[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mengkonsumsi Daun Pakis Bisa Sebabkan Kanker?

Rabu, 22 Januari 2020 13:00 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Mengkonsumsi Daun Pakis Bisa Sebabkan Kanker?

Informasi yang menyebut bahwa mengkonsumsi daun pakis bisa menyebabkan kanker beredar di media sosial. Informasi yang termuat dalam gambar tangkapan layar sebuah pesan WhatsApp itu pun berisi imbauan agar masyarakat tidak lagi mengkonsumsi daun pakis.

Berikut isi lengkap informasi tersebut:

Mohon share agar makin banyak orang yang tahu! Pengetahuan itu berharga. Pakis berbahaya. Pakis adalah tumbuhan penyebab cancer, tumbuhan ini sangat racun, tak ada serangga yang berani makan. Mohon tidak lagi makan tumbuhan ini, tumbuhan ini akan menyebabkan cancer lambung. Akibat makan miding atau paku/pakis, orang-orang Sarawak pengidap cancer lambung paling tinggi. Paku-pakuan adalah tumbuhan spora berpembuluh. Dalam proses metabolisma menghasilkan terpenol-glucoside, yang dipastikan sebagai zat penyebab utama cancer tumbuhan spora berpembuluh.

Salah satu akun yang menyebarkan informasi itu adalah akun Facebook Yanthi Juang, yakni pada Selasa, 7 Januari 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan akun tersebut telah dibagikan lebih dari 800 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Yanthi Juang yang memuat narasi sesat mengenai pakis.

Benarkah mengkonsumsi daun pakis bisa menyebabkan kanker?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan penelusuran Tim CekFakta Tempo, foto pakis dalam gambar tangkapan layar yang dibagikan oleh akun Yanthi Juang bersumber dari situs penyedia gambar Shutterstock. Dalam situs tersebut, foto itu diberi keterangan "Edible Bracken" atau "Pakis yang Dapat Dimakan".

Dilansir dari situs media Detik.com, daun pakis banyak digunakan oleh restoran-restoan besar dalam menu sayurannya. Pakis mengandung vitamin A dan C serta kalium, fosfor, magnesium, kalsium, dan protein. Protein pada pakis 4,5 kali lebih banyak dibandingkan sayuran hijau lainnya.

Dilansir dari The Daily Meal, terdapat dua jenis pakis yang biasa dijual di pasar, yaitu pakis burung unta dan pakis cakar elang. Pakis burung unta biasa ditemukan di wilayah dunia bagian barat. Bentuknya seperti biola, berwarna hijau terang, dan di tengahnya terdapat sedikit daun keriting.

Sementara itu, pakis cakar elang atau bracken ditemukan di negara-negara Asia. Jenis ini mempunyai bentuk yang lebih kecil, daunnya menggulung. Penelitian menunjukkan bahwa pakis cakar elang mengandung ptaquiloside, suatu karsinogen, dalam konsentrasi yang signifikan.

Studi yang diterbitkan di British Journal of Cancer menunjukkan kemungkinan adanya hubungan antara mengkonsumsi pakis dengan pengembangan kandung kemih dan kanker usus pada sapi. Adapun dalam studi seorang ilmuwan Jepang dalam Journal of National Cancer Institute, ptaquiloside dapat mengembangkan risiko tumor pada sampel tikus.

Meskipun penelitian tersebut tidak menunjukkan hubungan langsung antara mengkonsumsi pakis dan perkembangan kanker pada manusia, sebuah penelitian menyatakan bahwa mengkonsumsi pakis bisa meningkatkan risiko terkena kanker kerongkongan dan kanker pencernaan.

Tapi, ternyata, ptaquiloside pada pakis larut dalam air. Jadi, kemungkinan besar, jika pakis direndam dalam air es sebelum dimasak, kandungan ptaquiloside-nya akan berkurang.

Mengkonsumsi pakis burung unta yang mentah atau setengah matang pun dapat menyebabkan berbagai masalah perut dalam waktu 12 jam, termasuk mual, muntah, dan kram. Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit pernah menangani dua kasus keracunan akibat mengkonsumsi pakis burung unta di berbagai restoran di New York, Amerika Serikat, dan Kanada.

Jadi, tidak peduli pakis jenis apa yang dikonsumsi, cuci, rendam, dan masak hingga matang pakis tersebut terlebih dahulu. Pakis dapat direbus selama 10 menit dan kemudian ditumis atau dikukus.

Dilansir dari The Sun Daily, menanggapi pesan berantai yang viral bahwa mengkonsumsi pakis dapat menyebabkan kanker, pakar tanaman Malaysia, Datuk Mohamed Abdul Majid, mengatakan bahwa pakis tidak hanya bisa dimakan, tapi juga bergizi, kaya antioksidan, serta memiliki dengan kandungan serat yang tinggi.

Mohamed mengatakan bahwa karsinogen yang dapat ditemukan di beberapa jenis pakis, seperti pakis bracken, tidak pernah teridentifikasi dalam jenis-jenis pakis yang populer untuk dikonsumsi, seperti paku pakis dan paku miding. "Peringatan itu benar-benar bohong. Lagipula, orang Malaysia tidak mengkonsumsi pakis bracken," katanya.

Menurut Mohamed, di Malaysia, pakis bracken atau pteridium aquilinum tumbuh di hutan yang pernah terbakar. Pakis jenis ini pun tidak menarik selera karena teksturnya sangat berserat dan keras.

Mohamed juga menjelaskan bahwa terdapat 1.165 spesies pakis, di mana 50 di antaranya digunakan sebagai makanan atau obat-obatan. Meskipun begitu, hanya terdapat lima jenis pakis yang dikonsumsi secara umum. Selain paku pakis dan paku miding, tiga lainnya adalah paku uban, paku tunjuk langit, dan paku piai, yang memiliki nilai gizi yang baik.

Situs resmi pemerintah Kanada memberikan penjelasan yang sama dengan yang dimuat oleh Detik.com. Menurut situs ini, pakis burung unta dapat menyebabkan keracunan jika tidak dimasak dengan benar. Sejumlah kasus akibat memakan pakis burung unta yang masih mentah atau setengah matang pernah dilaporkan di Kanada dan AS sejak 1994.

Pemerintah Kanada pun memberikan tips untuk mengkonsumsi pakis dengan aman. Pertama, bersihkan. Singkirkan sebanyak mungkin bagian kulit yang berwarna cokelat dari pakis. Lalu, cuci pakis dengan air dingin beberapa kali untuk menghilangkan kulit atau kotoran yang masih menempel.

Kedua, masak. Agar lunak, pakis dapat direbus selama 15 menit atau dikukus selama 10-12 menit. Jangan gunakan kembali air rebusan atau kukusan pakis. Pakis harus tetap direbus atau dikukus sebelum ditumis, digoreng, dibuat sup, dan sebagainya.

Jika ingin dibekukan, pakis juga harus dibersihkan seperti cara di atas. Lalu, rebus pakis selama dua menit, kemudian masukkan pakis ke dalam air dingin dan tiriskan. Kemas pakis dalam wadah. Simpan pakis dalam freezer maksimal satu tahun. Ikuti cara memasak pakis di atas sebelum disajikan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, informasi bahwa mengkonsumsi daun pakis bisa menyebabkan kanker merupakan informasi yang menyesatkan.

Menurut studi, pakis jenis cakar elang atau bracken memang mengandung ptaquiloside, suatu karsinogen. Namun, dua studi lainnya tidak menunjukkan hubungan langsung antara mengkonsumsi pakis dan perkembangan kanker pada manusia. Selain itu, ptaquiloside larut dalam air.

Pakis jenis lain, pakis burung unta, pun dapat menyebabkan mual, muntah, dan kram perut jika dimakan mentah atau setengah matang. Karena itu, apapun jenis pakisnya, cuci, rendam, dan masak hingga matang pakis tersebut sebelum dikonsumsi.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya