[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Serangan Drone yang Tewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani?

Kamis, 9 Januari 2020 09:04 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ini Video Serangan Drone yang Tewaskan Jenderal Iran Qassem Soleimani?

Video yang diklaim sebagai video serangan drone yang menewaskan Kepala Korps Quds Garda Revolusi Iran, Jenderal Qassem Soleimani, beredar di grup-grup percakapan WhatsApp. Video itu menyebar sejak Soleimani tewas dalam serangan udara Amerika Serikat di Bagdad, Irak, pada 3 Januari 2020 lalu.

Video berdurasi 1 menit 41 detik tersebut memperlihatkan sebuah layar bidik dengan berbagai indikator di bagian atas dan bawah. Tampak pula iring-iringan kendaraan yang dibombardir oleh serangan udara. Serangan itu juga menyasar beberapa orang yang keluar dari kendaraan dan berusaha menjauh dari lokasi serangan.

Gambar tangkapan layar video yang diklaim sebagai video serangan drone yang tewaskan jenderal Iran, Qassem Soleimani.

Benarkah video itu merupakan video serangan drone yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani?

PEMERIKSAAN FAKTA

Pertama-tama, Tim CekFakta Tempo mengambil gambar tangkapan layar thumbnail video tersebut. Kemudian, Tempo memasukkan gambar itu ke reverse image tools Google. Hasilnya, ditemukan sebuah video yang identik dengan video di atas yang diunggah oleh kanal YouTube Vijay Simarmata.

Video yang dipublikasikan pada 3 Oktober 2017 itu diberi judul "Russia Air Force Attack against the ISIS". Namun, dalam kolom komentar video yang telah ditonton lebih dari 25 ribu kali itu, seorang warganet berkata, "Hoax! Ini cuma video game. Nama game-nya AC-130 Gunship Simulator-Realism Demo."

Berbekal petunjuk tersebut, Tempo memasukkan kata kunci "AC-130 Gunship Simulator" dalam kolom pencarian YouTube. Hasilnya, ditemukan sebuah video yang identik dengan video di atas, namun dengan kualitas gambar yang lebih baik. Video itu diunggah oleh kanal Byte Conveyor Studios pada 25 Maret 2015.

Video itu diberi judul "AC-130 Gunship Simulator-Convoy Engagement". Dalam keterangannya, disebutkan bahwa video itu merupakan video tampilan sebuah game ponsel yang masih dalam tahap pengembangan, "AC-130 Gunship Simulator: Special Ops Squadron". Game ini adalah game simulasi atas operator pesawat perang AC-130 dalam misi yang seolah terjadi saat Perang Vietnam.

Gambar tangkapan layar unggahan video di kanal YouTube Byte Conveyor Studios yang berisi tampilan game AC-130 Gunship Simulator: Special Ops Squadron.

Dikutip dari situs resminya, Byte Conveyor Studios adalah perusahaan pengembangan video game indie yang berbasis di Buenos Aires, Argentina. Perusahaan ini didirikan pada 1 Juli 2014 oleh Diego Wasser. Di dunia maya, Wasser lebih dikenal sebagai "Razorwings18". Dia lahir pada 1980 dan telah menjadi pemain (game) sejak berusia 4 tahun.

Wasser mulai tertarik dengan pemrograman game pada usia 8 tahun. Lima tahun kemudian, Wasser berhasil menciptakan game pertamanya, game petualangan. Singkat cerita, pada 2003, Wasser dipercaya oleh Microsoft untuk memimpin promosi game Flight Simulator 2004 di Argentina. Sepuluh tahun kemudian, Wasser mendirikan Byte Conveyor Studios dan mengembangkan berbagai game.

Dilansir dari situs Turnbackhoax.id, video tampilan game "AC-130 Gunship Simulator: Special Ops Squadron" itu juga pernah diklaim sebagai rekaman serangan tentara Irak terhadap rombongan mobil militan ISIS yang hendak kabur dari Mosul, Irak, pada 23 Juni 2017. Klaim ini sudah pernah diperiksa faktanya pada 1 Juli 2017.

