Menyesatkan, Larangan Konsumsi Empat Jenis Makanan Karena Sebabkan Kematian Mendadak

Rabu, 26 Oktober 2022 15:17 WIB

Menyesatkan, Larangan Konsumsi Empat Jenis Makanan Karena Sebabkan Kematian Mendadak

Sebuah akun media sosial Facebook membagikan video berisi narasi tentang larangan mengkonsumsi empat jenis makanan karena dapat menyebabkan kematian. 

Empat jenis makanan tersebut yakni biji buah, biji pala, ikan tuna dan singkong. 

Biji buah diklaim mengandung zat beracun hidrogen sianida. Biji pala diklaim membuat halusinasi. Ikan tuna disebut mengandung merkuri yang dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan merusak otak. Sedangkan singkong berbahaya jika dimakan secara mentah. 

Tangkapan layar unggahan reel video di Facebook dengan klaim 4 makanan ini bisa menyebabkan kematian mendadak

Unggahan pada 15 Oktober 2022 tersebut disukai 5,2 ribu kali dan telah dibagikan 1,5 ribu kali. Benarkah klaim tersebut?

PEMERIKSAAN FAKTA

Untuk memeriksa klaim tersebut, Tempo menggunakan rujukan dari sejumlah situs kredibel. Berikut fakta-faktanya:

Klaim 1: Biji buah seperti biji apel mengandung zat beracun hidrogen sianida

Fakta: Dikutip dari laman kesehatan Halodoc, keracunan sianida akibat konsumsi biji buah apel sangat jarang terjadi, terutama jika secara tidak sengaja menelannya. Biasanya di dalam satu buah apel, terdapat sekitar lima biji dan dalam jumlah kecil ia dapat didetoksifikasi oleh enzim di tubuh. 

Namun, biji buah apel bisa berbahaya dan menyebabkan keracunan sianida jika dikonsumsi dalam jumlah besar 200 biji atau sekitar 40 inti buah apel.

Sedangkan buah-buahan seperti buah ceri, persik, dan aprikot juga mengandung bahan kimia sianida. Dikutip dari artikel CNN Indonesia, sianida yang terkandung dalam buah ini berbeda dengan sianida hidrogen yang biasanya ditemukan dalam pestisida ataupun pelarut logam tersebut.

Klaim 2: Biji pala mengandung zat Myristicin

Fakta: Dikutip dari Viva, mengkonsumsi biji pala mentah meski dalam jumlah yang sedikit, dapat menimbulkan gejala halusinogen. Gejala ini membuat seseorang berhalusinasi. Tidak hanya itu, mengonsumsi lima gram biji pala mentah akan menyebabkan konvulsi atau kejang. 

Namun, lima gram bubuk biji pala dalam masakan tidak akan berdampak buruk, karena sudah melewati proses pengolahan. 

Klaim 3: Singkong mentah

Fakta: Salah satu jenis singkong mengandung racun mematikan seperti jenis Singkong Taun. Bagian yang beracun dari singkong ini adalah akar serabut, kulit, dan daun. Singkong Taun memiliki ciri daunnya lebih besar, lebar, dan memiliki bercak hijau kebiruan.

Klaim 4: Ikan tuna mengandung merkuri

Fakta: Dikutip dari situs kesehatan Alodokter, ikan tuna sebenarnya kaya akan nutrisi dan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Akan tetapi tidak disarankan untuk mengonsumsi ikan tuna berlebihan karena tuna termasuk salah satu ikan dengan kandungan merkuri yang tinggi. 

Namun ikan tuna masih tergolong aman selama dipilih dengan tepat dan dikonsumsi dengan bijak. Tidak semua ikan tuna memiliki kandungan merkuri yang tinggi. Besar tubuh dan jenis ikan tuna dapat mempengaruhi kadar kandungan merkuri yang ada di dalamnya.

Contohnya, ikan tuna putih atau albakora mengandung kadar merkuri yang lebih tinggi dibandingkan jenis tuna lainnya. Sementara itu, ikan tuna skipjack, atau yang dikenal juga dengan nama ikan cakalang, memiliki kadar merkuri yang cukup rendah.

Tak hanya itu, disarankan juga untuk mengkonsumsi ikan tuna sebanyak 2–3 porsi dalam seminggu atau sekitar 150–300 gram untuk orang dewasa dan 30–110 gram untuk anak-anak.

Pastikan ikan tuna telah dimasak hingga matang dan sebisa mungkin hindari mengkonsumsi ikan tuna yang masih mentah. 

KESIMPULAN

Dari hasil pemeriksaan fakta, klaim bahwa empat makanan di atas dapat menyebabkan kematian secara mendadak adalah menyesatkan.

Makanan tersebut berbahaya bila dikonsumsi secara berlebihan. Khusus untuk singkong, tidak semua jenis singkong mengandung racun berbahaya.

TIM CEK FAKTA TEMPO

** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email cekfakta@tempo.co.id