[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Warga Cina yang Berebut Alquran Agar Tak Tertular Virus Corona?

Kamis, 12 Maret 2020 17:36 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Warga Cina yang Berebut Alquran Agar Tak Tertular Virus Corona?

Video yang diklaim sebagai video warga Cina yang berebut Alquran beredar di media sosial. Menurut narasi yang menyertai video itu, warga Cina berebut Alquran setelah tahu bahwa masyarakat Uighur dan suku-suku di Xinjiang yang mayoritas beragama Islam tidak tertular virus Corona Covid-19.

Dalam video itu, terlihat dua koper yang diletakkan di lantai sebuah ruangan. Saat koper itu dibuka, sejumlah pria dan wanita yang berada di ruangan tersebut langsung menyerbu buku-buku yang ada di dalam koper tersebut. Beberapa dari mereka pun menciumi buku itu.

Di Twitter, video itu diunggah oleh akun @todays_quote pada 10 Maret 2020. Akun itu menulis, "Setelah mereka tahu orang-orang Uyghur dan suku-suku di Sinchiang yang mayoritas muslim tidak tertular corona. Kini orang-orang di china berebut-rebut untuk mendapatkan Alquran dan mulai belajar membacanya dan belajar mengerti artinya. Subhanallah."

Hingga artikel ini dimuat, video tersebut sudah ditonton lebih dari 1.400 kali dan dibagikan sebanyak 139 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Twitter @todays_quote yang memuat narasi sesat mengenai video yang diunggahnya.

Apa benar video di atas adalah video warga Cina yang berebut Alquran agar tak tertular virus Corona Covid-19?

PEMERIKSAAN FAKTA

Tim CekFakta Tempo menggunakan tool InVID untuk memfragmentasi video tersebut menjadi sejumlah gambar. Kemudian, gambar-gambar itu ditelusuri dengan reverse image tool Bing. Hasilnya, ditemukan video yang sama yang diunggah kanal YouTube Jesusvideos pada 22 Maret 2019 dengan judul "A Bible School in China receives Scriptures".

Kanal itu pun menulis keterangan dalam bahasa Inggris yang terjemahannya berbunyi: "Siswa di Sekolah Alkitab di Cina menerima kiriman yang sangat spesial, koper berisi Alkitab untuk masing-masing dari mereka. Lihatlah suka cita di wajah mereka ketika mereka mendapatkan Alkitab pribadi untuk pertama kalinya."

Berbekal petunjuk itu, Tempo memasukkan kata kunci "student in China receive first Bible" dalam mesin pencarian Google. Hasilnya, ditemukan video yang sama yang diunggah kanal YouTube milik Eric Gilmour, pendiri Sonship International, organisasi pelayanan dalam bidang pengajaran yang berkomitmen untuk memperkuat gereja.

Gilmour mengunggah video itu pada 4 Maret 2014 dengan judul yang serupa dengan kanal Jesusvideos, yakni "Chinese Christians Get Their First Bibles". Namun, dalam video yang diunggahnya, Gilmour menambahkan scene pembuka yang berisi tulisan "Chinese Christians-Get Their First Bibles".

Video yang sama juga pernah dimuat di situs informasi Kristen, Christian Headlines, pada 21 Maret 2019 dalam artikel yang berjudul "Chinese Christians Cry after Receiving Their First Bible". Video tersebut berasal dari kanal YouTube milik International Christian Concern (ICC), lembaga advokasi bagi orang Kristen yang teraniaya.

Menurut situs Christian Headlines, ICC mengunggah kembali video yang telah berusia lebih dari lima tahun itu sebagai bagian dari kampanye untuk mengumpulkan donasi yang bakal digunakan untuk membeli Alkitab. Nantinya, Alkitab itu bakal dikirim ke orang-orang Kristen yang tinggal di negara-negara di mana Kristen dilarang.

Adapun di kanal ICC, video itu diberi keterangan: Sebuah video orang-orang Kristen di Cina membuka Alkitab mereka untuk pertama kalinya. Seorang wanita dalam video ini berkata, "Syukur kepada Tuhan, kami sangat membutuhkan buku ini. Ketika melihat buku ini, saya memikirkan saudara-saudari yang telah membantu kami membawakan buku ini."

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi bahwa video di atas adalah video warga Cina yang berebut Alquran agar tak tertular virus Corona Covid-19, menyesatkan. Video itu telah beredar sejak 2014, sebelum virus Corona Covid-19 pertama kali dilaporkan pada akhir Desember 2019 lalu.

IBRAHIM ARSYAD

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya