Sesat, Vaksin Covid-19 Tingkatkan Limfosit yang Mematikan bagi Manusia

Senin, 19 April 2021 18:24 WIB
 


 
Sesat, Vaksin Covid-19 Tingkatkan Limfosit yang Mematikan bagi Manusia

Klaim bahwa meningkatnya antibodi setelah vaksinasi disebut limfositosis beredar di Instagram. Limfositosis merupakan kondisi di mana jumlah sel darah putih jenis limfosit di dalam tubuh manusia berlebih. Menurut klaim itu, limfosit ini mematikan bagi manusia. Klaim tersebut beredar di tengah gelaran program vaksinasi Covid-19 di Indonesia sejak awal 2021 lalu.

Akun ini mengunggah klaim itu pada 16 April 2021. "Kenaikan antibodi setelah divaksin adalah limfositosis. Jika limfosit pembunuh sudah ada maka bye-bye dunia!" demikian narasi yang ditulis oleh akun tersebut. Hingga artikel ini dimuat, unggahan itu telah disukai lebih dari 600 kali dan mendapat puluhan komentar yang berisi penolakan terhadap vaksin Covid-19.

Gambar tangkapan layar unggahan di Instagram yang berisi klaim sesat terkait vaksin Covid-19 dan limfositosis.

PEMERIKSAAN FAKTA

Hasil verifikasi Tim CekFakta Tempo menunjukkan bahwa pemberian vaksin, termasuk vaksin Covid-19, memang menyebabkan limfositosis. Akan tetapi, naiknya kadar limfosit pasca vaksinasi berguna untuk membentuk antibodi yang justru bermanfaat untuk mencegah atau mengurangi keparahan akibat infeksi Covid-19.

Menurut pakar patologi klinis dari Universitas Sebelas Maret, Tonang Dwi Ardiyanto, jenis sel darah terbagi menjadi empat, yakni plasma darah, sel darah merah, sel darah putih (leukosit), dan trombosit. Sel darah putih terbagi menjadi dua, yakni neutrofill dan limfosit.

Neutrofill bertugas melawan semua bakteri atau virus penyebab penyakit. Sedangkan limfosit terbagi menjadi dua, yakni limfosit B dan limfosit T. Kedua limfosit ini berperan sebagai pembentuk sistem imun. Limfosit T berfungsi untuk mengenali dan menangkap benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Sementara limfosit B berguna untuk menghasilkan antibodi.

"Kalau ada virus baru masuk ke tubuh kita, seperti virus penyebab Covid-19 ini, yang akan maju untuk memusnahkan dulu adalah neutrofill. Dia tidak melalui pengenalan spesifik, begitu ada benda asing dia bertugas menghancurkan," kata Tonang saat dihubungi pada 19 April 2021.

Sementara saat diberi vaksin Covid-19, tubuh manusia akan merespons dengan memproduksi limfosit T dan limfosit B yang spesifik untuk mengenali dan membentuk antibodi Covid-19. Cara kerja sel darah putih memang berbeda antara ketika tubuh terinfeksi penyakit dengan saat tubuh menerima vaksin.

Pada tubuh yang belum mendapatkan vaksin, saat ada virus dan bakteri yang masuk, kadar sel darah putih akan meningkat karena neutrofill bertugas melawan benda asing tersebut. Dalam kondisi tertentu, virus dan bakteri akan menyebabkan sakit atau peradangan.

Sedangkan saat tubuh menerima vaksin, sel darah putih juga meningkat karena membentuk kekebalan tubuh (antibodi). Akan tetapi, peningkatan jumlah sel darah putih pada tubuh yang menerima vaksin lebih rendah dibandingkan saat melawan virus atau bakteri dalam tubuh.

"Vaksin itu dosisnya sudah terukur dan tidak menimbulkan lonjakan limfosit yang tinggi," kata Tonang. Dia juga menambahkan bahwa tidak ada limfosit pembunuh yang berbahaya bagi manusia, karena sel tersebut menjadi bagian dari sistem imun tubuh manusia.

Menurut Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI), Hindra Irawan Satari, usai vaksinasi Covid-19 digelar di Inggris, Amerika Serikat, serta Israel, terlihat adanya penurunan angka kasus dan angka kematian Covid-19 di ketiga negara tersebut.

Dikutip dari Liputan6.com, menurut analisis Public Health England (PHE), percepatan vaksinasi Covid-19 di Inggris menggunakan vaksin Covid-19 Pfizer dapat mencegah 10 ribu lebih kematian orang-orang yang berusia di atas 60 tahun hingga akhir Maret 2021.

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa vaksin Covid-19 meningkatkan sel darah putih jenis limfosit yang mematikan bagi manusia, menyesatkan. Vaksin, termasuk vaksin Covid-19, memang dapat meningkatkan kadar limfosit di dalam tubuh manusia. Namun, hal tersebut justru berguna untuk membentuk antibodi yang bermanfaat untuk mencegah atau mengurangi keparahan akibat infeksi Covid-19.

TIM CEK FAKTA TEMPO

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id


 


  •  

    Selengkapnya