[Fakta atau Hoaks] Benarkah Profesor Harvard Ini Ditangkap Terkait Pembuatan Virus Corona?

Selasa, 31 Maret 2020 12:48 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Profesor Harvard Ini Ditangkap Terkait Pembuatan Virus Corona?

Video yang berisi konferensi pers Biro Investigasi Amerika Serikat atau FBI mengenai penangkapan seorang profesor dari Universitas Harvard beredar di media sosial. Narasi yang menyertai video itu mengaitkan penangkapan tersebut dengan pembuatan virus Corona Covid-19.

Video yang berdurasi 2 menit 19 detik itu diambil ketika FBI mengumumkan penangkapan Charles Lieber, Kepala Departemen Biologi Kimia Universitas Harvard, serta dua warga negara Cina. Lieber ditangkap karena diduga bekerja sama dengan pemerintah Cina.

Salah satu akun di Facebook yang membagikan video tersebut adalah akun Timothy Simamora, yakni pada 29 Maret 2020. Akun ini menulis, "Sudah mulai terkuak sekarang siapa dibalik dan yang membuat Virus Corona ini. Virus Corona ini buatan manusia."

Narasi itu pun membuat sejumlah warganet mempercayai bahwa virus Corona Covid-19 adalah buatan manusia. Akun Lambok Sitorus misalnya, menuliskan komentar, "Dari awal Tiongkok gak transaparan, dunia menanggung akibatnya. Ekonomi merosot orang meninggal ribuan."

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Timothy Simamora yang memuat narasi sesat mengenai video yang diunggahnya.

Apa benar penangkapan Charles Lieber, profesor dari Universitas Harvard, oleh FBI terkait dengan pembuatan virus Corona Covid-19?

PEMERIKSAAN FAKTA

Dengan memasukkan kata kunci "FBI arrested Harvard professor”, Tim CekFakta Tempo menemukan bahwa video itu sama dengan video yang diunggah oleh Channel 8 News NOW Las Vegas pada 29 Januari 2020. Video tersebut berjudul "US Attorney's Office arrested, charged a Harvard professor for aiding Chinese economic espionage, research theft".

Tempo pun membandingkan informasi dalam video itu dengan pernyataan resmi dari Departemen Kehakiman AS mengenai penangkapan tersebut pada 28 Januari 2020. Menurut Departemen Kehakiman, Charles Lieber dan dua warga negara Cina, Yanqing Ye dan Zaosong Zheng, didakwa dalam tiga kasus yang berbeda. Selain itu, tidak ada satu pun dari dakwaan tersebut yang menyinggung tentang keterlibatan ketiganya dalam pembuatan virus.

Lieber didakwa karena telah membuat pernyataan yang salah secara materi, fiktif, dan bersifat menipu. Ye didakwa karena telah melakukan penipuan visa, membuat pernyataan palsu, dan bertindak sebagai agen pemerintah asing serta konspirasi. Sementara Zheng didakwa karena berusaha menyelundupkan 21 vial penelitian biologi ke Cina dan membuat pernyataan palsu, fiktif, atau bersifat menipu.

Menurut dokumen pengadilan, Lieber ditangkap karena, sejak 2011, dia menjadi strategic scientist di Universitas Teknologi Wuhan (WUT) tanpa sepengetahuan Universitas Harvard. Pada 2012-2017, Lieber juga menjadi peserta Rencana Seribu Talenta Cina, program dari pemerintah Tiongkok untuk merekrut ahli-ahli dari luar negeri dan membawa pengetahuan serta pengalaman mereka ke Cina. Lewat program itu, WUT menggaji Lieber US$ 50 ribu per bulan, membiayai kebutuhan Lieber selama tinggal di Cina sebesar 1 juta yuan, dan membangunkan laboratorium senilai US$ 1,5 juta.

Padahal, sejak 2008, Lieber yang menjabat sebagai investigator utama Lieber Research Group Universitas Harvard telah menerima dana hibah sekitar US$ 15 juta dari Institut Kesehatan Nasional AS (NIH) dan Departemen Pertahanan. Penerima hibah ini diberi syarat bahwa tidak ada konflik kepentingan keuangan asing yang signifikan, termasuk dukungan keuangan dari pemerintah atau entitas asing. Lieber pun berbohong tentang keterlibatannya dalam Rencana Seribu Talenta Cina serta afiliasinya dengan WUT.

Terdakwa kedua, Ye, adalah Letnan Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) Cina dan anggota Partai Komunis Tiongkok. Dalam visa J-1, Ye mengaku sebagai mahasiswa. Selama menempuh studi di Departemen Fisika, Kimia, dan Biomedis Universitas Boston pada Oktober 2017 hingga April 2019, Ye tetap bertugas sebagai Letnan PLA untuk mengakses situs militer AS, meneliti proyek-proyek militer AS, dan mengumpulkan informasi untuk PLA mengenai dua ilmuwan AS yang memiliki keahlian dalam robotika dan ilmu komputer.

Sementara terdakwa ketiga, Zheng, masuk ke AS menggunakan visa J-1 untuk melakukan penelitian mengenai sel kanker di Beth Israel Deaconess Medical Center, Boston, pada 4 September 2018 hingga 9 Desember 2019. Ia kedapatan mencuri 21 vial penelitian biologi ketika akan terbang ke Cina dengan pesawat. Petugas Bandara Logan menemukan vial tersebut di dalam kaus kaki di salah satu tas milik Zheng. Ia mencuri vial itu untuk diteliti di laboratoriumnya sendiri dan mempublikasikan hasilnya dengan namanya sendiri.

Teori Konspirasi

Teori konspirasi bahwa virus Corona Covid-19 merupakan virus buatan AS atau Cina telah menyebar sejak virus ini muncul di Wuhan pada Desember 2019 lalu. Isu ini kembali menghangat setelah terjadinya perang kata-kata antara pejabat Cina dengan Presiden AS, Donald Trump, pada pertengahan Maret 2020 kemarin.

Namun, penangkapan profesor Harvard maupun dua warga negara Cina oleh FBI di atas tidak terkait dengan berbagai teori konspirasi ini. Sejumlah organisasi pemeriksa fakta independen AS telah membantah narasi yang mengaitkan penangkapan profesor Harvard itu dengan pembuatan virus Corona Covid-19.

FactCheck misalnya, menjelaskan bahwa profesor Harvard yang dimaksud, Charles Lieber, adalah seorang ilmuwan nano yang didakwa berbohong tentang partisipasinya dalam sebuah program dari pemerintah Cina dan afiliasinya dengan sebuah universitas di Wuhan. Dia tidak didakwa sebagai mata-mata dan tidak memiliki keterkaitan dengan virus Corona Covid-19.

Menurut FactCheck, Lieber dikaitkan dengan virus Corona Covid-19 hanya karena kebetulan bekerja di sebuah universitas di Wuhan, kota di mana virus tersebut pertama kali muncul. Departemen Kehakiman pun telah membantah bahwa mereka mendakwa Lieber atas tuduhan telah terlibat dalam pembuatan virus Corona Covid-19. "Departemen Kehakiman tidak membuat tuduhan seperti itu," demikian keterangan Departemen Kehakiman kepada FactCheck.

Lieber pun merupakan seorang ahli nano yang mempelajari dan mengembangkan material-material yang sangat kecil dalam skala nanometer. Ia bukan ahli biologi dan tidak memiliki keahlian seputar virus. Selain itu, universitas tempat Lieber bekerja, Universitas Teknologi Wuhan (WUT), tidak berfokus pada virus. Dalam daftar proyek penelitian di situsnya, WUT diketahui sebagai sekolah teknik yang berfokus pada bidang-bidang seperti ilmu material, transportasi, dan logistik.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi yang mengaitkan penangkapan seorang profesor dari Universitas Harvard, Charles Lieber, dan dua warga negara Cina dengan pembuatan virus Corona Covid-19 menyesatkan. Ketiganya ditangkap dalam tiga kasus yang berbeda dan tidak terkait dengan virus Corona. Lieber didakwa karena telah berbohong mengenai partisipasinya dalam sebuah program dari pemerintah Cina dan afiliasinya dengan Universitas Teknologi Wuhan (WUT). Lieber bukan ahli virus, WUT pun tidak berfokus pada virus.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya