[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ayah dan Kakek Jokowi Pernah Menjadi Ketua PKI Boyolali?

Kamis, 14 November 2019 12:50 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Ayah dan Kakek Jokowi Pernah Menjadi Ketua PKI Boyolali?

Unggahan dengan narasi bahwa kakek dan ayah Presiden Joko Widodo atau Jokowi pernah menjadi ketua Partai Komunis Indonesia (PKI) di Boyolali, Jawa Tengah, beredar di media sosial. Unggahan itu berisi surat yang ditujukan kepada Jokowi, yakni surat tantangan ke-7 dari seseorang yang bernama Annisa Madaniyah.

Salah satu akun yang membagikan surat tantangan itu adalah akun Muzakki di Facebook, yakni pada Rabu, 13 November 2019. Surat itu diawali dengan tulisan yang berbunyi, "Anda menantang seluruh rakyatmu dengan imbalan uang 1 milyar jika mereka berhasil membuktikan bahwa Anda seorang PKI."

Si penulis mengatakan bahwa nama ayah kandung Jokowi adalah Oey Hong Liong dan nama kakek kandung Jokowi adalah Oey Seng Yoon. "Kakekmu dan ayahmu Ketua PKI, ingat Boyolali, ingat itu," ujar si penulis.

Lewat surat itu, si penulis pun ingin menantang balik Jokowi. Ia menyatakan akan memberi Jokowi uang hingga Rp 15 miliar jika mau mengakui nama asli kakek dan ayah kandungnya serta membuktikan bahwa ibu Jokowi saat ini adalah benar ibu kandungnya.

Dalam surat itu pun, si penulis mengklaim bahwa Bambang Tri, penulis buku “Jokowi Undercover” yang fotonya juga diunggah akun Muzakki, adalah muridnya.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Muzakki di Facebook.

Dalam artikel ini, Tim CekFakta Tempo akan memeriksa dua hal:

- Benarkah ayah kandung Jokowi bernama Oey Hong Liong dan kakek kandung Jokowi bernama Oey Seng Yoon yang mana keduanya pernah menjadi Ketua PKI?
- Siapakah Annisa Madaniyah?

PEMERIKSAAN FAKTA

Dikutip dari situs Detik, nama ayah kandung Jokowi adalah Wijiatno Notomiharjo. Menurut buku "Saya Sujiatmi, Ibunda Jokowi, Kisah Perempuan Pengajar Kesederhanaan", ia tinggal bersama kakeknya di Kampung Klelesan, Desa Giriroto, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, semasa melajang.

Sementara itu, menurut arsip pemberitaan Tempo, ayah Notomiharjo atau kakek kandung Jokowi bernama Lamidi Wiryo Miharjo. Dikutip dari Detik dan Tempo, Lamidi merupakan Kepala Desa Kragan, Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah. Ia menjabat sejak 1950 hingga 1980-an.

Adapun nama ibu kandung Jokowi adalah Sujiatmi. Dikutip dari laman Tirto, Sujiatmi lahir di desa tempat Notomiharjo tinggal bersama kakeknya, yakni Desa Giriroto. Menurut buku "Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana", Sujiatmi menikah dengan Notomiharjo pada 1959.

Setelah menikah, Notomiharjo dan Sujiatmi berbisnis kayu di daerah Srambatan, Surakarta. Bisnis kayu ini awalnya dilakoni Notomiharjo bersama ayah Sujiatmi, Wirorejo, yang lebih dulu menekuni bisnis tersebut. Pada 1962, Notomiharjo dan Sujiatmi memulai bisnis kayu sendiri setelah pindah ke Kampung Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan, Banjarsari, Surakarta.

Saat tragedi 1965, tetangga-tetangga Notomiharjo di kampung sebelah, Kampung Cinderejo, diciduk tentara karena terkait dengan PKI. Namun, keluarga Notomiharjo tidak ikut diciduk karena tidak ada bukti keterlibatan dengan PKI maupun organisasi sayapnya. Pada 1970-an, keluarga Notomiharjo pindah ke Jalan Ahmad Yani, Kelurahan Manahan, Banjarsari, Surakarta, karena terkena penggusuran untuk pembangunan terminal truk dan perluasan Pasar Pring.

Ketika reformasi 1998, Notomiharjo mulai tertarik ikut partai politik. Ia sempat menjadi anggota satuan tugas Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Menurut Sujiatmi dalam bukunya, Notomiharjo juga pernah menggantikan ketua ranting sebuah partai nasionalis di kampungnya. Namun, hanya sekitar dua tahun, karena Notomiharjo meninggal pada 2000.

Gambar tangkapan layar foto yang dimuat situs Detik dalam berita yang berjudul "Langgam Hidup Ayah Jokowi". Keterangan fotonya berbunyi: "Wijitano Notomiharjo (kedua dari kanan) saat pernikahan anak kedua, IIt Sriyantini. Foto: Gresnia Arela F/detikX/repro".

Menurut salah satu penulis buku "Jokowi dari Bantaran Kalianyar ke Istana", Wawan Mas'udi, sejarah asal-usul Jokowi dilacaknya mulai dari kakek-nenek serta kedua orangtuanya. "Kami mendatangi kampung-kampung tempat asal usul keluarganya dan mengumpulkan beberapa sumber," ujarnya.

Wawan pun mengatakan, fakta bahwa kakek Jokowi dari ayahnya, Lamidi Wiryo Miharjo, adalah Kepala Desa Kragan telah membantah fitnah bahwa Jokowi merupakan keturunan dari simpatisan PKI. "Orde baru tidak mungkin membiarkan orang yang tersangkut PKI jadi kepada desa," kata dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada itu.

Bahkan, Lamidi juga dipercaya oleh keluarga Presiden RI yang kedua, Soeharto, untuk menjadi juru kunci sebuah makam yang berada di desa itu. "Makam RA Tisnaningsih yang merupakan leluhur dari Hartinah Soeharto," tuturnya. Sementara kakek Jokowi dari ibunya, Wirorejo, merupakan seorang pedagang bambu dan kayu.

Terkait penulis buku "Jokowi Undercover", Bambang Tri Mulyono, kepolisian telah menangkapnya di Kecamatan Tunjungan, Blora, Jawa Tengah, pada 30 Desember 2016. Bambang ditangkap atas dugaan ujaran kebencian yang ditulis dalam bukunya.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Rikwanto, mengatakan tersangka memasarkan bukunya lewat media sosial. Selain itu, Bambang Tri diketahui mencetak sendiri buku itu. "Dia pernah menawarkan ke penerbit, tapi ditolak," kata Rikwanto.

Siapakah Annisa Madaniyah?

Narasi bahwa Presiden Jokowi berasal dari keluarga PKI pernah beredar pada 2014, 2017, dan 2019. Surat tantangan dari seseorang yang bernama Annisa Madaniyah itu pernah menyebar ke sejumlah grup WhatsApp pada Juni 2017, salah satunya oleh Ketua Tim Advokasi Pembela Ulama dan Aktivis, Eggy Sudjana.

Akun Facebook yang bernama Annisa Madaniyah juga pernah membagikan informasi palsu bahwa Sujiatmi bukan ibu kandung Jokowi. Dikutip dari Detik, dalam akta kelahiran Jokowi, tertulis bahwa Jokowi merupakan anak dari Notomiharjo dan Sujiatmi. Saat Jokowi lahir, Notomiharjo dan Sujiatmi masih tinggal di daerah Srambatan, Surakarta.

Menjelang Pemilihan Presiden 2019, halaman yang bernama Annisa Madaniyah dihapus oleh Facebook. Menurut Digital Forensics Research (DFR) Lab, ada tiga halaman yang menggunakan identitas palsu atas nama Annisa Madaniyah. Sebelumnya, salah satu halaman tersebut pernah menyebarkan hoaks soal tambang emas Maluku yang akan diserahkan ke Cina serta menghina ibu Jokowi.

DFR Lab juga menemukan bahwa akun-akun yang mengelola tiga halaman di atas mengelola dua grup bernama Annisa Madaniyah Vs Jokowi Dodo dan Annisa Madaniyah. Grup-grup serta halaman-halaman itu sering mengunggah konten yang sama dalam jangka waktu sangat dekat. "Itu menunjukkan adanya kordinasi dalam jaringan tersebut," tulis DFR Lab dalam laporannya.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta di atas, ayah dan kakek Presiden Jokowi bukan Oey Hong Liong dan Oey Seng Yoon. Ayah dan kakek Jokowi pun tidak pernah menjadi Ketua PKI di Boyolali. Sementara Annisa Madaniyah yang disebut sebagai penulis surat tantangan di atas merupakan nama yang dipakai oleh akun-akun palsu yang pernah dihapus oleh Facebook. Dengan demikian, narasi dalam unggahan akun Muzakki adalah narasi yang keliru.

IKA NINGTYAS