Siapa Qassem Soleimani?

Qassem Soleimani adalah tokoh berpengaruh dan dianggap sebagai pahlawan yang karismatik, berani, dan dicintai pasukan Iran. Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pernah memanggilnya "martir revolusi yang hidup." Tapi, Amerika Serikat memandang jenderal top Iran itu sebagai pembunuh yang kejam.

Menjadi salah satu orang paling kuat di Iran, Soleimani dianggap Barat sebagai tokoh yang sangat kontroversial. Dikutip dari CNN pada 3 Januari 2020, dia adalah kepala Pasukan Korps Quds Garda Revolusi Iran, sebuah unit elit yang menangani operasi Iran di luar negeri dan yang dianggap sebagai organisasi teroris asing oleh AS.

Setelah memulai karir militernya di garis depan dalam perang Iran-Irak pada awal 1980-an, Soleimani menjadi sosok yang sangat diperlukan di Iran, memainkan peran penting dalam menyebarkan pengaruhnya di Timur Tengah. "Dia telah berperang sepanjang hidupnya. Prajuritnya mencintainya. Dia orang yang pendiam, karismatik, jenius, dan operator taktis," kata Letnan Jenderal Mark Hertling, seorang analis keamanan, intelijen, dan terorisme.

Pentagon mengatakan bahwa Soleimani dan pasukannya bertanggung jawab atas kematian ratusan anggota keamanan AS dan koalisi serta melukai ribuan lainnya. Dikenal sebagai "komandan bayangan" Iran, Soleimani, yang telah memimpin Pasukan Quds sejak 1998, adalah dalang operasi militer Iran di Irak dan Suriah.

Para pejabat AS percaya bahwa, selama perang Irak, satuan-satuan Soleimani-lah yang memberikan bom-bom buatan khusus bagi pemberontak Irak yang dapat menembus kendaraan baja pasukan AS dan koalisi. Klaim ini telah dibantah oleh Iran.

Selama perang melawan ISIS, Soleimani juga sering dilaporkan berada di medan perang di Irak, menyelinap masuk dan keluar dari negara itu untuk membantu pasukan Syiah Irak memerangi gerilyawan garis keras.

Dilansir dari Sky News, Soleimani melapor dan mendapat perintah langsung dari Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran. Dia dipandang sebagai orang paling kuat kedua di negara ini. Pengamat mengatakan keberadaan Soleimani seperti layaknya Wakil Presiden AS.

Di Afganistan, ia dilaporkan menganjurkan kerja sama dengan pasukan AS untuk melawan Taliban, sebuah kelompok fundamentalis Sunni yang terus-menerus menjadi ancaman bagi Iran. Tapi aliansi tidak awet setelah Presiden George W. Bush menyebut Iran sebagai poros kejahatan, kemudian invasi AS ke Irak pada 2003 yang menempatkan lebih dari 100 ribu tentara AS di perbatasan Iran.

Dalam pernyataannya pada 3 Desember 2020 lalu, Departemen Pertahanan AS mengatakan bahwa Soleimani "secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang diplomat AS serta anggota layanan di Irak". Pentagon juga menyalahkan Soleimani atas serangan terhadap pangkalan koalisi di Irak beberapa bulan terakhir, termasuk serangan pada 27 Desember 2019 yang menyebabkan tewasnya seorang kontraktor AS dan personel Irak.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, klaim bahwa video di atas merupakan video serangan drone yang menewaskan Jenderal Qassem Soleimani, keliru. Video tersebut adalah video tampilan game ponsel yang masih dalam tahap pengembangan, "AC-130 Gunship Simulator: Special Ops Squadron". Game ini merupakan game simulasi atas operator pesawat perang AC-130 dalam misi yang seolah terjadi saat Perang Vietnam.

ZAINAL ISHAQ

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya