[Fakta atau Hoaks] Benarkah Bawang Merah yang Telah Dikupas Bisa Menyedot Virus Corona?

Selasa, 24 Maret 2020 13:08 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Bawang Merah yang Telah Dikupas Bisa Menyedot Virus Corona?

Pesan berantai dengan narasi bahwa bawang merah yang telah dikupas bisa menyedot bakteri dan virus, termasuk virus Corona COVID-19, beredar di grup-grup percakapan WhatsApp sejak Senin, 23 Maret 2020. Menurut pesan berantai itu, khasiat bawang merah tersebut berasal dari pengalaman seorang dokter di Cina.

Dalam pesan berantai tersebut, diceritakan bahwa dokter itu mengetahui bahwa ada sebuah keluarga yang sama sekali tidak tersentuh virus Corona karena meletakkan bawang merah yang telah dikupas di mangkuk dan menaruh mangkuk tersebut di setiap ruangan di rumahnya.

Dokter itu pun mengambil salah satu bawang merah yang telah dikupas dan mengeceknya dengan dengan metode bakteriologis. Ia mendapati seluruh permukaan bawang itu penuh dengan virus dan kuman yang sudah tidak aktif. Bawang merah itu disebut menyedot virus dan kuman, memasukkannya ke dalam intra sel, mencernanya dalam vakuola, dan membunuhnya.

"Nah, ayo mulai sekarang kita pasang bawang merah yang sudah dikupas. Masukkan dalam mangkuk dan taruh di kamar, ruang tamu, gudang, dan setiap sudut-sudut ruangan. Semoga virus, kuman, dan bakteri yang ada di rumah Anda akan diserap habis oleh bawang merah. Sebarkan berita ini kepada teman, saudara, kerabat, agar mereka juga bisa mencegah virus Corona," demikian narasi yang tertulis di akhir pesan berantai itu.

Gambar tangkapan layar pesan berantai di WhatsApp yang memuat narasi keliru mengenai bawang merah dan virus Corona.

Apa benar bawang merah yang telah dikupas bisa menyedot virus Corona COVID-19?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, pesan berantai di atas sebenarnya merupakan modifikasi dari sebuah mitos yang telah beredar bertahun-tahun yang lalu, tepatnya sebelum dan sesudah wabah flu pada 1919 yang membunuh 40 juta orang, lalu menyedar kembali saat wabah flu babi pada 2009. Kepercayaan itu ada dalam banyak budaya masyarakat tradisional, namun tidak didukung dengan penelitian ilmiah.

Organisasi cek fakta Amerika Serikat, Snopes, pernah memuat cerita itu dalam versi flu 1919 pada 13 Oktober 2009 di artikelnya yang berjudul "Do Onions Fight Off the Flu Virus?". Berikut ini terjemahan dari cerita yang beredar dalam bahasa Inggris tersebut:

"Pada 1919, ketika terjadi wabah flu yang membunuh 40 juta orang, ada dokter yang mengunjungi para petani untuk melihat apakah ia dapat membantu mereka memerangi flu. Banyak petani serta keluarganya yang telah terjangkit, banyak pula yang meninggal. Lalu, dokter itu mendatangi salah satu petani dan ia cukup terkejut karena petani tersebut dalam kondisi sehat. Ketika si dokter bertanya apa yang telah dilakukan oleh petani itu, istrinya menjawab bahwa dia telah meletakkan bawang yang dikupas di piring, lalu menaruhnya di kamar-kamar di rumahnya (mungkin hanya dua kamar saat itu). Dokter tidak bisa mempercayainya. Ia bertanya apakah ia dapat membawa salah satu bawang tersebut. Si petani pun memberinya bawang itu dan si dokter kemudian meletakkannya di bawah mikroskop. Ternyata, dokter tersebut menemukan adanya virus flu dalam bawang itu. Bawang jelas menyerap virus, sehingga membuat keluarga tersebut tetap sehat."

Snopes juga memuat sejumlah pemberitaan mengenai kepercayaan masyarakat atas bawang tersebut. Beberapa di antaranya adalah Chambers’ Journal pada 1900, Los Angeles Times pada 1913, dan The Chicago Defender pada 1922.

Menurut ahli biologi yang dikutip Snopes dari Wall Street Journal, sangat tidak masuk akal bahwa bawang dapat menyedot virus flu. Sebab, virus membutuhkan inang yang hidup untuk bertahan hidup. Virus pun tidak dapat mendorong dirinya keluar dari tubuh inangnya dan melintasi sebuah ruangan.

Office for Science and Society Universitas McGill di Quebec, Kanada, menyatakan hal serupa. Justru, menurut mereka, bawang merah tidak mudah terkontaminasi bakteri karena mengandung senyawa sulfur yang bersifat anti-bakteri. Meskipun begitu, tidak berarti bahwa bawang dapat melindungi seseorang dari flu yang disebabkan oleh virus.

Mereka juga menuturkan bahwa mengupas bawang dapat memicu pelepasan enzim yang memulai reaksi kimia yang menghasilkan asam propenesulfenat, dan pada gilirannya menghasilkan asam sulfat. Asam sulfat inilah yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Selain itu, permukaan bawang yang dikupas relatif cepat mengering, sehingga mengurangi kelembaban yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang biak.

Sejauh ini, penggunaan bawang merah yang telah dikupas pun tidak tercantum dalam rekomendasi pencegahan untuk virus Corona COVID-19. Pencegahan terbaik menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah sering mencuci tangan, menutup mulut saat batuk dengan siku yang terlipat atau tisu, dan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang yang batuk-batuk atau bersin-bersin.

WHO juga menyatakan, sampai saat ini, belum ada obat khusus yang direkomendasikan untuk mencegah atau mengobati infeksi virus Corona COVID-19. Mereka yang terinfeksi virus hanya menerima perawatan yang tepat untuk meredakan dan mengobati gejala. Adapun mereka yang sakit parah harus mendapatkan perawatan suportif yang dioptimalkan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa bawang merah yang telah dikupas bisa menyedot bakteri dan virus, termasuk virus Corona COVID-19, adalah klaim yang keliru. Pesan berantai itu adalah modifikasi dari mitos lama yang berkembang di masyarakat yang tidak didukung dengan penelitian ilmiah.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya