Menyesatkan, Narasi yang Mengklaim Flu Babi atau Swine Flu 1976 Sebagai Hoaks

Senin, 2 Januari 2023 19:50 WIB

Menyesatkan, Narasi yang Mengklaim Flu Babi atau Swine Flu 1976 Sebagai Hoaks

Sebuah video berjudul Swine Flu Hoax from 1976! dibagikan oleh sebuah akun Twitter dengan narasi Flu Babi atau Swine Flu 1976 sebagai hoaks.

Pada video berdurasi 58 detik itu, terlihat mantan Direktur Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), David Judson Sencer, sedang mengikuti wawancara. Sencer menerangkan tentang Swine Flu yang terjadi tahun 1976 saat dia diwawancarai. Berikut potongan percakapannya:

Wallace: Anda mulai memberikan vaksin flu kepada orang-orang Amerika pada Oktober '76?

Dr Sencer: 1 Oktober.

Wallace: Pada saat itu, berapa banyak kasus flu babi yang dilaporkan di seluruh dunia?

Dr Spencer: Ada beberapa yang dilaporkan, tapi tidak ada yang dikonfirmasi. Ada kasus di Australia yang dilaporkan oleh pers, oleh media berita.  

Wallace: Tidak ada yang dikonfirmasi? Apakah Anda pernah menemukan wabah flu babi lainnya di mana pun di dunia?

Dr Sencer: Tidak

Sejak diunggah pada 22 Desember 2022, video ini disukai 1 pengguna Twitter, 1 retweet dan 109 kali tayang. Namun, benarkah swine flu atau flu babi adalah hoaks?

PEMERIKSAAN FAKTA

Percakapan David Judson Sencer itu adalah potongan video saat diwawancarai Mike Wallace yang disiarkan di program berita investigasi CBS-TV’s “60 Minutes” tentang Swine Flu pada hari Minggu, 4 November 1979. Video lengkapnya diputar ulang di channel YouTube The University pada 12 Maret 2022.

Wabah Swine Flu 1976 memang hanya terjadi di Amerika Serikat, belum sampai menyebar ke luar negeri itu. Namun itu bukan berarti wabah Flu Babi 1976 hoaks. 

Dikutip dari Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat, saat itu Departemen Kesehatan Negara Bagian New Jersey meminta CDC untuk mengidentifikasi penyakit yang menyebar di Pangkalan Angkatan Darat Fort Dix. Penyakit mirip influenza tersebut menginfeksi lebih dari 200 rekrutmen dan menyebabkan satu kematian. 

CDC kemudian menguji kultur tenggorokan yang dikirim dari pangkalan dan menemukan empat sampel virus yang diyakini pada saat itu adalah H1N1, patogen yang menyebabkan pandemi flu 1918-1919. H1N1, atau yang lebih umum dikenal, flu babi, adalah jenis yang biasa ditemukan pada babi.

Pada tahun 1918, virus bermutasi untuk menginfeksi manusia, menewaskan 500.000 orang di AS dan lebih dari 20 juta di seluruh dunia. Pengawasan di Fort Dix menunjukkan penularan dari manusia ke manusia, yang menunjukkan bahwa penyakit itu dapat menyebar dengan cepat di AS.

Ilmuwan CDC mengevaluasi kemungkinan pandemi H1N1 baru dan mempresentasikan informasi tersebut kepada Kongres AS. Hasilnya, Presiden AS Gerald Ford meminta dana kepada Kongres untuk memvaksinasi semua orang di Amerika Serikat. Program vaksinasi nasional mencatat telah memvaksinasi hampir 43 juta orang Amerika dalam periode 10 minggu pertama. Pejabat kesehatan masyarakat menghentikan program sebelum selesai sebagai imbas menurunnya kepercayaan publik atas vaksin. 

Menurut laporan BBC, menurunnya kepercayaan publik mula-mula disebabkan berita dari klinik vaksin di Pittsburgh tentang tiga kematian setelah vaksin. Meskipun tidak ada bukti kausal yang mengaitkan kematian ini dengan vaksin, namun hal itu memicu banyak orang untuk maju ke depan dan mengklaim bukti kesehatan yang buruk, dan secara keliru menyalahkan vaksin. Sembilan negara bagian menutup program vaksinasi mereka.

Tuntutan hukum, efek samping, dan liputan media yang negatif menyusul, dan peristiwa tersebut merusak kepercayaan pada kesehatan masyarakat selama bertahun-tahun yang akan datang. Apa yang terjadi bahkan mungkin telah meletakkan dasar-dasar untuk pandangan anti-vax yang salah dan ketidakpercayaan pada kesehatan masyarakat yang akan menyebar beberapa dekade kemudian.

Namun penelitian oleh St. Jude Children's Research Hospital menunjukkan bahwa imunisasi terhadap "flu babi" pada tahun 1976 mungkin memberikan perlindungan bagi individu terhadap virus influenza H1N1 pandemi 2009. 

Para peneliti menemukan bahwa individu yang dilaporkan menerima vaksin 1976 meningkatkan respons kekebalan terhadap virus pandemi H1N1 2009 dan jenis flu H1N1 berbeda yang beredar selama musim flu 2008-09. Hasil penelitian ini muncul dalam jurnal Clinical Infectious Diseases edisi online 23 April.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa meskipun kekebalan di antara mereka yang divaksinasi pada tahun 1976 telah agak berkurang, mereka memasang respons kekebalan yang jauh lebih kuat terhadap strain pandemi H1N1 saat ini daripada orang lain yang tidak menerima vaksin 1976," kata Jonathan A. McCullers, MD, anggota asosiasi dari Departemen Penyakit Menular St. Jude Children's Research Hospital. 

Flu Babi 2009 meluas ke total 74 negara dan puluhan ribu orang terinfeksi yang dikonfirmasi laboratorium. Lalu pada Juni 2009, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan bahwa virus ini dinyatakan sebagai pandemi dan baru berakhir Agustus 2010.

Pandemi flu babi pada 2009 menewaskan lebih dari 284.000 orang atau 15 kali lipat dari jumlah resmi korban jiwa yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Hasil penelitian yang dimuat dalam jurnal kedokteran Inggris The Lancet Infectious Diseases itu menyatakan jumlah sebenarnya kemungkinan mencapai 575.000 orang. Namun jumlah resmi yang dikumpulkan WHO mencapai 18.500 orang.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta, narasi bahwa Flu Babi atau Swine Flu 1976 sebagai hoaks adalah menyesatkan.

Saat itu terdapat 200 rekrutmen di Pangkalan Angkatan Darat Fort Dix terinfeksi virus yang menyebabkan penyakit seperti flu. CDC kemudian menguji kultur tenggorokan yang dikirim dari pangkalan dan menemukan empat sampel virus yang diyakini pada saat itu adalah H1N1, patogen yang menyebabkan pandemi flu 1918-1919. Namun, wabah Flu Babi 1976 hanya terjadi di Pangkalan Angkatan Darat Fort Dix, tidak meluas ke luar Negeri Paman Sam.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id