[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tusuk 10 Jari dengan Jarum adalah Pertolongan Pertama Stroke?

Selasa, 3 November 2020 19:06 WIB
 
[Fakta atau Hoaks] Benarkah Tusuk 10 Jari dengan Jarum adalah Pertolongan Pertama Stroke?

Pesan berantai yang berisi klaim bahwa menusuk 10 jari dengan jarum adalah salah satu metode pertolongan pertama untuk penyakit stroke beredar di Facebook. Metode ini disebut sebagai metode “pelepasan darah”. Metode itu berupa menusuk 10 jari dengan jarum, bisa jarum suntik, jarum jahit, atau jarum pentul, ke 10 ujung jari hingga berdarah. Setelah darah keluar, seseorang yang terkena stroke akan sadar kembali.

“Di tempat kejadian, topanglah si penderita supaya dalam posisi duduk, agar tidak terjatuh lagi. Setelah posisi duduk, kini saatnya untuk melepaskan darah. Bila di rumah ada jarum suntik, itu paling baik. Bila tidak ada, pakailah jarum jahit atau jarum pentul. Namun sebelumnya jarum harus disterilkan dengan cara dibakar api sejenak (pakai korek api, kompor). Kemudian tusuklah kesepuluh ujung jari di kedua tangan agar berdarah. Bila darah tidak keluar, bisa dipencet atau dipijit, hingga kesepuluh jari itu meneteskan darah ("setiap jari setetes"). Beberapa menit kemudian, si penderita dengan sendirinya akan sadar kembali,” demikian narasi dalam pesan berantai itu. 

Salah satu akun yang membagikan pesan berantai tersebut adalah akun Rini Haerani, tepatnya pada 26 Oktober 2020. Hingga artikel ini dimuat, unggahan tersebut telah mendapatkan 71 reaksi dan dibagikan sebanyak 144 kali.

Gambar tangkapan layar unggahan akun Facebook Rini Haerani.

Apa benar menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke?

PEMERIKSAAN FAKTA 

Untuk memeriksa klaim itu, Tim CekFakta Tempo menelusuri informasi terkait dengan memasukkan kata kunci “pertolongan pertama pelepasan darah bagi penderita stroke” dan “menusuk 10 jari dengan jarum untuk stroke” di mesin pencari Google. Hasilnya, ditemukan informasi bahwa pesan berantai serupa telah beredar setidaknya sejak 2013. Namun, menurut berbagai pemberitaan media yang mengutip para ahli, isi pesan berantai itu keliru.

Dikutip dari berita di Detik.com pada 18 Maret 2013, dokter spesialis saraf dari Universitas Indonesia, Ahmad Yanuar, menepis kebenaran pesan berantai yang menyebut “menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke” tersebut. “Sejauh ini, tidak ada penelitian seperti itu, tidak diketahui efektif atau tidaknya tindakan tersebut,” kata Ahmad. Satu-satunya tindakan yang harus segera dilakukan adalah membawa penderita ke rumah sakit, sehingga bisa diberi tindakan reperfusi. “Sekitar 3-6 jam setelah kejadian, pasien harus segera dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan tindakan medis,” ujarnya. 

Pernyataan ini diperkuat oleh penjelasan dokter spesialis saraf lainnya, Fritz Sumantri. “Yang harus digarisbawahi, kedokteran berangkat dari penelitian dan uji coba. Sampai saat ini, ilmu kedokteran tidak mengenal cara seperti itu (menusuk 10 jari dengan jarum), sehingga kita juga tidak tahu efektivitasnya,” kata Fritz.

Dilansir dari situs kesehatan Klikdokter.com, menurut artikel oleh dokter spesialis penyakit dalam Alvin Nursalim pada 2 Maret 2015, informasi soal pertolongan pertama stroke dengan menusukkan jarum di ujung jari penderita tidak benar. Stroke adalah gangguan pada pembuluh darah otak. Gangguan ini dapat berupa tersumbat atau pecahnya pembuluh darah. Stroke perlu ditangani dengan segera, karena waktu awal terjadinya stroke merupakan waktu yang menentukan terapi selanjutnya.

Menurut Alvin, penanganan awal stroke bukan dengan mengeluarkan darah dari ujung jari. “Mengeluarkan darah dari ujung jari tidak memiliki manfaat dalam penyembuhan pasien stroke,” katanya. Bahkan, jika jarum yang digunakan tidak bersih, penderita stroke dapat mengalami infeksi akibat tusukan tersebut.

Alvin pun menjelaskan penanganan awal stroke yang tepat, yakni menjaga patensi jalan napas dan kestabilan sirkulasi darah pasien. “Jika pasien tidak sadar, baringkan pada tempat yang aman, posisikan pasien dengan tubuh menghadap ke samping kiri untuk mencegah masuknya cairan ke saluran pernapasan, lalu segera panggil pertolongan untuk membawa pasien ke unit gawat darurat terdekat,” kata Alvin.

Penjelasan yang sama pun diberikan oleh dokter spesialis saraf dari Fakultas Kedokteran Unika Atma Jaya, Yuda Turana, seperti yang dimuat oleh Tempo pada 23 Februari 2018. Menurut dia, klaim bahwa “menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke” keliru. “Tidak benar. Justru, respons nyeri akibat tusukan jarum dapat meningkatkan tekanan darah yang berisiko memperburuk strokenya,” ujar Yuda.

Penegasan bahwa metode ini tak tepat juga diungkapkan oleh dokter spesialis jantung dari Rumah Sakit Harapan Kita, Dicky Armein Hanafy. Dia bahkan mengatakan cara ini tidak berguna sama sekali. "Tidak ada gunanya sama sekali. Ada risiko infeksi, apalagi kalau jarumnya tidak steril atau bersih," katanya. Ketimbang memberikan pertolongan pertama di rumah, kedua dokter ini menyarankan untuk segera melarikan penderita ke rumah sakit agar segera mendapatkan pertolongan. "Keluarga harus langsung bawa ke rumah sakit," ujar Yuda.

Dikutip dari situs kesehatan Alodokter.com, dalam bagian “Tanya Dokter”, dokter Saphira Evani menyatakan bahwa pertolongan pertama bagi penderita stroke adalah membawanya ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) terdekat. “Menusuk ke-10 jari pasien dengan jarum tidak bisa menghentikan proses terjadinya stroke,” ujarnya. Dia menambahkan, “Belum ada satu pun jurnal medis yang dapat membuktikan manfaat dari tindakan tersebut. Dengan menusuk jari, Anda telah membuang waktu untuk mencari jarum, menusukkannya ke penderita, yang mana seharusnya lebih bijak dipergunakan untuk membawa penderita ke rumah sakit terdekat.” 

KESIMPULAN

Berdasarkan pemeriksaan fakta Tempo, klaim bahwa “menusuk 10 jari dengan jarum adalah pertolongan pertama stroke” keliru. Para dokter spesialis saraf dan jantung telah menyatakan bahwa menusuk 10 jari dengan jarum bukanlah cara yang tepat untuk menangani seseorang yang terkena stroke. Bahkan, tindakan itu bisa berbahaya, menyebabkan infeksi jika jarum yang digunakan tidak steril. Penanganan pertama stroke adalah menjaga patensi jalan napas dan kestabilan sirkulasi darah penderita. Jika tidak sadar, penderita dibaringkan di tempat yang aman, dan tubuhnya diposisikan menghadap ke samping kiri untuk mencegah masuknya cairan ke saluran pernapasan. Lalu, segera panggil pertolongan untuk membawa pasien ke unit gawat darurat terdekat.

SITI AISAH

Anda punya data/informasi berbeda, kritik, atau masukan untuk artikel cek fakta ini? Kirimkan ke cekfakta@tempo.co.id



  •  

    Selengkapnya