalam pidato kebangsaan yang ia helat di JCC Senayan pada Senin malam, 14 Januari 2019.

Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto - Sandiaga Uno saat menyampaikan pidato kebangsaan di JCC, Jakarta, Senin 14 Januari 2018. TEMPO/Subekti

Ia mencontohkan seorang buruh tani, bernama pak Hardi di Desa Tawangharjo, Grobokan, yang meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya.

“Almarhum gantung diri, meninggalkan isteri dan anak karena merasa tidak sanggup membayar utang, karena beban ekonomi yang ia pikul dirasa terlalu berat,” kata Prabowo dalam naskah pidatonya.

Prabowo juga mencontohkan kisah seorang guru di Pekalongan yang gantung diri. Terakhir, tanggal 4 Januari lalu, seorang ibu Sudarsi di Desa Watusigar, Gunungkidul gantung diri.

“Ini kisah-kisah yang masuk berita. Yang tidak masuk berita mungkin lebih banyak lagi,” ucap Prabowo.

Benarkah banyak kasus bunuh diri di Indonesia seperti yang diucapkan Prabowo?

Penelusuran Fakta

World Population Review, mencatat, bahwa angka bunuh diri di Indonesia rata-rata sebanyak 3,4 kasus per 100 ribu penduduk. Berdasarkan angka itu, Indonesia berada dalam posisi ke-151 dari 176 negara di dunia atau rendah.

Menurut Website penyaji analisis data populasi yang berbasis di Amerika Serikat itu, ada lima negara di Timur Eropa dengan kasus bunuh diri terbanyak di dunia. Yakni,  Lithuania (31.9 kasus per 100 ribu jiwa ), the Russia (31 kasus per 100 ribu jiwa), Guyana (29.2 kasus per 100 ribu jiwa), and Korea Selatan (26.9 kasus per 100 ribu).

Meski berada dalam posisi bawah, namun, kasus bunuh diri di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Sebab angka pada 2018 itu menunjukkan peningkatan dibandingkan 2017. Badan Kesehatan Dunia WHO, pada 2017 menempatkan Indonesia di rangking 172 dari 183 negara yang diteliti dengan rata-rata 3 kasus per 100 ribu jiwa.

Menurut WHO, bunuh diri adalah fenomena global. Sejak 2016, hampir 800.000 orang meninggal karena bunuh diri setiap tahun atau ada satu orang yang bunuh diri setiap 40 detik.

WHO menemukan relasi antara tingginya kasus bunuh diri dengan situasi ekonomi. Pada 2016, sebanyak 79% kasus bunuh diri terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2016.

Bunuh diri merupakan 1,4% dari semua kematian di seluruh dunia, menjadikannya penyebab utama kematian ke-18 pada tahun 2016. Termasuk menjadi penyebab utama kematian kedua di rentang usia 15-29 tahun secara global.

Direktur Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Eni Gustina, mengatakan sekitar 5,2 persen anak yang masuk dalam kategori berusia 18 tahun ke bawah menyatakan ada keinginan bunuh diri. "Itu berdasarkan hasil survei terhadap perilaku berisiko anak usia sekolah," kata Eni dalam konferensi pers memperingati Hari Anak Nasional.

Psikolog Anak dari Tiga Generasi Saskhya Aulia Prima, mengatakan, ada berbagai penyebab seorang atau atau remaja punya pikiran ingin melakukan bunuh diri.

Pertama, anak mengalami stres pada lingkungan termasuk keluarga dan sekitarnya. "Kedua, kurang dukungan atau support juga bisa menjadi penyebab anak ingin bunuh diri, karena merasa kurang dihargai atau merasa sendiri," kata Saskhya di Jakarta, Selasa, 25 Juli 2017.
 
Ketiga, ekspetasi sosial dalam media sosial seperti memposting foto, ungkapan kebahagiaan, atau yang lainnya. "Ini lebih merasa kurang cantik atau ganteng dari orang lain, atau merasa tak seberuntung temannya, merasa tak bahagia seperti orang lain di media sosialnya," ujarnya.

Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) Eka Viora, mengatakan prevalensi depresi dari hasil penelitian terhadap 17 negara adalah 1 dari 20 populasi.

"Berarti sekitar 350 juta orang di dunia mengalami depresi dan ada 800 ribu orang yang bunuh diri akibat mengalami depresi," kata Eka dalam konferensi pers perayaan hari kesehatan dunia dengan tema 'Depression: Let's Talk' dan peluncuran Elxion di Jakarta, Kamis, 18 Mei 2017.

Menurut Eka, depresi itu adalah penyakit, bukan kelemahan karena orang itu tidak beriman, malas, atau yang lainnya. "Karena itu, depresi harus menjadi masalah besar yang harus ditangani agar tidak bunuh diri," ujarnya, dikutip dari Tempo.

Kesimpulan

Pernyataan Prabowo bahwa banyak kasus bunuh diri di Indonesia memang benar. Akan tetap penyebab bunuh diri tak melulu persoalan ekonomi. Faktor lain yang berpengaruh antara lain stress dengan lingkungan keluarga maupun di masyarakat serta depresi.

 

IKA NINGTYAS

 

  •