[Fakta atau Hoaks] Benarkah Makan Coklat Setelah Mi Instan Bisa Munculkan Arsenik Beracun?

Selasa, 11 Agustus 2020 13:58 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Makan Coklat Setelah Mi Instan Bisa Munculkan Arsenik Beracun?

Sebuah unggahan pada 2019 yang mengklaim bahwa makan coklat setelah mengkonsumsi mi instan bisa memunculkan reaksi kimia senyawa arsenik yang beracun kembali viral dalam beberapa hari terakhir. Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah dibagikan lebih dari 1.300 kali.

Klaim tersebut diunggah oleh akun Yanti Adifa, tepatnya pada 18 Maret 2019. Unggahan itu berisi kisah seorang wanita yang mendadak meninggal akibat mengkonsumsi coklat setelah makan mi instan. "Wanita ini memiliki kebiasaan makan coklat tiap hari, ini tidak masalah. Masalahnya, malam itu wanita ini kebanyakan makan 'MIE GORENG'."

Menurut unggahan tersebut, hanya mengkonsumsi mi instan sebenarnya tidak masalah. "Tetapi, karena mie itu mengandung Arsenic Pentoxide (As2O5) dan berhubung habis makan mie wanita itu makan coklat, terjadilah reaksi kimia di dalam perut yang membuat 'Arsenic Pentoxide' (As2O5) berubah menjadi Arsenic Trioxide (As2O3) yang sangat beracun."

Reaksi tersebut, menurut unggahan itu, mengakibatkan hati, jantung, dan ginjal rusak, pembuluh darah melebar, serta usus berdarah, sehingga wanita tersebut meninggal dengan kelima panca indranya mengeluarkan darah. Akun Yanti Adifa pun mengklaim bahwa informasi itu berasal dari Kementerian Kesehatan.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yanti Adifa.

Namun, apa benar mengkonsumsi coklat setelah makan mi instan bisa memunculkan reaksi kimia arsenic trioxide yang sangat beracun?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, kisah wanita yang meninggal karena mengkonsumsi coklat setelah makan mi instan tersebut tidak memiliki rujukan yang jelas. Informasi itu juga tidak berasal dari Kemenkes.

Tempo telah memeriksa situs resmi Kemenkes dengan memasukkan kata kunci "mi instan dan coklat" serta "bahaya mengkonsumsi mi instan dan coklat" di kolom pencarian situs tersebut, dan tidak ditemukan informasi terkait hal itu. Namun, melalui akun Twitter resminya, pada 21 Juni 2018, Kemenkes telah menyatakan informasi itu tidak benar atau hoaks.

“Tahun 2018 masih percaya hoax kesehatan? Yuk, bijak share informasi melalui media sosial. Cari tahu kebenarannya dulu. Yuk beritakan yang benar,” demikian cuitan akun Kemenkes. Akun ini pun mengunggah gambar tangkapan layar pesan WhatsApp yang berisi klaim tersebut dan memberinya label "hoax".

Berdasarkan penelusuran Tempo, klaim itu telah beredar sejak 2016. Meski telah berulang kali dibantah oleh sejumlah pihak, informasi tersebut masih terus disebarkan oleh warganet.

Pada 9 April 2017, I Putu Yuda Pratama, saat itu mahasiswa Magister Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, menulis sebuah artikel ilmiah di Harian Tribun Jogja untuk meluruskan informasi tersebut. Ia menulis bahwa tidak mungkin terdapat zat berbahaya seperti arsenik trioxide maupun arsenik pentoxide di dalam mi instan dan coklat karena sudah diuji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebelum diedarkan.

Walaupun arsenik bisa ditemukan dalam makanan, menurut Yuda, jenisnya adalah arsenik organik yang secara alami dapat dikeluarkan oleh tubuh dan jumlahnya dibatasi. Sehingga, Yuda menuturkan, tidak mungkin terdapat interaksi antara arsenik trioxide dan arsenik pentoxide karena kedua arsenik itu tidak terdapat dalam makanan.

Arsenik sendiri adalah elemen berupa mineral yang secara alami terdapat dalam lingkungan. Arsenik biasanya bersumber dari makanan, air, tanah, dan udara. Ada tiga klasifikasi arsenik, yaitu yang bersifat anorganik, organik, dan gas. Arsenik pentoxide dan arsenik trioxide adalah jenis arsenik anorganik (kimia) yang sangat berbahaya dan dapat menyebabkan kanker jika terjadi kontak langsung dengan bagian tubuh.

BPOM pun telah menetapkan ambang batas arsenik organik dalam mi instan, yakni tidak lebih dari 0,5 miligram untuk setiap 1 kilogram. Jika melebihi jumlah tersebut, mi instan otomatis tidak akan lolos uji dan dipasarkan. Arsenik itu pun merupakan cemaran yang tidak dapat dihindari, karena mungkin terdapat dalam bahan-bahan yang digunakan untuk membuat mi instan, seperti seperti tepung dan air. Namun, arsenik organik ini bisa dikeluarkan oleh tubuh secara alami, berbeda dengan arsenik pentoxide atau arsenik trioxide yang merupakan arsenik anorganik.

Sama halnya dengan mi instan, menurut Yuda, coklat tidak mengandung arsenik trioxide yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan arsenik dalam coklat pun adalah arsenik organik. Menurut BPOM, kandungan arsenik organik dalam coklat maksimal 1 miligram untuk setiap 1 kilogram. Jumlah ini merupakan jumlah arsenik organik yang aman dikonsumsi oleh manusia.

Pada 2016, BPOM menerbitkan kajian tentang bahaya bahan tambahan pangan (BTP) dalam mi instan. Namun, dalam bahan-bahan ini, tidak terdapat bahan kimia berupa arsenik pentoxide dan arsenik trioxide. Bahan tambahan pangan yang diizinkan dalam sebungkus mi instan di antaranya pewarna tartrazin, pengawet natrium benzoat, dan lain-lain. Bahan tambahan ini sesuai dengan Peraturan Kepala BPOM Nomor 37 Tahun 2013 tentang Batas Maksimum Penggunaan Bahan Tambahan Pangan Pewarna.

Dikutip dari situs resmi Dinas Kesehatan Yogyakarta, tidak ada mi instan di pasaran yang ditemukan mengandung racun arsenik. "Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, disimpulkan bahwa produk mi instan yang terdaftar dan beredar di Indonesia memenuhi standar dan persyaratan yang berlaku, serta dinyatakan aman untuk dikonsumsi," kata Kustantinah pada 2016 yang saat itu menjabat sebagai Kepala BPOM.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa makan coklat setelah mengkonsumsi mi instan bisa memunculkan reaksi kimia arsenic trioxide yang sangat beracun, keliru. Pertama, Kemenkes telah menyatakan bahwa informasi tersebut tidak berasal dari mereka. Kedua, mengkonsumsi mi instan dan coklat tidak akan menimbulkan reaksi kimia arsenik trioxide karena kedua makanan itu tidak mengandung arsenik trioxide maupun arsenik pentoxide. Arsenik trioxide dan arsenik pentoxide adalah jenis arsenik anorganik yang sangat berbahaya bagi tubuh sehingga tidak boleh terkandung dalam makanan.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya