[Fakta atau Hoaks] Benarkah Audrey Yu Bertemu Jokowi dan Ditawari Bekerja di BPPT?

Selasa, 9 Juli 2019 11:42 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Audrey Yu Bertemu Jokowi dan Ditawari Bekerja di BPPT?

Unggahan yang mengulas Audrey Yu, perempuan jenius yang disebut-sebut ditawari Jokowi bekerja di BPPT, beredar luas di media sosial.

Di Facebook, informasi itu salah satunya diunggah oleh akun Eusta Supono pada 7 Juli 2019. Ia mengunggah foto yang diklaim sebagai Audrey Yu beserta narasi panjang.

Unggahan di Facebook yang memberikan narasi panjang bahwa Audrey Yu bertemu Jokowi di Jepang dan kini bekerja untuk BPPT.

Audrey Yu Jian Hui disebut berasal dari Surabaya yang sejak kecil berhasil menyelesaikan pendidikannya lebih cepat. Bahkan disebut mampu masuk Universitas Indonesia pada usia 13 tahun.

Dia mengambil kuliah S1 dan S2 di Virginia, Amerika Serikat, hanya dalam waktu 3 tahun. Disebut pula bahwa dia ditolak masuk TNI karena usianya belum genap 17 tahun. “Dia aktif menulis buku tentang Indinesia dan jd best seller di seluruh Dunia. Bukunya yg terkenal adlh Indonesia Tanah Airku, Aku Cinta Indonesiaku,” tulis akun Eusta Supono.

Setelah lulus S-3 di Paris, Eusta Supono menyebut bahwa Audrey bekerja di Badan Antariksa Amerika (NASA) dengan gaji Rp 200 juta per bulan.

“Setelah ketemu Jokowi di KTT G-20 di Jepang kemarin, ditawari masuk ke BPPT. Dan dengan antusias, dia terima tanpa mikir berapa gajinya. Dia hanya bilang Indonesia Love You. Aku datang untuk mengabdi padamu.” Demikian narasi yang ditulis Eusta Supono. 

Hingga 9 Juli 2019, unggahan tersebut telah dibagikan 1,5 ribu kali.

Benarkah bahwa Audrey Yu bertemu Jokowi di KTT G-20 di Jepang dan mendapat tawaran bekerja di BPPT?

 

PEMERIKSAAN FAKTA

 

Tidak bertemu Jokowi dan tidak bekerja di NASA

Salah satu penerbit ternama Indonesia, Bentang Pustaka, membuat klarifikasi atas beredarnya informasi mengenai sosok Audrey Yu. Bentang Pustaka mengenal baik sosok perempuan belia itu karena pada 2014 dan 2015, Audrey menerbitkan dua bukunya bersama Bentang Pustaka yang berjudul “Mellow Yellow Drama” dan “Mencari Sila Kelima”.

Bentang Pustaka mendapatkan klarifikasi langsung dari ayah Audrey, Budi Loekito, dan mengunggah percapakan WhatsApp itu ke akun twitter @bentangpustaka. Dalam percakapan itu, Budi Loekito menyatakan bahwa Audrey tidak pernah bertemu Jokowi dan tidak pernah bekerja di NASA.

Saat ini, Audrey masih S1 dan sedang mengambil S2/S3 di Amerika Serikat. “Semoga penjelasan di atas bisa menjernihkan berita yang beredar saat ini,” tulis Budi Loekito.

Bentang Pustaka menjelaskan, berdasarkan keterangan Budi Loekito itu jelas bahwa informasi yang menyebutkan Audrey bertemu Jokowi dan bekerja di NASA adalah salah. Meski begitu, Audrey memang sosok jenius.

“Meskipun partisipasi Audrey di NASA dan tawaran pekerjaan di BPPT itu hoaks, tetapi kejeniusannya merupakan sebuah kebenaran,” tulis Bentang dalam situsnya. 

 

Audrey yang jenius

Bentang menulis, sosok perempuan keturunan Tionghoa itu dinobatkan sebagai satu dari 72 duta prestasi Indonesia. Audrey Yu Jia Hui, merupakan perempuan jenius yang memperoleh penghargaan dalam gelaran Festival Prestasi Indonesia. Acara yang digelar oleh Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP- Pancasila) ini berlangsung pada 21 dan 22 Agustus 2017 di Jakarta Convention Center (JCC). Festival Prestasi Indonesia digelar dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke-72.

Terpilihnya nama-nama 72 ikon prestasi Indonesia ini didasarkan pada raihan penghargaan nasional maupun internasional. Tim seleksi yang diwakili Nia Sjarifuddin menuturkan bahwa kriteria lainnya merujuk pada seberapa besar kontribusi dan pengaruh seorang ikon prestasi terhadap masyarakat, lingkungan maupun lingkup keprofesian di sekitarnya.

Dipilihnya sosok Audrey Yu Jia Hui bukanlah tanpa alasan. Audrey merupakan anak jenius yang mampu menyelesaikan jenjang SMP selama 1 tahun, SMA ditempuh 11 bulan dan menamatkan S1 di The College of Willliam and Mary, Virginia (AS) saat usianya yang masih menginjak 16 tahun. Akan tetapi, bakat yang luar biasa ini ternyata tidak cukup mampu membuat kehidupannya berjalan mulus. Label sebagai keturunan Tionghoa tetap menjadi momok yang cukup meresahkan bagi Audrey.

Keresahannya ini pun telah ia bagi melalui buku Yellow Mellow Drama (2014) yang berisi memorabilia Audrey. Ia berbagi cerita mengenai dirinya yang patah hati saat ia dinilai tidak pantas menjadi orang Indonesia seutuhnya. Darah Tionghoa yang mengalir dalam dirinya, membuat Audrey dipandang berbeda. Berbagai prestasi yang ia capai belum mampu membuat Audrey dihargai di negeri sendiri.

Pada 2016, Audrey kemudian menulis buku Mencari Sila Kelima sebagai bentuk surat cinta kepada Indonesia. Di buku ini, Audrey merinci dan memaparkan secara detail tentang nilai-nilai Pancasila yang menjadi modal dasar pemersatu bangsa.

 

Tersebar karena media online

Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, melakukan analisa penyebaran disinformasi mengenai Audrey Yu di media sosial. Dalam akun Facebooknya, Ismail Fahmi menjelaskan, bahwa awal mula percakapan tentang Audrey Yu ini dibuat oleh netizen dengan akun @canzone pada 7 Juli 2019 pukul 09:54 WIB.

Twit akun @canzone, tersebut sebenarnya hanya mem-forward tulisan dari Tribun Jogja tertanggal 10 November 2018, dengan judul: Mengenal Audrey Yu, Gadis Jenius yang Pernah Ditolak Semua Universitas di Indonesia. Twit tersebut tidak banyak mendapat respons dan sudah dihapus.
Tak lama, muncul twit lanjutan dari netizen lain dengan akun @nithasist yang kemudian mendapat response paling banyak dan viral pada pukul 10:24 WIB yang mendapat 19.4k retweet.

Informasi mengenai Audrey Yu kembali menjadi viral setelah ramai-ramai ditulis oleh sejumlah media online.

“Kembali ke pertanyaan awal, kenapa hoaks Audrey mudah viral? Dari analisis Drone Emprit di atas tampak adanya peran besar dari media online dalam membangun opini,” tulis Ismail Fahmi. 

 

KESIMPULAN

Dari pemeriksaan fakta di atas, narasi tentang Audrey Yu yang bertemu dengan Jokowi dalam KTT G-20 dan ditawari bekerja di BPPT adalah keliru.

 

IKA NINGTYAS

Anda punya data/informasi berbeda, kritik atau masukan untuk artikel cekfakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id