[Fakta atau Hoaks] Benarkah Munculnya Ikan Oarfish di Selayar adalah Pertanda Gempa dan Tsunami?

Selasa, 10 Desember 2019 17:22 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Munculnya Ikan Oarfish di Selayar adalah Pertanda Gempa dan Tsunami?

Narasi yang menyebut bahwa munculnya ikan oarfish di Selayar, Sulawesi Selatan, adalah pertanda gempa dan tsunami beredar di media sosial. Salah satu akun yang menyebarkan narasi itu adalah akun Instagram @otakkanann, yakni pada Senin, 9 Desember 2019.

Dalam unggahannya, akun itu membagikan beberapa foto dan video yang memperlihatkan sejumlah nelayan di Selayar yang menangkap ikan oarfish. Dalam foto utamanya, terdapat tulisan yang berbunyi:

"Nelayan Selayar tangkap oarfish, ikan pertanda gempa dan tsunami. Munculnya ikan itu membuat warganet resah. Pasalnya, kemunculan ikan tersebut sering dikait-kaitkan dengan terjadinya gempa."

Adapun keterangan yang ditulis akun @otakkanann, yang menyebut bahwa informasi itu berasal dari situs Rakyatku.com, adalah sebagai berikut:

Warga Kabupaten Kepulauan Selayar tiba-tiba dihebohkan dengan munculnya ikan berbentuk pipih dengan panjang lebih dari 3 meter. Ikan tersebut memiliki ragam warna. Hijau bintik hitam dan merah pada siripnya.

Pada foto yang beredar di sosial media, tampak tiga orang nelayan yang sedang berada di kapal memegang ikan tersebut. Ikan itu disebut hasil pancingan seorang pria bernama Andi Saputra. Itu terungkap setelah munculnya postingan facebook bernama Irma Yanti Irma yang menandai akun Fecebook pemancingnya dengan catatan "Hasil Pancingnx Andi Saputra."

Munculnya ikan itu membuat warganet resah. Pasalnya, kemunculan ikan tersebut sering dikait-kaitkan dengan akan terjadinya gempa.

Gambar tangkapan layar unggahan akun @otakkanann di Instagram terkait ikan oarfish yang muncul di Selayar, Sulawesi Selatan.

Benarkah munculnya ikan oarfish di Selayar, Sulawesi Selatan, adalah pertanda gempa dan tsunami?

PEMERIKSAAN FAKTA

Berdasarkan arsip pemberitaan Tempo, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membantah kabar bahwa munculnya ikan oarfish atau ikan laut dalam di Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, merupakan pertanda akan terjadinya gempa dan tsunami.

"Hasil kajian statistik terbaru mengungkap bahwa jenis ikan laut dalam seperti oarfish yang muncul di perairan dangkal tidak berarti bahwa gempa akan segera terjadi," kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya pada Senin, 10 Desember 2019.

Menurut Daryono, sejak dulu, masyarakat Jepang mengenal sebuah legenda bahwa ikan oarfish adalah pembawa pesan dari dasar laut. Mereka mengaitkan perilaku binatang yang tidak lazim itu dengan pertanda akan terjadinya gempa yang kuat. "Tapi, tanpa adanya penelitian ilmiah, tidak akan pernah diketahui apakah cerita rakyat tersebut fakta atau hanya legenda saja," kata Daryono.

Majalah ilmiah bergengsi, Bulletin of the Seismological Society of America (BSSA), pernah mempublikasikan kajian mengenai hubungan antara kemunculan ikan laut dalam dan gempa. Hasil kajian itu ternyata bertentangan dengan cerita rakyat yang berkembang di Jepang.

Dalam kajian itu, para peneliti hanya menemukan satu peristiwa yang dapat dikorelasikan secara masuk akal dari 336 kemunculan ikan dan 221 peristiwa gempa bumi. Oleh karena itu, kemunculan ikan oarfish bukanlah pertanda akan terjadinya gempa besar.

Menurut teori oseanografi, terangkatnya biota laut dalam ke permukaan air hingga terbawa ke pesisir berkaitan dengan fenomena upwelling. Upwelling adalah sebuah fenomena di mana air laut yang lebih dingin dan bermassa jenis lebih besar bergerak dari dasar laut ke permukaan.

Sejumlah penelitian menyebutkan, jika hanya ada satu atau dua ikan oarfish yang mengambang di permukaan laut, kemungkinan karena ikan tersebut sakit atau sekarat. Selain itu, ada faktor lain yang memicu ikan muncul ke permukaan laut, seperti mengikuti arus laut.

Gambar tangkapan layar berita di Tempo.co soal ikan oarfish yang muncul di Selayar, Sulawesi Selatan.

Dikutip dari situs Detik.com, Profesor Iktiologi Pengkajian Ikan Universitas Kagoshima, Hiroyuki Motomura, mengatakan bahwa tidak ada hubungannya kemunculan ikan oarfish dengan bencana alam. Sebab, ada beberapa faktor yang memicu ikan muncul ke permukaan laut, seperti mengikuti arus laut.

Ikan oarfish merupakan ikan yang tinggal di dasar laut sehingga jarang muncul ke permukaan. Ikan ini terdiri dari tiga jenis, yakni Regaleus Glesne Ascanius (King of herrings, 1772), Agrostichthys Parkeri (Benham, 1904), dan Regalecus Russelli (Cuvier, 1816).

Berdasakan jenisnya, ikan oarfish hidup di berbagai macam lokasi. Tipe Regaleus Glesne Ascanius hidup di hampir semua lautan. Tipe Agrostichthys Parkeri hidup di perairan selatan, seperti New Zealand. Sementara tipe Regalecus Russelli hidup di perairan Indo-Pasifik.

Peneliti taksonomi ikan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Teguh Peristiwady, mengatakan bahwa ikan oarfish pada dasarnya tidak berbahaya. Bahkan, daging ikan oarfish dapat dikonsumsi.

Isu soal ikan bisa menjadi pertanda gempa dan tsunami

Isu yang mengaitkan antara naiknya ikan ke permukaan laut dan terjadinya gempa serta tsunami sudah lama terjadi. Sebelum di Selayar, Sulawesi Selatan, naiknya ikan di Pelabuhan Muncar, Banyuwangi, Jawa Timur pada 28 Juli 2019 serta di Pantai Batu Bolong, Badung, Bali, pada 3 Juli dan 15 Juli 2019 juga dikaitkan dengan gempa.

Jauh sebelum ini, Jepang memiliki legenda yang mengaitkan munculnya ikan oarfish atau ikan laut dalam sebagai tanda gempa besar akan melanda negara itu. Dalam mitologi Jepang, ikan oarfish yang disebut dengan Ryugu no Tsukai atau “Utusan dari Istana Dewa Laut” dipercaya menjadi peringatan terjadinya gempa dan tsunami apabila ikan itu terdampar di pantai Jepang.

Ikan oarfish menarik perhatian setelah gempa dan tsunami di Tohoku, Jepang, pada Maret 2011, yang menewaskan lebih dari 19 ribu orang serta menyebabkan kehancuran pada tiga reaktor nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Diaiichi. Sebelumnya, ada selusin ikan oarfish yang jarang terlihat yang terdampar di Jepang pada akhir 2009 dan 2010.

Dalam penelitiannya yang dimuat di Buletin Masyarakat Seismologis Amerika, seismolog Yoshiaki Orihara bersama rekan-rekannya menemukan 336 penampakan ikan oarfish di Jepang antara November 1928 dan Maret 2011.

Namun, tidak satu pun dari ikan oarfish itu muncul dalam 30 hari setelah gempa dengan kekuatan 7,0 atau lebih besar. Orihara dan rekan-rekannya juga tidak dapat menemukan laporan tentang gempa berkekuatan 6,0 atau lebih besar yang terjadi dalam waktu 10 hari dari pengamatan ikan laut dalam.

Para peneliti Jepang, yang meneliti laporan surat kabar, catatan akuarium, dan makalah akademis sejak 1928, tidak menemukan korelasi antara penampakan ikan oarfish dan gempa besar. "Tidak ada seseorang yang bisa mengkonfirmasi hubungan antara dua fenomena itu," kata Orihara. 

Namun, studi lain pada 2018 menemukan korelasi antara penampakan ikan oarfish dan El Nino ketika air di Samudera Pasifik tengah dan timur ekuatorial lebih hangat dari biasanya. El Nino mempengaruhi kedalaman laut yang berbeda dari permukaan sehingga rumah pelagis ikan oarfish berubah menjadi lebih dingin. Pada saat yang sama, air di permukaan memanas.

Beberapa ilmuwan menduga, kedalaman yang lebih dingin mungkin mendorong ikan oarfish berenang ke perairan dangkal untuk mengejar plankton. Hingga saat ini, datangnya gempa dan tsunami belum bisa diprediksi, baik oleh teknologi maupun hewan.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, narasi bahwa munculnya ikan oarfish di Selayar adalah pertanda gempa dan tsunami merupakan narasi yang keliru. Menurut ahli, kemunculan ikan oarfish tidak berhubungan dengan bencana alam, termasuk gempa dan tsunami. Biasanya, ikan oarfish atau ikan laut dalam muncul ke permukaan air karena terbawa arus atau sakit.

ANGELINA ANJAR SAWITRI

Catatan Koreksi: Artikel ini diubah pada 10 Desember 2019 pukul 18.00 karena terdapat penambahan di bagian pemeriksaan fakta bagian "isu soal ikan bisa menjadi pertanda gempa dan tsunami". Redaksi mohon maaf.

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya