Keliru, Narasi 450 Ribu Tentara Australia Tewas Terkena Ranjau TNI

Kamis, 5 Januari 2023 20:14 WIB

Keliru, Narasi 450 Ribu Tentara Australia Tewas Terkena Ranjau TNI

Sebuah akun Facebook membagikan video dengan klaim 450.000 tentara Australia tewas bergelimpangan terkena ranjau TNI. Di dalam video terlihat puluhan tentara sedang berjalan sambil membawa senjata dan menembakkan amunisi melalui tank-tank berlapis baja.

Narator video mengatakan “....kawan-kawan kami berhasil menerobos pertahanan Indonesia, namun yang terjadi di luar dugaan kami. Ternyata pasukan Indonesia sudah menanam ranjau di beberapa tempat di sana. Akibatnya, lebih dari 450.000 ribu kawan kami mati di Pulau Pasir terkena jebakan dari pasukan TNI hingga tak tersisa, juga 150 unit artileri kami dan peralatan militer dihancurkan.”

Sejak diunggah pada 2 Januari 2023, video tersebut disukai 5,6 ribuan pengguna Facebook, 1,2 ribuan komentar dan 244 ribu kali tayang. Benarkah 450 ribu tentara Australia tewas terkena ranjau TNI?

PEMERIKSAAN FAKTA

Hasil verifikasi Tempo menunjukkan tidak ada konflik militer antara Indonesia dan Australia terkait Pulau Pasir. Demikian juga tidak ada tentara Australia yang tewas apalagi dengan jumlah fantastis 450 ribu orang.

Video yang diunggah tersebut tidak ada kaitannya dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasang ranjau dan Australia menerobos pertahanan Indonesia di Pulau Pasir. Video tersebut berisi rekaman latihan militer sejumlah negara di lokasi berbeda-beda seperti Australia-Amerika, dan Amerika-Rumania.

Untuk memverifikasi kebenaran klaim di atas, Tim Cek Fakta Tempo memfragmentasi video itu menjadi gambar pakai Keyframe dan menelusurinya menggunakan Google Reserve Image dan Yandex Image Search.

Video 1

Fragmen 1

Potongan video detik ke-26 ini menampilkan pria berseragam militer sedang memberikan keterangan, sebenarnya adalah Timothy William Barrett, yang menjabat sebagai Chief of Navy. Saat itu, dia memimpin militer Australia mengikuti latihan dua tahunan Talisman Sabre bersama Amerika Serikat di Australia pada 23 Juni hingga 25 Juli 2017.

Video lengkapnya ditayangkan di kanal YouTube The U.S. Army berjudul "Exercise Talisman Saber Amphibious Assault", yang membahas latihan bersama sekutunya, Amerika Serikat. Tidak itu saja, dia juga bercerita kemampuan pasukannya yang terdiri dari Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara dalam bekerja sama mempraktikkan semua latihan dengan baik.

Jadi, potongan video Barrett yang diunggah bukan tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI) menanam ranjau di beberapa tempat mengakibatkan 450.000 ribu pasukan Australia mati di Pulau Pasir. Melainkan video aslinya soal latihan militer Australia dan Amerika Serikat pada 2017.

Video 2

Fragmen 2

Pada menit ke-3:04, puluhan tentara tampak berjalan di tengah alang-alang sambil membidik sesuatu menggunakan senjatanya. Ini merupakan angkatan laut U.S. dengan Black Sea Rotational Force melakukan serangan peleton selama Latihan Platinum Lynx di Kamp Pelatihan Babadag, Rumania.

Video ini sebelumnya sudah tayang di akun YouTube AiirSource Military berjudul Platoon Attack – U.S. Marines Black Sea Rotational Force pada 29 Oktober 2016. Di sana dijelaskan, latihan Platinum Lynx 16.5 memungkinkan Marinir dari unit di seluruh dunia untuk berlatih bersama negara-negara mitra di wilayah Laut Hitam, Balkan, dan Kaukasus untuk meningkatkan kemampuan militer profesional kolektif dan meningkatkan stabilitas regional.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, narasi 450 ribu tentara Australia tewas terkena ranjau TNI, adalah keliru.

Video yang diunggah tersebut tidak ada hubungannya dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) memasang ranjau, dan Australia menerobos pertahanan Indonesia. Tetapi, video tersebut sebenarnya tentang beberapa negara yang menggelar latihan militer di lokasi berbeda-beda, seperti Australia-Amerika, dan Amerika-Rumania.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id