[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ada Ikan Tercemar Logam Berat yang Sebabkan Penyakit Kulit?

Rabu, 4 Desember 2019 13:45 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ada Ikan Tercemar Logam Berat yang Sebabkan Penyakit Kulit?

Informasi bahwa ada ikan beracun yang tercemar logam berat beredar di media sosial. Menurut sejumlah akun di Facebook yang mengunggah informasi itu, jika ikan tersebut dikonsumsi, orang yang memakannya akan terserang penyakit kulit berupa peradangan.

Ada beberapa foto yang menyertai informasi itu, yakni foto ikan yang mengandung butiran mirip telur serta foto pria yang mengalami penyakit kulit. Pria tersebut diklaim terkena peradangan hingga kulitnya tampak melepuh karena keracunan akibat mengkonsumsi ikan tersebut.

Gambar tangkapan layar foto ikan yang disebut tercemar logam berat yang diunggah akun Ghie Fauzy Yamlean di Facebook.

Terdapat pula gambar tangkapan layar sebuah pesan di aplikasi pesan WhatsApp yang melengkapi informasi itu. Pesan tersebut menyatakan bahwa butiran di perut ikan dalam foto di atas sebenarnya bukan telur. Butiran itu merupakan racun pada ikan yang tercemar logam berat.

Salah satu akun Facebook yang membagikan informasi itu, yakni pada Senin, 2 Desember 2019, adalah akun Ghie Fauzy Yamlean. Selain mengunggah foto-foto serta gambar tangkapan layar tadi, akun Ghie menuliskan sebuah narasi.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Ghie Fauzy Yamlean di Facebook.

Berikut ini narasi lengkap akun Ghie: "Hati hati dengan keadaan ikan seperti ini. Tolong diperhatikan bagi ibu-ibu kalau beli ikan dengan keadaan seperti yang ada di gambar."

Artikel ini akan memeriksa dua hal:
- Benarkah ada ikan yang tercemar logam berat yang menyebabkan orang yang mengkonsuminya terkena penyakit kulit?
- Benarkah pria dalam foto di atas mengalami penyakit kulit karena mengkonsumsi ikan yang tercemar logam berat?

PEMERIKSAAN FAKTA

Foto Ikan yang Tercemar Logam Berat

Dengan reverse image tools Google, Tim CekFakta Tempo menemukan foto ikan yang disebut tercemar logam berat di atas pernah viral pada November 2017. Saat itu, foto ikan tersebut digunakan untuk menyebarkan klaim bahwa telah ditemukan kandungan logam berat beracun mirip telur pada ikan sarden di Indonesia.

Klaim itu telah dibantah oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Melalui akun Twitter resminya, @kkpgoid, kementerian menjelaskan bahwa jenis ikan sarden dalam foto tersebut bukan berasal dari perairan Indonesia.

Ikan sarden itu berasal dari famili Clupeidae yang secara morfologi tidak mirip dengan ikan siro (Amblygaster sirm) atau ikan lemuru (Sardinella lemuru) yang menjadi bahan baku ikan sarden kalengan atau ikan asin di Indonesia.

Sementara butiran yang mirip telur dalam perut ikan tersebut, yang diklaim sebagai racun, adalah parasit Glugea sardinellensis, sejenis protozoa. Parasit Glugea mampu membuat sel-sel di sekelilingnya menyerupai bola untuk membentuk perisai. Sel berbentuk telur ini bisa tumbuh hingga ukuran 1-18 milimeter yang disebut dengan xenoma.

KKP pun memastikan bahwa butiran yang mirip telur tersebut bukan muncul akibat kandungan logam berat. Menurut KKP, parasit Glugea pun tidak menginfeksi manusia dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi jika ikan yang ditempeli oleh parasit itu terlebih dahulu dibersihkan, dicuci, dan direbus dengan benar. Sebenarnya, parasit Glugea bukan penyakit aneh, langka, atau berbahaya sehingga tidak perlu dihindari.

Gambar tangkapan layar unggahan di akun Twitter resmi Kementerian Kelautan dan Perikatan tentang ikan yang disebut tercemar logam berat.

Foto Pria dengan Penyakit Kulit

Juga dengan reverse image tools Google, Tim CekFakta Tempo menemukan bahwa tiga foto yang memperlihatkan pria dengan penyakit kulit kronis di atas pernah viral di WhatsApp, Facebook, dan Twitter pada medio 2018.

Pria dalam foto-foto itu diklaim terserang ulat bulu laut di Pantai Port Dickson, Thailand, pada 18 Juli 2018. Salah satu akun yang pernah membagikan informasi itu adalah akun Cicah Cicah, seorang warganet yang bermukim di Johor Baru, Malaysia.

Akun Cicah membagikan foto-foto itu dengan narasi: "Hati-hati gi (pergi ke) pantai, ulat bulu laut yg menyerang sisir pantai Thailand mula terdapat di pantai PD (Port Dickson)."

Viralnya informasi itu sempat mempengaruhi jumlah kunjungan wisatawan ke Pantai Port Dickson. Namun, seperti dikutip dari berita di situs media Malaysia, Bharian.com, yang dimuat pada 21 Juli 2018, informasi itu dibantah oleh departemen perikanan setempat yang mengkonfirmasi bahwa tidak ada kasus serangan ulat bulu laut yang menyebabkan seorang pasien mengalami peradangan kulit.

Direktur Rumah Sakit Port Dickson, Muhammad Zamri Harun, mengatakan bahwa rumah sakitnya belum menerima kasus penyakit kulit semacam itu atau pun kasus terkait serangan ulat bulu laut di Pantai Port Dickson. Ia menilai informasi itu palsu. "Kami berharap mereka yang menyebarkan berita palsu itu segera meralatnya karena memberikan persepsi yang buruk terhadap Port Dickson," katanya.

Meskipun begitu, menurut Zamri, Rumah Sakit Port Dickson akan terus memantau laporan terkait kasus penyakit kulit semacam itu. "Ada juga unggahan di Facebook dari teman-teman korban yang mengklaim bahwa korban sempat menjalani tes darah. Namun, korban tidak dirawat di rumah sakit walaupun penyakit kulit itu telah dideritanya selama empat bulan," katanya.

Hal ini menunjukkan bahwa penyakit kulit yang dialami oleh pria dalam foto tersebut tidak berkaitan dengan ikan yang disebut tercemar logam berat. Foto ikan dan foto pria di atas pernah digunakan dalam dua klaim yang berbeda.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, informasi bahwa ikan dalam foto di atas tercemar logam berat, sehingga menyebabkan orang yang mengkonsumsinya terkena penyakit kulit, merupakan klaim yang keliru. Butiran yang mirip telur dalam perut ikan tersebut adalah parasit Glugea sardinellensis. Parasit ini tidak menginfeksi manusia dan tidak berbahaya untuk dikonsumsi jika ikan yang ditempeli oleh parasit itu dibersihkan, dicuci, dan direbus dengan benar.

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya